Politik Manok Toh Boh: Retorika Berisik Tanpa Substansi
Bila diri ingin dipandang, jauhi kata tinggi melambung, jauhi sifat ayam dikandang, bertelur satu ribut sekampung. Bila diri ingin dikenang semailah benih di tengah sawah, bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi makin tunduk ke bawah.
Menyoroti pepatah tradisional tentang ayam dan padi sebagai
refleksi politik. Politik berisik tanpa substansi, diibaratkan ayam bertelur
satu ribut sekampung, hanya melahirkan pencitraan dan kemiskinan rakyat.
Sebaliknya, politik ideal seperti padi semakin berisi semakin menunduk,
menekankan kerendahan hati, integritas, dan kerja nyata. Analisis menunjukkan
bahwa kebijakan produktif, seperti padat karya, memperkuat kesejahteraan dan
legitimasi. Pepatah lokal ini menjadi pedoman universal etika kepemimpinan dan
arah kebijakan publik yang berorientasi pada rakyat.
Politik berisik
cenderung melahirkan subordinasi, patronase, dan penyalahgunaan anggaran
publik, sehingga memperburuk kemiskinan dan ketidakpercayaan masyarakat.
Sementara itu, politik yang berorientasi pada program produktif terbukti
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkuat legitimasi kekuasaan. Dengan
pendekatan filsafat politik, sosiologi, dan ekonomi politik menegaskan bahwa
pepatah lokal bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan refleksi universal
tentang etika kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan arah kebijakan publik
yang ideal.
Pepatah
tradisional sering kali menjadi cermin kebijaksanaan lokal yang sarat makna
filosofis. Ungkapan tentang “jauhi kata tinggi melambung” mengingatkan kita
bahwa dalam kehidupan sosial maupun politik, retorika yang berlebihan tanpa
substansi hanya akan menimbulkan kesan kosong. Dalam perspektif ilmiah, hal ini
sejalan dengan kritik terhadap politik simbolik yang lebih mementingkan citra
daripada kinerja nyata.
Sifat “ayam di
kandang, bertelur satu ribut sekampung” adalah metafora yang menggambarkan
perilaku berisik tanpa hasil signifikan. Dalam politik, fenomena ini tampak
pada elite yang lebih sibuk dengan propaganda dan pencitraan ketimbang
menghadirkan kebijakan yang menyejahterakan rakyat. Analisis politis
menunjukkan bahwa perilaku demikian menciptakan ketidakpercayaan publik
terhadap institusi.
Sebaliknya,
pepatah tentang “ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk” menekankan nilai
kerendahan hati dan substansi. Dalam kerangka pendidikan politik, hal ini dapat
dimaknai sebagai ajakan agar pemimpin yang berpengetahuan dan berpengalaman
tidak terjebak dalam kesombongan, melainkan menunjukkan sikap rendah hati
dengan kerja nyata.
Fenomena
“politik ayam bertelur, berisik duluan sebelum bertelur” adalah kritik terhadap
gaya kepemimpinan yang mendahulukan retorika daripada realisasi. Secara ilmiah,
ini dapat dikaitkan dengan teori komunikasi politik yang menyoroti perbedaan
antara “speech act” dan “policy act”. Ketika kata-kata
mendominasi tanpa tindakan, legitimasi politik menjadi rapuh.
Dalam konteks
lokal Aceh, istilah “sangkak” atau sarang ayam menjadi simbol bagaimana sistem
politik sering kali dibangun bukan untuk produktivitas, melainkan untuk
memperbanyak ruang bagi kepentingan sempit. Secara politis, ini mencerminkan
praktik patronase yang memperbanyak struktur birokrasi tanpa orientasi pada
kesejahteraan rakyat.
Ungkapan
“jongos kekuasaan” menyingkap realitas politik di mana individu atau kelompok
tertentu hanya menjadi alat bagi elite. Dalam kajian politik kritis, fenomena
ini disebut sebagai subordinasi politik, di mana aktor-aktor kecil kehilangan
otonomi dan hanya berfungsi sebagai corong kekuasaan.
Penggunaan
anggaran daerah secara tidak wajar untuk membayar orang-orang yang “pintar
berisik” adalah bentuk penyalahgunaan sumber daya publik. Tindakan ini dapat
dikategorikan sebagai bentuk korupsi politik; yakni pengalihan dana publik
untuk kepentingan propaganda dan legitimasi semu.
Dampak dari
politik berisik tanpa substansi adalah kemiskinan rakyat. Analisis ekonomi
politik menunjukkan bahwa ketika anggaran lebih banyak digunakan untuk
pencitraan, maka program produktif seperti padat karya, pemberdayaan ekonomi,
dan pembangunan infrastruktur terabaikan. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin
melebar.
Pepatah tentang
padi yang semakin berisi semakin menunduk menjadi model politik ideal. Dalam
perspektif etika politik, pemimpin yang sejati adalah mereka yang semakin
berkuasa justru semakin rendah hati, dan semakin memiliki sumber daya justru
semakin menyalurkan manfaatnya kepada rakyat.
Program padat
karya adalah contoh konkret bagaimana politik dapat menyejahterakan rakyat. Dilihat
dari perspektif ilmiah, padat karya meningkatkan distribusi pendapatan,
mengurangi pengangguran, dan memperkuat daya beli masyarakat. Secara politis,
program ini memperkuat legitimasi karena rakyat merasakan langsung manfaatnya.
Larangan
“jangan tumbuhkan berisik” adalah ajakan moral agar elite politik tidak
menambah kebisingan retorika. Dalam teori demokrasi deliberatif, kualitas
politik diukur dari sejauh mana diskursus publik menghasilkan kebijakan nyata,
bukan sekadar wacana kosong.
Buka ruang berisik
ekonomi sebesar-besarnya untuk publik. Biarkan rakyat yang berisik karena
kesejahteraannya, bukan karena penderitaannya. Konteks politis, ini berarti
suara rakyat harus lahir dari kepuasan terhadap kebijakan, bukan dari keluhan
akibat ketidakadilan. Dalam kerangka ilmiah, hal ini sejalan dengan konsep “positive
political participation”.
Pepatah
tradisional ini juga mengandung dimensi pendidikan karakter. Ia mengajarkan
bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa keras suara yang
dikeluarkan, melainkan seberapa nyata hasil yang diberikan. Pendidikan politik
berbasis budaya lokal dapat menjadi strategi efektif untuk membangun kesadaran
kritis masyarakat.
Konteks global,
fenomena politik berisik tanpa hasil bukan hanya terjadi di tingkat lokal,
melainkan juga di banyak negara. Analisis komparatif menunjukkan bahwa
negara-negara dengan politik pencitraan yang dominan cenderung mengalami
stagnasi pembangunan. Sebaliknya, negara yang menekankan kerja nyata
menunjukkan kemajuan signifikan.
Akhirnya,
pepatah ini menegaskan bahwa politik ideal adalah politik yang berorientasi
pada kesejahteraan rakyat, bukan pada kebisingan retorika. Konteks ilmu mengajarkan
keseimbangan antara kata dan kerja; secara politis, ia menuntut integritas dan
kerendahan hati. Dengan demikian, pepatah lokal menjadi refleksi universal
tentang etika kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.
Jika ditinjau
dari perspektif filsafat politik, pepatah ini mengandung kritik terhadap
“politik performatif” yang hanya menampilkan citra tanpa substansi. Politik
performatif sering kali mengabaikan kebutuhan riil masyarakat, sehingga menghasilkan
alienasi antara rakyat dan penguasa.
Dalam kerangka
sosiologi politik, fenomena “berisik tanpa hasil” dapat dikaitkan dengan teori
hegemoni Gramsci, di mana elite berusaha mempertahankan dominasi melalui wacana
dan simbol, bukan melalui kerja nyata. Hal ini menimbulkan kesadaran palsu di
masyarakat yang akhirnya merugikan kepentingan rakyat.
Secara
historis, banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan sumber daya,
melainkan karena elite politik lebih sibuk dengan retorika dan konflik
internal. Pepatah ini menjadi peringatan agar bangsa tidak mengulangi kesalahan
sejarah dengan mengabaikan kerja nyata demi kepentingan pencitraan.
Dalam konteks
kebijakan publik, pepatah ini dapat dijadikan pedoman etis; setiap kebijakan
harus diukur dari dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat, bukan dari seberapa
besar gaungnya di media. Politik yang berorientasi pada hasil nyata akan
memperkuat kepercayaan publik dan stabilitas sosial.
Pepatah tentang
ayam dan padi bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan refleksi mendalam
tentang etika politik. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati adalah
kepemimpinan yang rendah hati, berorientasi pada kerja nyata, dan menjauhkan
diri dari kebisingan retorika. Politik yang ideal adalah politik yang
menumbuhkan kesejahteraan, bukan meramaikan suara.
Pepatah tentang ayam dan padi yang dijadikan metafora
politik menegaskan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang kebisingan
retorika, melainkan tentang kerja nyata yang menyejahterakan rakyat; politik
yang berisik tanpa substansi hanya melahirkan kemiskinan dan ketidakpercayaan
publik, sementara politik yang berorientasi pada nilai kerendahan hati,
integritas, dan program produktif seperti padat karya akan menumbuhkan
kesejahteraan, memperkuat legitimasi, serta menjadi teladan etika kepemimpinan
yang relevan baik dalam konteks lokal maupun global. Satu telur diretas dari
duburnya; itu pun untuk dimakan sendiri, berisik satu kawasan-seolah-olah kesejahteraan
telah dibagi pada yang lain.
Serambi Peradaban, 04 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar