MEMBENTUK SARJANA UNGGULAN STIE KH Dr. EZ MUTAQIEN

Iimu dan hikmah; dua istilah ini memiliki terminologi masing-masing. Sederhanya, ilmu adalah seperangkat pengetahuan yang dipelajari secara sistematis, bermetodologis, rasional, dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademis. Sedangkan hikmah adalah bagaimana bersikap terhadap ilmu yang telah dipelajari.

Ilmu menamkan akal dalam jiwa sesuai dengan bidangnya. Sementara hikmah adalah rasa yang mendalam ketika memahami ilmu, serta sikap dalam menggunakan ilmu untuk menyelesaikan problem-problem yang dihadapi manusia. sehingga, keberadaan ilmu dapat mengambil hikmah atas peristiwa-peristiwa.

Sidang Yudisium kali ini merupakan moment yang sangat berharga bagi wisudawan dan wisudawati angkatan XIII tahun 2023, selain banyak hikmah, pelajaran hidup dan ilmu yang dapat dipetik sebagai bekal untuk menjalani fase kehidupan selanjutnya sebagai penyandang gelar Sarjana Manajemen dan Akuntansi.

Sidang Yudisium kali ini juga terasa spesial karena dihadiri langsung oleh : Ketua STIE DR. KHEZ. MUTTAQIEN (Dr. H. Suherman Saleh Ak., M.Sc., CA), Ketua Senat STIE DR. KHEZ. MUTTAQIEN, Dr. Reza Saleh SE., M.Ak., MH.Ak., CA, Wakil Ketua I Bidang Akademik STIE DR. KHEZ. MUTTAQIEN, Dr. Iman Sidiq Nusannas, SS., ME.

Banyak ilmu dan hikmah yang dapat kita petik dari pemaparan pimpinan STIE DR. KHEZ. MUTTAQIEN.  Dr. H. Suherman Saleh Ak., M.Sc., CA, bahwa manusia yang berhasil adalah manusia yang memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial. Ada tiga point penting harus dimiliki untuk mencapai tingkat kecerdasan tersebut, diantaranya; pertama, harus mencintai Ilmu (Terus belajar). Kedua, harus bisa menjadi orang yang di percaya (jujur). Ketiga, harus membangun networking (silaturahmi).

Dr. Reza Saleh SE., M.Ak., MH.Ak., CA, mengemukakan bahwa sarjana bukan hanya sekedar gelar, tetapi tetapi juga bermakna tanggung jawab yang mesti kita emban dan membedakan kita dengan orang lain di luar sana. Di sini, terdapat empat hal yang menjadi tanggung jawab kita sebagai sarjana. Pertama, tanggung jawab kepada diri sendiri dan orangtua. Kedua, tanggung jawab kepada agama. Ketiga, tanggung jawab sosial. Keempat, tanggung jawab untuk dapat memecahkan masalah dengan metode akademis.



Dr. Iman Sidiq Nusannas, SS., ME, menjelaskan bahwa manusia boleh salah, dan  dalam melakukan penelitian wajar jika ada kekeliruan dan kesalahan masih bisa diperbaiki, akan tetapi kita tidak boleh menipu dan berbohong. Bohong membuktikan bahwa ilmu yang sudah diperoleh tidak membawa hikmah bagi pemiliknya.

Belakangan ini beredar informasi dari salah satu pejabat penting di negeri ini, menyatakan bahwa hampir mencapai angka 90 persen koruptor di Indonesia berasal dari Perguruan Tinggi. Padahal tidak satu pun lembaga pendidikan di negeri ini mengajarkan bagaimana caranya korupsi. Munculnya prilaku korupsi disaat seseorang masuk dunia kerja. Ini, semua terjadi karena ilmu yang dipelajari di lembaga pendidikan tidak membawa hikmah bagi pemiliknya.

Dari mana rumusnya lembaga pendidikan mengajarkan sesuatu yang tidak berguna bagi generasi bangsa. Lembaga pendidikan di level mana pun; baik lembaga pendidikan formal, maupun non-formal, lebih-lebih lagi lembaga pendidikan agama. Di lembaga level mana pun; mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi visi misinya adalah membangun generasi yang baik lagi bermanfaat. Berjalannya keburukan atas birokrasi bangsa ini ketika masuk dunia kerja. Lalu, sangatlah keliru lembaga pendidikan disalahkan.

Mahasiswa adalah subjek utama dalam proses pembejaran di Perguruan Tinggi. Nasehat dan bimbingan saat kuliah dan menimba ilmu selama jadi mahasiswa sangatlah bermanfaat. Harapannya dengan gelar yang diperoleh menjadi berkah bagi diri, keluarga, masyarakat, agama, dan negara. Hanya doa yang dapat mengiringi  atas proses selanjutnya setelah ilmu dipraktekkan di masyarakat. Tentunya dengan tujuan agar senantiasa menjadi pribadi yang mencintai ilmu, jujur, bertanggung jawab dan gemar bersilaturahmi.

Purwakarta, 18 Juni 2023



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama