Postingan

Puasa dalam Dimensi Spiritual, Sosial, dan Politik

Gambar
Puasa merupakan salah satu ibadah pokok dalam Islam yang memiliki dimensi spiritual, moral, dan sosial. Ia tidak hanya menuntut manusia untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengajarkan pengendalian hawa nafsu serta kesadaran akan batasan yang ditetapkan syariat. Dengan demikian, puasa menjadi sarana pembinaan diri yang menyatukan aspek lahiriah dan batiniah, sehingga ibadah ini memiliki kedalaman makna yang melampaui sekadar ritual. Selain dimensi individual, puasa juga memiliki relevansi sosial yang kuat. Rasa lapar dan dahaga yang dialami seseorang membuka ruang empati terhadap penderitaan orang lain, menumbuhkan solidaritas, serta memperkuat kepedulian sosial. Nilai-nilai ini menjadikan puasa sebagai ibadah yang tidak hanya membentuk pribadi yang taat, tetapi juga pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan kata lain, puasa adalah pendidikan moral yang menuntun manusia untuk lebih peka terhadap sesama. Lebih jauh lagi, puasa dapat dijadikan metafora dalam ber...

Berhala Politik: Pengkhianatan terhadap Tauhid Sosial

Gambar
Fenomena berhala; baik dalam bentuk tradisional maupun politik, merupakan cerminan dari kecenderungan manusia yang mudah terjebak dalam simbol-simbol palsu yang dianggap sakral. Pada masa jahiliyah, berhala dipahat dari batu atau kayu lalu dipuja seolah-olah memiliki kekuatan, padahal tidak memiliki daya apa pun. Berhala politik hadir sebagai kekuasaan yang dipuja, dipertahankan, dan dijadikan pusat penghambaan, meski tidak membawa kesejahteraan nyata bagi rakyat. Tauhid menegaskan bahwa hanya Tuhan yang layak disembah, bukan simbol buatan manusia, termasuk kekuasaan yang dimanipulasi demi kepentingan segelintir elit. Kritik terhadap berhala politik bukan sekadar kritik sosial, melainkan juga seruan spiritual untuk mengembalikan orientasi kekuasaan kepada tujuan sejatinya: menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi umat. Pada masa jahiliyah, berhala hanyalah benda buatan manusia yang kemudian dijadikan sesembahan. Mereka dipahat dari batu, kayu, atau logam, lalu diberi nama tertent...

Berhala Kekuasaan: Syirik Politik Cerminan Penyakit Sosial

Gambar
Fenomena berhala dalam sejarah manusia bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin yang terus berulang dalam berbagai bentuk hingga zaman modern. Pada masa jahiliyah, berhala hadir sebagai simbol sesembahan yang menjerumuskan manusia ke dalam syirik tauhid, sementara dalam konteks politik kontemporer, berhala menjelma dalam bentuk kekuasaan, materialisme, dan fanatisme terhadap tokoh. Kedua bentuk penghambaan ini sama-sama mengalihkan orientasi manusia dari Allah kepada sesuatu yang fana, sehingga melahirkan kemunduran spiritual sekaligus kemunduran berpikir. Oleh karena itu, memahami berhala sebagai penyakit spiritual dan sosial menjadi penting agar politik tidak kehilangan ruh tauhid, melainkan kembali berfungsi sebagai amanah ilahi untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan. Pada masa jahiliyah, berhala diciptakan sebagai sesembahan yang dianggap mampu memberi perlindungan dan keberkahan. Batu, kayu, dan patung yang tak bernyawa dijadikan simbol kekuatan, padahal hakikatnya...

Politik Manok Toh Boh: Retorika Berisik Tanpa Substansi

Gambar
  Bila diri ingin dipandang, jauhi kata tinggi melambung, jauhi sifat ayam dikandang, bertelur satu ribut sekampung. Bila diri ingin dikenang semailah benih di tengah sawah, bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi makin tunduk ke bawah. Menyoroti pepatah tradisional tentang ayam dan padi sebagai refleksi politik. Politik berisik tanpa substansi, diibaratkan ayam bertelur satu ribut sekampung, hanya melahirkan pencitraan dan kemiskinan rakyat. Sebaliknya, politik ideal seperti padi semakin berisi semakin menunduk, menekankan kerendahan hati, integritas, dan kerja nyata. Analisis menunjukkan bahwa kebijakan produktif, seperti padat karya, memperkuat kesejahteraan dan legitimasi. Pepatah lokal ini menjadi pedoman universal etika kepemimpinan dan arah kebijakan publik yang berorientasi pada rakyat. Politik berisik cenderung melahirkan subordinasi, patronase, dan penyalahgunaan anggaran publik, sehingga memperburuk kemiskinan dan ketidakpercayaan masyarakat. Sementara itu, politi...

Politik Babi Ngepet: Metafora Kritik terhadap Kekuasaan

Gambar
Cerita dalam film Babi Ngepet bukan sekadar hiburan mistis, melainkan cermin dari kegelisahan manusia yang terhimpit oleh kemiskinan dan keinginan untuk melawan keterbatasan hidup. Jalan pintas yang ditempuh melalui dukun sakti menggambarkan betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan godaan kekayaan instan. Di balik cerita ini, tersimpan pertanyaan mendasar, apakah manusia rela menukar martabat dan nilai-nilai luhur demi harta yang diperoleh tanpa jerih payah. Kata sang dukun “saya baru menurunkan ilmu ngepet kepada mu jika kamu mematuhi tiga aturan. Pertama, setelah jadi babi jangan mengambil hak orang miskin. Kedua, jangan serakah. Ketiga, rela mengorbankan sesuatu yang sangat engkau sayangi. Dukun, yang dalam pandangan masyarakat sering dicap sebagai sosok gelap dan penuh tipu daya, justru menghadirkan syarat-syarat yang sarat nilai moral. Ia menegaskan bahwa ilmu babi ngepet tidak boleh digunakan untuk merampas hak orang miskin, tidak boleh dijalankan dengan keserakahan, dan ...

Ilusi Kognitif: Strategi Politik Memanipulasi Persepsi Publik

Gambar
  Ilusi kognitif dalam politik anggaran merupakan strategi manipulasi persepsi publik yang menegaskan bagaimana bias penalaran dimanfaatkan untuk menutup kelemahan kebijakan dan membungkus pemborosan sebagai keberhasilan; melalui retorika spektakuler, proyek fisik megah, serta perjalanan dinas yang diklaim produktif, elite politik menciptakan jarak dengan rakyat dan mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendasar seperti pendidikan, kesehatan, dan akses ekonomi, sehingga aspirasi masyarakat bawah yang seharusnya menjadi fondasi moral kebijakan justru terpinggirkan. Karena itu, kesadaran kritis diperlukan agar anggaran benar-benar berfungsi sebagai instrumen kesejahteraan, bukan sekadar alat pencitraan birokratis. Ilusi kognitif merupakan fenomena psikologis ketika otak manusia salah menafsirkan informasi yang diterima, sehingga menghasilkan persepsi yang menyimpang dari kenyataan. Dalam konteks ini, ilusi kognitif bukan sekadar kesalahan persepsi visual, melainkan juga kesalahan dala...