Politik Babi Ngepet: Metafora Kritik terhadap Kekuasaan
Cerita dalam film Babi Ngepet bukan sekadar hiburan mistis, melainkan cermin dari kegelisahan manusia yang terhimpit oleh kemiskinan dan keinginan untuk melawan keterbatasan hidup. Jalan pintas yang ditempuh melalui dukun sakti menggambarkan betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan godaan kekayaan instan. Di balik cerita ini, tersimpan pertanyaan mendasar, apakah manusia rela menukar martabat dan nilai-nilai luhur demi harta yang diperoleh tanpa jerih payah. Kata sang dukun “saya baru menurunkan ilmu ngepet kepada mu jika kamu mematuhi tiga aturan. Pertama, setelah jadi babi jangan mengambil hak orang miskin. Kedua, jangan serakah. Ketiga, rela mengorbankan sesuatu yang sangat engkau sayangi.
Dukun, yang dalam pandangan masyarakat sering dicap sebagai
sosok gelap dan penuh tipu daya, justru menghadirkan syarat-syarat yang sarat
nilai moral. Ia menegaskan bahwa ilmu babi ngepet tidak boleh digunakan untuk
merampas hak orang miskin, tidak boleh dijalankan dengan keserakahan, dan
menuntut pengorbanan atas sesuatu yang paling dicintai. Paradoks ini menyingkap
kenyataan bahwa, bahkan dari sumber yang dianggap buruk, terkadang muncul
pengingat tentang batas etika yang tak boleh dilanggar.
Di sinilah letak nilai filosofisnya, kejahatan sekalipun
mengenal garis batas, dan garis itu adalah rasa keadilan yang paling mendasar.
Larangan mengambil dari orang miskin adalah simbol universal tentang
perlindungan terhadap yang lemah. Dengan demikian, syarat yang diajukan sang
dukun bukan sekadar aturan teknis, melainkan peringatan moral bahwa setiap
tindakan, betapapun gelap jalannya, tetap menuntut tanggung jawab etis.
Cerita ini juga menyingkap dilema manusia, apakah kita rela
mengorbankan integritas demi kekayaan, atau justru menemukan bahwa jalan gelap
pun menuntut etika. Babi ngepet menjadi metafora tentang ambisi manusia yang
ingin melampaui keterbatasan, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa setiap
ambisi selalu dibatasi oleh konsekuensi. Pengorbanan atas sesuatu yang paling
dicintai adalah simbol tidak ada kekayaan tanpa kehilangan, tidak ada jalan
pintas tanpa harga yang harus dibayar.
Babi ngepet dapat dibaca sebagai nilai tentang paradoks
moral; dukun yang buruk secara sosial, namun baik secara etis; murid yang ingin
kaya, namun harus belajar tentang batas keadilan. Cerita ini mengajarkan bahwa
etika bukan hanya milik jalan terang, tetapi juga menjadi syarat dalam jalan
gelap. Pada akhirnya, manusia dituntut untuk memilih, apakah akan tetap setia
pada nilai-nilai luhur, atau rela menukar segalanya demi ilusi kekayaan yang
sesaat.
Orang miskin dalam konteks sosial bukan sekadar individu
yang kekurangan materi, melainkan simbol kolektivitas kelas bawah; janda, anak
yatim, fakir, dan rakyat jelata. Mereka adalah kelompok yang hidup di bawah
garis kemiskinan, mengandalkan tenaga dan keberanian untuk bertahan, tanpa
akses pada modal, ilmu, atau jaringan yang bisa mengangkat nasib. Kemiskinan di
sini bukan hanya keadaan ekonomi, tetapi juga representasi keterpinggiran dalam
struktur sosial.
Ketika ilmu babi ngepet diturunkan, tidak ada prosesi
sakral, tidak ada sumpah jabatan dengan ayat-ayat suci. Yang ada hanyalah pesan
sederhana dari sang guru; jangan pernah mengambil uang orang miskin. Pesan ini,
meski lahir dari sosok yang dianggap gelap, justru menjadi inti moral yang
paling terang. Ia menegaskan bahwa dalam jalan pintas yang penuh tipu daya, ada
batas etika yang tidak boleh dilanggar.
Kontras muncul ketika kita melihat “babi kekuasaan” dalam
realitas sosial-politik. Mereka yang bersumpah dengan ayat-ayat Tuhan untuk
menjaga amanah justru seringkali merampas hak-hak orang miskin. Ironi ini
menyingkap wajah kekuasaan yang korup; sumpah yang seharusnya menjadi pengikat
moral berubah menjadi formalitas kosong, sementara rakyat jelata yang
seharusnya dilindungi justru menjadi korban eksploitasi.
Di titik ini, film Babi Ngepet menghadirkan refleksi yang
tajam. Jalan gelap yang ditempuh sang murid masih menyisakan etika, sementara
jalan terang yang ditempuh penguasa justru sering kehilangan moralitas.
Paradoks ini mengajarkan bahwa baik dan buruk tidak selalu melekat pada label
sosial, melainkan pada sikap dan pilihan yang diambil. Pesan yang paling
mendasar; bahwa amanah sejati bukanlah sekadar sumpah di hadapan kitab suci,
melainkan kesetiaan untuk tidak mengotak-ngatik hak-hak orang miskin. Mereka
yang hidup dengan otot dan keberanian adalah fondasi masyarakat; merampas hak
mereka berarti meruntuhkan keadilan itu sendiri. Pada akhirnya, kisah babi
ngepet dan babi kekuasaan sama-sama mengingatkan kita, kekayaan dan kekuasaan
tanpa etika hanyalah ilusi yang menjerumuskan.
Istilah “babi ngepet” dan “babi kekuasaan menghadirkan
paradoks yang tajam.” Dalam narasi film, sosok yang berubah menjadi babi justru
masih memegang amanah; tidak mengambil uang orang miskin, tidak serakah, dan
rela berkorban. Sebaliknya, dalam realitas sosial, mereka yang bersumpah dengan
ayat-ayat Tuhan untuk menjaga amanah justru sering merampas hak rakyat jelata
melalui regulasi dan kebijakan.
Ketika hak orang miskin dicuri lewat tangan kekuasaan,
pertanyaan yang muncul begitu getir; apakah orang miskin mesti datang ke rumah
ibadah, memperlihatkan kepada Tuhannya bahwa ia terpaksa membobol uang yang
disimpan di rumah Tuhan karena kebutuhan yang mendesak. Gambaran ini menyingkap
ironi yang menyakitkan-Tuhan seolah “angkat tangan,” sementara manusia justru
menggebuk orang miskin yang mengadu pada Tuhannya karena terhimpit persoalan
hidup yang tak kunjung diperbaiki.
Di titik ini, muncul perbandingan yang mengejutkan;
perilaku babi ngepet, meski lahir dari jalan gelap, masih menyisakan etika;
sementara perilaku kekuasaan yang rakus justru melanggar amanah yang paling
mendasar. Babi ngepet menjadi simbol ambisi manusia yang ingin kaya dengan
jalan pintas, tetapi tetap mengenal batas moral. Kekuasaan, sebaliknya, sering
kali melampaui batas itu dengan legitimasi hukum dan sumpah suci yang kosong. Ini
mengajarkan bahwa moralitas tidak selalu melekat pada label sosial. Sosok yang
dianggap buruk bisa menegakkan etika, sementara sosok yang dianggap mulia bisa
meruntuhkannya. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang tampak baik atau buruk,
melainkan siapa yang benar-benar menjaga amanah terhadap yang lemah.
Kisah ini menyingkap ironi besar; babi ngepet yang mistis
justru lebih bermoral dibandingkan babi kekuasaan yang nyata. Pesan yang tersisa;
amanah sejati bukanlah sumpah di hadapan kitab suci, melainkan kesetiaan untuk
tidak merampas hak orang miskin dan rakyat jelata. Karena ketika hak mereka
dirampas, bukan hanya keadilan yang runtuh, tetapi juga martabat kemanusiaan
itu sendiri.
Prosesi penurunan ilmu babi ngepet digambarkan dengan
pengorbanan yang paling menyakitkan; sang aktor rela kehilangan anak yang
paling dicintai. Nyawa anaknya menjadi konsekuensi dari ilmu sihir yang
dipelajari, seolah menegaskan bahwa setiap jalan pintas menuju kekayaan selalu
menuntut harga yang tak terbayar. Pengorbanan ini bukan sekadar bagian dari
ritual mistis, melainkan simbol bahwa ambisi manusia, bila ditempuh tanpa
etika, akan selalu menelan sesuatu yang berharga.
Ironi muncul ketika kita membandingkan dengan sistem
kekuasaan. Mereka yang dilantik dengan sumpah suci, seharusnya menjaga amanah
rakyat, justru sering merampas hak orang miskin melalui regulasi dan kebijakan.
Maka, gagasan satir bahwa pejabat sebaiknya belajar kepada dukun untuk menjadi
babi ngepet, bahkan mengganti sistem absen sidik jari dengan “remot babi,”
adalah kritik tajam; lebih baik urusan publik diurus oleh babi yang masih
mengenal batas etika, daripada manusia yang rakus dan kehilangan moralitas.
Pesan guru ngepet kepada muridnya tetap konsisten; jangan
mengambil uang orang miskin, jangan serakah, dan rela melepaskan sesuatu yang
paling dicintai. Pesan ini, meski lahir dari dunia gelap, justru lebih terang
daripada sumpah jabatan yang sering dilanggar. Murid babi ngepet rela
kehilangan anaknya, sementara penguasa sering kali tidak rela kehilangan apa
pun, bahkan terus menambah kekayaan dengan mengorbankan rakyat jelata.
Kisah babi ngepet ini menyingkap paradoks besar; babi
ngepet yang mistis justru lebih bermoral dibandingkan kekuasaan yang nyata.
Jalan gelap masih menyisakan etika, sementara jalan terang sering kehilangan
arah. Kritik ini mengajarkan bahwa moralitas bukan ditentukan oleh label
sosial, melainkan oleh kesetiaan pada amanah yang paling mendasar; melindungi
yang lemah dan tidak merampas hak orang miskin. Sindiran filosofis terhadap
wajah kekuasaan. Jika babi ngepet masih tahu batas, sementara manusia berkuasa
tidak.
Kekuasaan memang melena manusia. Tidak mudah bagi seseorang
yang berkuasa untuk melepaskan apa yang melekat pada dirinya; mobil dinas,
gaji, tunjangan, pengaruh, penghormatan, kepatuhan atas segala perintah, tidak
boleh dibantah, bahkan senang dielu-elukan oleh banyak orang. Semua itu menjadi
candu yang membuat manusia sulit berani mengorbankan sesuatu yang paling
dicintai. Dalam praktik kekuasaan, setiap sumber keuangan seolah harus ada
setorannya, sehingga amanah berubah menjadi beban yang diperdagangkan.
Nasehat sederhana dari guru babi ngepet, jangan mengambil
uang orang miskin, jangan serakah, dan berani mengorbankan sesuatu yang dicintai-justru
hanya berhasil diwariskan pada babi. Ironi ini menyingkap bahwa manusia, meski
berkuasa dan bersumpah dengan ayat-ayat suci, sering gagal menjaga amanah yang
paling mendasar. Babi, dalam cerita mistis, justru lebih patuh pada etika
dibandingkan manusia yang rakus.
Seharusnya manusia belajar dari akurnya relasi babi dan
anjing. Babi tidak akan memakan bangkai, sebab ia tahu itu makanan anjing.
Anjing tidak akan memakan ubi, sebab ia tahu ubi adalah makanan babi. Ada
kesadaran batas, ada penghormatan terhadap wilayah keinginan dan kebahagiaan
masing-masing. Binatang pun pandai menjaga harmoni. Babi tidak akan
menggonggong (meudroh), sebab ia tahu menggonggong adalah cara anjing
membahagiakan dirinya. Begitu pula anjing tidak meniru suara babi, sebab ia tahu
babi menemukan kebahagiaannya dengan “ngengrok (meugroh).”
Relasi ini sederhana, tetapi sarat makna; setiap makhluk
memiliki cara sendiri untuk bahagia, dan kebahagiaan itu tidak perlu dirampas
dari yang lain. Binatang yang dianggap rendah justru lebih tahu batas, lebih
patuh pada etika, dan lebih menghormati kebahagiaan sesamanya. Sementara
manusia yang berkuasa, dengan segala fasilitas dan sumpah suci, sering kali
gagal menjaga amanah yang paling mendasar; yakni “tidak merampas hak orang
miskin”.
Kisah Babi Ngepet dalam film menyingkap paradoks moral yang
tajam; jalan gelap melalui ilmu sihir masih menyisakan etika, sementara jalan
terang kekuasaan sering kehilangan amanah. Pesan dukun; tidak merampas hak
orang miskin, tidak serakah, dan berani berkorban justru lebih terang daripada
sumpah jabatan yang kerap dilanggar. Cerita ini menjadi kritik sosial terhadap
wajah kekuasaan yang rakus, sekaligus menegaskan bahwa amanah sejati bukan
ditentukan oleh label sosial atau sumpah suci, melainkan oleh kesetiaan menjaga
keadilan dan melindungi yang lemah. Pada akhirnya, babi ngepet menjadi simbol
bahwa kekayaan dan kekuasaan tanpa etika hanyalah ilusi yang menjerumuskan.
Kisah Babi Ngepet merepresentasikan konstruksi simbolik yang
mengandung dimensi filosofis, etis, dan kritik sosial-politik. Narasi mistis
tersebut tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan, melainkan sebagai
refleksi atas dilema manusia dalam menghadapi keterbatasan ekonomi dan godaan
kekayaan instan. Paradoks muncul ketika sosok dukun, yang secara sosial
dianggap gelap justru menekankan prinsip moral. Larangan merampas hak orang
miskin, menolak keserakahan, serta keberanian berkorban. Sebaliknya, praktik
kekuasaan yang dilegitimasi oleh sumpah suci sering kali melanggar amanah,
merampas hak rakyat jelata, dan memperlihatkan wajah korupsi struktural.
Analisis ini menegaskan bahwa moralitas tidak inheren pada label sosial,
melainkan pada kesetiaan menjaga keadilan dan melindungi kelompok lemah.
Dengan demikian, Babi Ngepet menjadi metafora kritis yang
menunjukkan bahwa jalan gelap masih mengenal batas etika, sementara jalan
terang kekuasaan kerap kehilangan arah. Pesan reflektif yang dapat ditarik
adalah bahwa etika merupakan syarat universal dalam setiap bentuk ambisi, dan
amanah sejati terletak pada keberpihakan terhadap kaum miskin sebagai fondasi.
Serambi Peradaban, 03 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar