Berhala Kekuasaan: Syirik Politik Cerminan Penyakit Sosial
Kedua bentuk penghambaan ini sama-sama mengalihkan
orientasi manusia dari Allah kepada sesuatu yang fana, sehingga melahirkan
kemunduran spiritual sekaligus kemunduran berpikir. Oleh karena itu, memahami
berhala sebagai penyakit spiritual dan sosial menjadi penting agar politik
tidak kehilangan ruh tauhid, melainkan kembali berfungsi sebagai amanah ilahi
untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan.
Pada masa jahiliyah, berhala diciptakan sebagai sesembahan
yang dianggap mampu memberi perlindungan dan keberkahan. Batu, kayu, dan patung
yang tak bernyawa dijadikan simbol kekuatan, padahal hakikatnya hanyalah
ciptaan manusia. Fenomena ini menunjukkan betapa manusia mudah terjebak dalam
ilusi kekuasaan yang palsu. Memuja berhala berarti menghambakan diri pada
sesuatu selain Tuhan. Ia adalah bentuk pengalihan orientasi spiritual dari Yang
Maha Esa kepada objek fana. Dalam perspektif politik, hal ini sama dengan
tunduk pada kekuasaan yang tidak berlandaskan nilai ilahi, melainkan pada
kepentingan duniawi semata.
Nama-nama berhala zaman jahiliyah seperti Lata, Uzza, dan
Manat menjadi simbol bagaimana masyarakat kala itu kehilangan arah spiritual.
Mereka menaruh harapan pada benda mati, sementara hati mereka jauh dari
kesadaran tauhid. Berhala bukan sekadar patung, melainkan representasi dari
keterasingan manusia dari Tuhan. Berhala adalah penyakit spiritual sekaligus
sosial. Ia merusak akidah, menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, dan pada
saat yang sama melahirkan ketidakadilan sosial. Ketika masyarakat tunduk pada
berhala, mereka kehilangan orientasi moral, sehingga struktur sosial pun rapuh
dan penuh dengan penindasan.
Kehadiran Nabi Muhammad membawa pesan tauhid yang
memurnikan akidah. Beliau hadir untuk menghancurkan berhala, bukan hanya secara
fisik, tetapi juga secara ideologis. Tauhid menjadi fondasi yang membebaskan
manusia dari penghambaan kepada selain Allah, sekaligus membangun tatanan
sosial yang adil.
Fase kenabian adalah fase orientasi ketuhanan; dari
menyembah berhala menuju orientasi tauhid. Perubahan ini bukan sekadar ritual,
melainkan revolusi spiritual dan politik. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah
yang layak disembah, dan hanya kepada-Nya manusia harus tunduk. Dengan
demikian, politik pun diarahkan untuk menegakkan keadilan sebagai amanah ilahi.
Namun, berhala tidak pernah benar-benar hilang. Dalam bentuk modern, ia hadir
kembali sebagai kekuasaan yang diagungkan, materialisme yang dipuja, dan
keinginan manusia untuk disanjung. Berhala modern tidak lagi berupa patung,
melainkan ideologi dan sistem yang menjerat manusia dalam penghambaan baru.
Kekuasaan yang dijadikan berhala melahirkan tirani.
Materialisme yang dipuja melahirkan keserakahan. Keinginan untuk diagungkan
melahirkan egoisme sosial. Semua ini adalah wajah baru dari berhala yang
sama-sama menjauhkan manusia dari tauhid. Politik yang kehilangan spiritualitas
akan mudah terjebak dalam berhala modern ini. Politik spiritual menuntut kita
untuk kembali kepada pesan tauhid; menolak segala bentuk penghambaan selain
kepada Allah. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan hanyalah amanah, bukan berhala.
Kekayaan hanyalah titipan, bukan tujuan. Penghormatan hanyalah konsekuensi dari
akhlak, bukan sesuatu yang harus dipaksakan.
Perjuangan melawan berhala modern adalah perjuangan
spiritual sekaligus politik. Ia menuntut keberanian untuk menolak tirani,
keserakahan, dan egoisme. Politik tauhid adalah politik yang membebaskan
manusia dari segala bentuk penghambaan palsu, mengarahkan mereka kembali kepada
Tuhan, dan membangun peradaban yang adil serta bermartabat. Berhala kekuasaan
hadir dari berbagai level kehidupan politik, mulai dari lingkaran elit hingga
ruang publik yang dipenuhi oleh pendukung fanatik. Ia bukan lagi patung batu
atau kayu, melainkan simbol kekuasaan yang diagungkan tanpa kritis. Dalam
bentuk ini, berhala kekuasaan menjadi wajah baru dari penghambaan manusia
terhadap sesuatu selain Tuhan.
Para penyembah berhala kekuasaan sering kali datang dari
kalangan pendukung dan penggemar politik yang membela tokoh idola mereka tanpa
mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran. Fanatisme ini melahirkan loyalitas
buta, di mana pemimpin dipuja bukan karena kebijaksanaannya, melainkan karena
citra dan kekuasaan yang melekat padanya. Fase berhala modern membalikkan
orientasi spiritual; dari menyembah Tuhan menuju menyembah idola politik.
Orientasi ini menggeser pusat pengabdian manusia, sehingga politik kehilangan
makna sebagai amanah ilahi. Kekuasaan dijadikan tujuan, bukan sarana untuk
menegakkan keadilan dan kesejahteraan.
Dalam praktik politik, perilaku buruk semakin tampak ketika
orang-orang lebih fokus memberhalakan kekuasaan daripada memahami program kerja
yang sesungguhnya. Diskursus publik pun bergeser dari substansi menuju kultus
individu. Akibatnya, kesejahteraan rakyat terabaikan, sementara energi sosial
dihabiskan untuk mempertahankan simbol kekuasaan. Membela kekuasaan tanpa
kritis sama dengan menjadikan pelakunya sebagai berhala baru. Pemimpin diposisikan
seolah-olah tak bisa salah, padahal manusia tetaplah manusia dengan segala
keterbatasannya. Ketika tokoh politik dipuja berlebihan, masyarakat kehilangan
daya kritis dan mudah terjebak dalam tirani yang terselubung.
Berhala kekuasaan ini adalah penyakit spiritual sekaligus
sosial. Ia merusak akidah dengan mengalihkan penghambaan dari Tuhan kepada
manusia, dan merusak tatanan sosial dengan melahirkan ketidakadilan. Politik
yang seharusnya menjadi ruang pelayanan berubah menjadi arena pengagungan individu.
Spiritualitas tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak disembah, bukan
kekuasaan, bukan materi, dan bukan manusia. Politik yang berlandaskan tauhid
menolak segala bentuk penghambaan palsu, termasuk fanatisme terhadap tokoh. Ia
mengembalikan orientasi politik kepada nilai ilahi; keadilan, kesejahteraan,
dan persaudaraan.
Berhala modern dalam politik harus dihadapi dengan
keberanian spiritual. Masyarakat perlu menolak fanatisme buta dan kembali
menilai pemimpin berdasarkan akhlak, kebijakan, dan komitmen terhadap rakyat.
Kekuasaan hanyalah amanah, bukan berhala yang harus dipuja. Politik spiritual
menuntut adanya kesadaran bahwa pemimpin hanyalah hamba, bukan tuhan kecil. Ia
harus diperlakukan sebagai pelayan rakyat, bukan sebagai objek penghambaan.
Dengan kesadaran ini, politik akan kembali menjadi ruang pengabdian, bukan
ruang pengagungan.
Perjuangan melawan berhala kekuasaan adalah perjuangan
untuk memurnikan politik dari fanatisme dan egoisme. Ia adalah panggilan
spiritual agar manusia kembali kepada tauhid, menolak segala bentuk penghambaan
selain kepada Allah, dan membangun peradaban politik yang adil, bermartabat,
serta berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Menyembah berhala zaman Nabi disebut syirik tauhid, karena
ia mengalihkan penghambaan dari Allah kepada ciptaan yang tidak memiliki
kekuatan. Syirik tauhid adalah bentuk pengkhianatan spiritual yang menutup mata
hati manusia dari cahaya kebenaran. Ia menjadikan manusia terjebak dalam ilusi,
seolah-olah benda mati mampu memberi keselamatan. Sementara itu, menyembah
kekuasaan sama dengan syirik politik, karena ia mengalihkan orientasi
pengabdian dari Allah kepada manusia atau jabatan. Syirik politik adalah bentuk
penghambaan modern yang menempatkan kekuasaan sebagai berhala baru. Ia menjadikan
politik kehilangan makna sebagai amanah, dan berubah menjadi panggung
pengagungan individu.
