Postingan

Berhala Kekuasaan: Syirik Politik Cerminan Penyakit Sosial

Gambar
Fenomena berhala dalam sejarah manusia bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin yang terus berulang dalam berbagai bentuk hingga zaman modern. Pada masa jahiliyah, berhala hadir sebagai simbol sesembahan yang menjerumuskan manusia ke dalam syirik tauhid, sementara dalam konteks politik kontemporer, berhala menjelma dalam bentuk kekuasaan, materialisme, dan fanatisme terhadap tokoh. Kedua bentuk penghambaan ini sama-sama mengalihkan orientasi manusia dari Allah kepada sesuatu yang fana, sehingga melahirkan kemunduran spiritual sekaligus kemunduran berpikir. Oleh karena itu, memahami berhala sebagai penyakit spiritual dan sosial menjadi penting agar politik tidak kehilangan ruh tauhid, melainkan kembali berfungsi sebagai amanah ilahi untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan. Pada masa jahiliyah, berhala diciptakan sebagai sesembahan yang dianggap mampu memberi perlindungan dan keberkahan. Batu, kayu, dan patung yang tak bernyawa dijadikan simbol kekuatan, padahal hakikatnya...

Politik Manok Toh Boh: Retorika Berisik Tanpa Substansi

Gambar
  Bila diri ingin dipandang, jauhi kata tinggi melambung, jauhi sifat ayam dikandang, bertelur satu ribut sekampung. Bila diri ingin dikenang semailah benih di tengah sawah, bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi makin tunduk ke bawah. Menyoroti pepatah tradisional tentang ayam dan padi sebagai refleksi politik. Politik berisik tanpa substansi, diibaratkan ayam bertelur satu ribut sekampung, hanya melahirkan pencitraan dan kemiskinan rakyat. Sebaliknya, politik ideal seperti padi semakin berisi semakin menunduk, menekankan kerendahan hati, integritas, dan kerja nyata. Analisis menunjukkan bahwa kebijakan produktif, seperti padat karya, memperkuat kesejahteraan dan legitimasi. Pepatah lokal ini menjadi pedoman universal etika kepemimpinan dan arah kebijakan publik yang berorientasi pada rakyat. Politik berisik cenderung melahirkan subordinasi, patronase, dan penyalahgunaan anggaran publik, sehingga memperburuk kemiskinan dan ketidakpercayaan masyarakat. Sementara itu, politi...

Politik Babi Ngepet: Metafora Kritik terhadap Kekuasaan

Gambar
Cerita dalam film Babi Ngepet bukan sekadar hiburan mistis, melainkan cermin dari kegelisahan manusia yang terhimpit oleh kemiskinan dan keinginan untuk melawan keterbatasan hidup. Jalan pintas yang ditempuh melalui dukun sakti menggambarkan betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan godaan kekayaan instan. Di balik cerita ini, tersimpan pertanyaan mendasar, apakah manusia rela menukar martabat dan nilai-nilai luhur demi harta yang diperoleh tanpa jerih payah. Kata sang dukun “saya baru menurunkan ilmu ngepet kepada mu jika kamu mematuhi tiga aturan. Pertama, setelah jadi babi jangan mengambil hak orang miskin. Kedua, jangan serakah. Ketiga, rela mengorbankan sesuatu yang sangat engkau sayangi. Dukun, yang dalam pandangan masyarakat sering dicap sebagai sosok gelap dan penuh tipu daya, justru menghadirkan syarat-syarat yang sarat nilai moral. Ia menegaskan bahwa ilmu babi ngepet tidak boleh digunakan untuk merampas hak orang miskin, tidak boleh dijalankan dengan keserakahan, dan ...

Ilusi Kognitif: Strategi Politik Memanipulasi Persepsi Publik

Gambar
  Ilusi kognitif dalam politik anggaran merupakan strategi manipulasi persepsi publik yang menegaskan bagaimana bias penalaran dimanfaatkan untuk menutup kelemahan kebijakan dan membungkus pemborosan sebagai keberhasilan; melalui retorika spektakuler, proyek fisik megah, serta perjalanan dinas yang diklaim produktif, elite politik menciptakan jarak dengan rakyat dan mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendasar seperti pendidikan, kesehatan, dan akses ekonomi, sehingga aspirasi masyarakat bawah yang seharusnya menjadi fondasi moral kebijakan justru terpinggirkan. Karena itu, kesadaran kritis diperlukan agar anggaran benar-benar berfungsi sebagai instrumen kesejahteraan, bukan sekadar alat pencitraan birokratis. Ilusi kognitif merupakan fenomena psikologis ketika otak manusia salah menafsirkan informasi yang diterima, sehingga menghasilkan persepsi yang menyimpang dari kenyataan. Dalam konteks ini, ilusi kognitif bukan sekadar kesalahan persepsi visual, melainkan juga kesalahan dala...

Trustless dan Suspicious: Wajah Curiga Mengawal Kekuasaan Sala-Waloi

Gambar
Kecurigaan sebagai modal etis dalam menghadapi kekuasaan yang Sala-Waloi/carut-marut. Dalam konteks pemerintahan yang mengalami disorientasi moral dan institusional; dalam istilah lokal disebut sala-waloi. Di sini, rakyat tidak hanya dituntut untuk bersikap tidak percaya ( trustless ), tetapi juga dituntut mengembangkan sikap curiga ( suspicious ) terhadap kekuasaan. Ketika kepercayaan publik dikhianati secara sistematis, ketidakpercayaan menjadi bentuk pertahanan diri kolektif. Namun, ketidakpercayaan saja tidak cukup. Ia harus disertai dengan kesadaran kritis yang aktif mencurigai motif di balik setiap kebijakan dan tindakan kekuasaan. Sikap tidak percaya dan curiga bukanlah bentuk permusuhan, melainkan ekspresi dari cinta yang dikhianati. Rakyat mencurigai bukan karena benci, tetapi karena pernah percaya. Konteks ini, trustless dan suspicious menjadi bentuk pengawasan non-legalitas yang justru lebih efektif dalam membentuk opini publik dan menekan kekuasaan agar kembali pada jalur...

Leader Prophetik: Bukanlah Biografi Epik dari Ilusi Kekuasaan Manipulatif

Gambar
Mengkaji konsep kepemimpinan prophetik dengan menelusuri nilai-nilai kenabian yang diwariskan Nabi Muhammad Saw, khususnya empat sifat utama; shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Kepemimpinan Nabi tidak dibangun atas dasar dramatisasi asal-usul atau penderitaan masa lalu, melainkan pada integritas dan tanggung jawab moral. Terjadinya paradoks kepemimpinan di mana narasi “dari kalangan bawah” sering dimanfaatkan sebagai alat legitimasi, namun berujung pada praktik kekuasaan yang kontraproduktif dan manipulatif. Menyoroti fenomena logika terbalik dalam politik lokal, di mana pengakuan sebagai “orang susah” justru menjadi strategi untuk meraih kemewahan. Dengan mengangkat metafora siluman dan sepatu kaca, tulisan ini mengajak pembaca untuk membedakan antara panggung pencitraan dan kepemimpinan sejati yang berakar pada nilai-nilai kenabian. Kesadaran kolektif dan keberanian moral menjadi kunci untuk mengembalikan ruh kepemimpinan sebagai amanah, bukan ambisi. Meniru kepemimpinan Nabi bu...

Paradoks Cinta: Menimbang Ulang Ketiadaan Sifat Cinta dalam Asmaul Husna

Gambar
Sifat mencintai dalam diri manusia melahirkan tiga malapetaka; mencemburui, memarahi, lalu membenci. Cinta sering dipuja sebagai kekuatan agung yang menyatukan manusia, melahirkan kebahagiaan, dan menjadi fondasi relasi sosial.  Namun, dalam kenyataannya, cinta juga dapat menjadi sumber luka terdalam, penderitaan batin, dan bahkan kehancuran eksistensial. Fenomena ini, realitas yang dapat dianalisis secara ilmiah dan filosofis. “Cinta membunuh jiwa manusia” bukanlah hiperbola, melainkan refleksi dari kehilangan nilai, arah, dan kesadaran. Filsafat memandang cinta sebagai pengalaman eksistensial yang kompleks. Para filsuf besar telah mengungkap sisi gelap cinta. Soren Kierkegaard, menyatakan bahwa cinta yang tidak diarahkan kepada yang transenden akan berujung pada keputusasaan. Cinta yang terlalu terikat pada dunia fana menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan eksistensial. Friedrich Nietzsche, melihat cinta sebagai ekspresi kehendak untuk berkuasa. Cinta yang posesif adalah...