Kekuasaan dan syirik politik sama-sama menjerumuskan
manusia pada kemunduran tauhid, sebab orientasi spiritual bergeser dari Allah
kepada sesuatu yang fana. Ketika kekuasaan dijadikan sesembahan, manusia
kehilangan kesadaran bahwa hanya Allah yang layak disembah. Akibatnya, politik
tidak lagi menjadi jalan menuju keadilan, melainkan sekadar alat mempertahankan
dominasi. Selain itu, syirik politik juga menjerumuskan manusia pada kemunduran
berpikir. Fanatisme terhadap tokoh politik mematikan daya kritis, sehingga
masyarakat lebih sibuk membela figur daripada menilai kebijakan. Akal yang
seharusnya digunakan untuk menimbang kebenaran justru dikorbankan demi loyalitas
buta.
Fenomena ini menunjukkan bahwa berhala modern tidak lagi
berupa patung, melainkan kekuasaan yang diagungkan. Ia hadir dalam bentuk
fanatisme politik, materialisme, dan egoisme sosial. Semua ini adalah wajah
baru dari berhala yang sama-sama menjauhkan manusia dari tauhid. Dalam
perspektif spiritual-politik, syirik politik adalah penyakit sosial yang
berbahaya. Ia merusak akidah dengan mengalihkan penghambaan, dan merusak akal
dengan mematikan daya kritis. Politik yang seharusnya menjadi ruang pelayanan
berubah menjadi arena pengagungan individu.
Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak disembah,
bukan kekuasaan, bukan materi, dan bukan manusia. Kesadaran ini harus menjadi
fondasi politik agar ia tidak terjebak dalam syirik modern. Politik tauhid
adalah politik yang menolak segala bentuk penghambaan palsu, mengembalikan
orientasi kepada nilai ilahi, dan menegakkan keadilan sebagai amanah. Dengan
kesadaran tauhid, masyarakat dapat membebaskan diri dari fanatisme buta.
Pemimpin dinilai bukan dari citra atau kekuasaan, melainkan dari akhlak,
kebijakan, dan komitmen terhadap rakyat. Politik pun kembali menjadi ruang
pengabdian, bukan ruang pengagungan.
Perjuangan melawan syirik politik adalah perjuangan
spiritual sekaligus intelektual. Ia menuntut keberanian untuk menolak tirani,
keserakahan, dan egoisme. Pada saat yang sama, ia menuntut kebangkitan akal
agar masyarakat tidak mudah diperdaya oleh simbol kekuasaan. Syirik tauhid dan
syirik politik sama-sama harus ditolak, karena keduanya menjerumuskan manusia
ke dalam kegelapan. Tauhid adalah cahaya yang membebaskan, mengarahkan manusia
kepada Allah, dan membangun peradaban politik yang adil, bermartabat, serta
berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Berhala dalam
sejarah, baik berupa patung pada masa jahiliyah maupun kekuasaan dalam politik
modern, sama-sama menjadi bentuk syirik yang menjerumuskan manusia pada penghambaan
palsu. Syirik tauhid mengalihkan orientasi spiritual dari Allah kepada ciptaan,
sementara syirik politik mengalihkan pengabdian kepada kekuasaan dan tokoh.
Keduanya melahirkan kemunduran tauhid sekaligus kemunduran berpikir, sehingga
politik kehilangan makna sebagai amanah ilahi. Jalan keluar dari penyakit
spiritual dan sosial ini adalah kembali kepada tauhid, menjadikan Allah sebagai
satu-satunya pusat penghambaan, dan menata politik sebagai ruang pengabdian
yang berlandaskan keadilan, kesejahteraan, serta martabat manusia.
Datangnya bulan suci Ramadhan bukan sekadar penanda
pergantian waktu ibadah, melainkan momentum spiritual untuk membersihkan syirik
politik; yakni kecenderungan menghambakan diri pada kekuasaan dan menjadikannya
berhala baru dalam kehidupan sosial. Ramadhan mengajarkan kita untuk berpuasa
dari segala bentuk nafsu, termasuk nafsu politik yang menjerumuskan pada kultus
kekuasaan.
Dengan hati yang jernih, kita diajak mengalihkan orientasi
dari pengabdian pada kekuasaan menuju pengabdian pada nilai kritis yang
menuntun pada keadilan dan kesejahteraan. Politik yang sejati bukanlah
perebutan tahta, melainkan ruang pengabdian demi kemaslahatan bersama. Maka,
Ramadhan menjadi titik balik; dari politik yang penuh syirik (memuja kekuasaan)
menuju politik yang berlandaskan etika, solidaritas, dan kesejahteraan umat.
Serambi Peradaban, 14 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar