Berhala Politik: Pengkhianatan terhadap Tauhid Sosial
Fenomena berhala; baik dalam bentuk tradisional maupun politik, merupakan cerminan dari kecenderungan manusia yang mudah terjebak dalam simbol-simbol palsu yang dianggap sakral. Pada masa jahiliyah, berhala dipahat dari batu atau kayu lalu dipuja seolah-olah memiliki kekuatan, padahal tidak memiliki daya apa pun. Berhala politik hadir sebagai kekuasaan yang dipuja, dipertahankan, dan dijadikan pusat penghambaan, meski tidak membawa kesejahteraan nyata bagi rakyat. Tauhid menegaskan bahwa hanya Tuhan yang layak disembah, bukan simbol buatan manusia, termasuk kekuasaan yang dimanipulasi demi kepentingan segelintir elit. Kritik terhadap berhala politik bukan sekadar kritik sosial, melainkan juga seruan spiritual untuk mengembalikan orientasi kekuasaan kepada tujuan sejatinya: menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi umat.
Pada masa jahiliyah, berhala hanyalah benda buatan manusia
yang kemudian dijadikan sesembahan. Mereka dipahat dari batu, kayu, atau logam,
lalu diberi nama tertentu seperti Lata, 'Uzza, dan Manat. Meskipun tidak
memiliki daya atau kemampuan apa pun, masyarakat jahiliyah menempatkan berhala
itu pada posisi sakral, seolah-olah mampu memberi perlindungan, keberkahan, dan
jalan keluar dari kesulitan hidup.
Kepercayaan ini tumbuh dari tradisi turun-temurun yang
tidak bersandar pada wahyu atau dalil yang sahih. Berhala tidak pernah
menurunkan kitab suci, tidak pernah menyampaikan ajaran moral, dan tidak
memiliki tanda-tanda ketuhanan. Namun, masyarakat tetap meyakini bahwa berhala
dapat mendatangkan rezeki, keselamatan, dan kemenangan dalam peperangan.
Keyakinan tersebut lebih merupakan konstruksi sosial dan psikologis daripada
kebenaran yang bersumber dari wahyu.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya dan
mitos dalam membentuk keyakinan manusia. Ketika akal dan hati tidak dibimbing
oleh wahyu, manusia cenderung mencari simbol-simbol yang dianggap mampu
menjawab kebutuhan spiritualnya, meskipun sebenarnya kosong dan tidak berdaya.
Berhala menjadi representasi dari kebutuhan akan sesuatu yang lebih besar,
tetapi sekaligus mencerminkan kesesatan dalam memahami hakikat ketuhanan.
Logika tauhid menegaskan bahwa Tuhan harus memiliki
sifat-sifat yang melampaui segala keterbatasan makhluk. Tuhan tidak bertempat
sebagaimana makhluk hidup, tidak terikat oleh ruang, kepemilikan, ataupun
waktu. Ketuhanan yang sejati tidak dapat disamakan dengan ciptaan, sebab jika
Tuhan memiliki sifat yang sama dengan makhluk, maka Ia tidak lagi bersifat
transenden.
Dalam kerangka tauhid, Tuhan bersifat absolut:
keberadaan-Nya tidak bergantung pada apa pun, kekuasaan-Nya tidak terbatas, dan
kehendak-Nya tidak dapat ditandingi. Keabsolutan ini menjadi dasar keyakinan
bahwa hanya Tuhan yang layak disembah, karena hanya Dia yang memiliki kuasa
penuh atas kehidupan, kematian, dan segala sesuatu di antara keduanya.
Untuk mengenalkan diri-Nya kepada manusia, Tuhan menurunkan
wahyu melalui para nabi. Wahyu ini bukan sekadar informasi, melainkan petunjuk
hidup yang membimbing manusia agar tidak tersesat dalam spekulasi dan khayalan.
Tanpa wahyu, manusia cenderung menciptakan simbol atau berhala yang dianggap
sakral, padahal tidak memiliki kekuatan apa pun.
Selain wahyu, Tuhan juga menghadirkan ciptaan yang
melampaui nalar manusia sebagai tanda kebesaran-Nya. Fenomena alam, keteraturan
kosmos, dan misteri kehidupan menjadi bukti yang mengarahkan akal manusia
kepada kesadaran bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi, yang tidak dapat
dijelaskan semata-mata dengan logika empiris. Dengan demikian, tauhid bukan
hanya doktrin teologis, melainkan juga jalan reflektif untuk memahami hakikat
Tuhan yang melampaui segala keterbatasan.
Dalam kerangka tauhid, Tuhan tidak membutuhkan sifat
keberanian (syaja’ah) sebagaimana manusia. Keberanian muncul ketika ada
kemungkinan ancaman, rasa takut, atau sesuatu yang dapat mengalahkan. Sedangkan
Tuhan adalah Dzat Yang Maha Kuasa, tidak ada satu pun yang mampu
menandingi-Nya. Karena itu, menisbatkan sifat berani kepada Tuhan justru
mengurangi keabsolutan-Nya, seolah-olah Ia berhadapan dengan sesuatu yang
setara.
Bagaimana mungkin Tuhan mesti memiliki sifat berani,
sementara yang dihadapi hanyalah makhluk ciptaan-Nya sendiri. Segala sesuatu di
alam semesta ini bergantung kepada-Nya, tidak memiliki daya tanpa izin-Nya.
Dalam pandangan tauhid yang lebih filosofis, bahkan seluruh realitas hanyalah
manifestasi dari kehendak dan ciptaan Tuhan. Maka, tidak ada "lawan"
yang bisa menimbulkan rasa takut, sehingga tidak relevan bagi Tuhan untuk
disebut berani.
Tauhid mengajarkan bahwa sifat-sifat Tuhan berbeda secara
mutlak dari sifat makhluk. Jika makhluk membutuhkan keberanian untuk menghadapi
tantangan, Tuhan justru berada di luar kategori itu. Ia adalah sumber
keberanian, kekuatan, dan keteguhan bagi makhluk, tetapi tidak pernah
membutuhkan sifat tersebut bagi diri-Nya.
Dengan demikian, memahami Tuhan melalui logika tauhid
menuntun kita untuk tidak mengukur-Nya dengan standar manusia. Tuhan bersifat
absolut, transenden, dan tidak terikat oleh ruang, waktu, maupun sifat-sifat
yang lahir dari keterbatasan makhluk. Ia mengabarkan tentang diri-Nya melalui
wahyu, para nabi, dan ciptaan-Nya, agar manusia tidak terjebak dalam
kesalahpahaman antropomorfis yang menyamakan Tuhan dengan makhluk.
Berhala politik pada hakikatnya tidak berbeda jauh dengan
berhala pada masa jahiliyah. Ia lahir dari ciptaan manusia, khususnya para
pengikut atau elit yang licik, yang memahat kekuasaan sesuai dengan kepentingan
mereka. Kekuasaan dijadikan simbol sakral, bukan karena memiliki wahyu atau
kebenaran, melainkan karena mampu memanfaatkan kelemahan dan kebodohan
masyarakat agar tunduk dan patuh.
Dalam praktiknya, berhala politik tidak membutuhkan wahyu
untuk meyakinkan orang-orang. Cukup dengan memberi harapan, janji, atau ilusi
kesejahteraan, maka masyarakat dapat diarahkan untuk percaya. Harapan itu
sering kali tidak lebih dari retorika kosong, namun tetap berhasil menjerat
hati dan pikiran banyak orang. Seperti berhala jahiliyah, ia tidak memiliki
kemampuan sejati, tetapi tetap dipuja karena dianggap mampu memberi solusi.
Ironisnya, nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi
pedoman justru diabaikan demi tujuan kekuasaan. Agama dijadikan alat
legitimasi, bukan sumber moralitas. Ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, maka
prinsip-prinsip tauhid yang menegaskan keesaan dan keabsolutan Tuhan tergeser
oleh kepentingan duniawi. Berhala politik pun berdiri tegak, bukan di atas
kebenaran, melainkan di atas manipulasi dan kepalsuan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa berhala tidak hanya berupa
patung atau benda mati, tetapi juga bisa berupa ideologi, sistem, atau figur
yang dipuja secara berlebihan. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Tuhan yang layak
disembah, bukan kekuasaan, bukan manusia, dan bukan simbol politik. Dengan
demikian, kritik terhadap berhala politik adalah ajakan untuk kembali kepada
nilai tauhid; menolak segala bentuk penghambaan selain kepada Tuhan Yang Maha
Esa, termasuk pada kekuasaan di berbagai level yang mendatangkan kemudharatan
bagi rakyat.
Berhala politik, sebagaimana Anda gambarkan, memang bekerja
dengan cara mengeksploitasi kelemahan Sumber Daya Manusia (SDM) rendah.
Orang-orang yang kurang kritis dijadikan legitimasi untuk membenarkan setiap
ucapan, tindakan, dan kebijakan penguasa. Dengan demikian, kekuasaan tampak
seolah-olah sahih, padahal sesungguhnya hanya berdiri di atas manipulasi.
Peran berhala politik sering kali justru mengaburkan
kepentingan publik. Kebijakan yang bobrok ditutupi dengan retorika, simbol,
atau propaganda agar terlihat benar di mata masyarakat. Publik diarahkan untuk
percaya bahwa segala keputusan penguasa adalah demi kebaikan bersama, padahal
hakikatnya hanya melayani kepentingan segelintir orang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa berhala politik tidak
membutuhkan wahyu atau kebenaran sejati untuk bertahan. Ia cukup memberi
harapan, janji kosong, atau ilusi kesejahteraan agar masyarakat tetap patuh.
Harapan itu menjadi semacam “ritual” baru yang menggantikan nilai-nilai agama
dan etika, sehingga kekuasaan dapat terus berlanjut tanpa dasar moral yang
kokoh.
Dalam perspektif tauhid, berhala politik adalah bentuk
syirik modern: mengalihkan penghambaan dari Tuhan kepada kekuasaan manusia.
Kritik terhadapnya bukan sekadar kritik sosial, melainkan juga seruan spiritual
untuk kembali kepada nilai-nilai keesaan Tuhan. Hanya dengan tauhid, masyarakat
dapat membebaskan diri dari manipulasi berhala politik dan menegakkan keadilan
yang sejati.
Berhala politik adalah simbol kekuasaan yang dipilih,
dipuja, dan disembah oleh para pengikutnya. Ia tidak hadir sebagai sumber
kebenaran, melainkan sebagai konstruksi yang dibangun untuk mempertahankan
dominasi. Keberadaannya menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat dijadikan objek
penghambaan, meski tidak memiliki dasar moral atau wahyu.
Kecerdikan berhala politik tampak dalam kemampuannya
memposisikan diri sebagai pihak yang seolah-olah ternodai oleh prasangka lawan
politik. Dengan memainkan peran korban, ia berusaha membalikkan persepsi publik;
seakan-akan segala kritik hanyalah fitnah, dan segala oposisi hanyalah bentuk
kedzaliman. Strategi ini membuat pengikutnya semakin loyal, karena mereka
merasa sedang membela sesuatu yang “dianiaya.”
Namun, di balik retorika itu, berhala politik justru
mengaburkan kepentingan publik. Kebijakan yang bobrok ditutupi dengan narasi
pengorbanan, sehingga masyarakat diarahkan untuk melihat penguasa sebagai sosok
yang suci dan layak dibela. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah
manipulasi, kepentingan rakyat dikorbankan demi mempertahankan kekuasaan.
Fenomena ini memperlihatkan betapa berhala politik bukan
sekadar figur, melainkan sebuah sistem yang memanfaatkan kelemahan psikologis
dan sosial masyarakat. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Tuhan yang layak
disembah, bukan kekuasaan manusia. Dengan kembali kepada tauhid, masyarakat
dapat membebaskan diri dari jebakan berhala politik dan menegakkan keadilan
yang sejati.
Berhala politik sering kali menjadikan anggaran publik
sebagai sarana untuk membangun simbol-simbol kekuasaan. Gedung-gedung megah,
monumen, atau proyek fisik dipamerkan sebagai tanda keberhasilan, padahal
substansinya tidak menyentuh kesejahteraan umat secara menyeluruh. Kekuasaan
dipoles agar tampak suci, seakan-akan singgasana yang layak dipuja, meski
sesungguhnya hanya topeng dari kepentingan sempit.
Dalam praktiknya, berhala politik tidak membawa perubahan
nyata bagi ekonomi rakyat. Ia lebih sibuk membangun fisik yang dapat dijadikan
simbol legitimasi, bukan membangun sistem yang menyejahterakan. Anggaran publik
yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat luas justru diarahkan
untuk proyek-proyek yang lebih berfungsi sebagai propaganda. Gedung yang
dibangun kemudian dipamerkan sebagai keberhasilan program kerja. Namun,
keberhasilan itu bersifat semu, karena tujuan utamanya bukanlah kesejahteraan
rakyat, melainkan menciptakan ilusi kemajuan. Publik dibuat terlena oleh
simbol-simbol yang tampak indah, tetapi tidak menyentuh kebutuhan dasar mereka.
Fenomena ini sejatinya mirip dengan masyarakat jahiliyah
yang terlenakan oleh berhala ciptaan mereka sendiri. Berhala politik bekerja
dengan cara yang sama: menciptakan simbol, membungkusnya dengan retorika, lalu
menuntut penghambaan. Tauhid mengajarkan bahwa penghambaan sejati hanya kepada
Tuhan, bukan kepada simbol kekuasaan yang rapuh. Dengan kembali kepada tauhid,
masyarakat dapat membebaskan diri dari ilusi berhala politik dan menuntut
keadilan yang nyata.
Sejatinya, kekuasaan memiliki tujuan luhur; mengantarkan
kesejahteraan nyata bagi masyarakat. Kekuasaan yang sehat mestinya menjadi
sarana untuk menumbuhkan kecerdasan, memperkuat ekonomi, dan membangun
kemakmuran bersama. Namun, ketika kekuasaan berubah menjadi berhala politik,
orientasi itu bergeser dari pelayanan publik menuju pemujaan terhadap simbol
dan figur.
Berhala politik justru menutup ruang bagi tumbuhnya
intelektualitas. Masyarakat yang kritis dikekang, suara yang berbeda dibungkam,
sementara pemujaan terhadap kekuasaan dihidupkan melalui berbagai wadah. Media,
lembaga, bahkan elemen pemerintahan dipaksa menjadikan kekuasaan sebagai pusat
penghambaan. Akibatnya, ruang publik kehilangan kebebasan untuk menilai secara
objektif, dan kebenaran digantikan oleh retorika penguasa.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat
diselewengkan menjadi berhala politik. Alih-alih membangun kesejahteraan, ia
menciptakan ilusi kemajuan yang meninabobokan masyarakat. Orang-orang diarahkan
untuk percaya bahwa segala kebijakan adalah demi kebaikan bersama, padahal
hakikatnya hanya melayani kepentingan dirinya, dan segelintir elit.
Tauhid mengajarkan bahwa hanya Tuhan yang layak disembah,
bukan kekuasaan manusia. Dengan kembali kepada nilai tauhid, masyarakat dapat
membebaskan diri dari jebakan berhala politik, menolak manipulasi, dan menuntut
agar kekuasaan kembali kepada tujuan sejatinya: menghadirkan kesejahteraan
nyata bagi seluruh umat.
Kekuasaan sejatinya adalah wilayah yang mesti dibuka ruang kritis,
bukan bukan ruang penyembahan berhala. Sebab melalui kekuasaan, anggaran publik
dikuasai dan dialirkan sesuai dengan kepentingan penguasa. Jika tidak ada ruang
kritik, maka kekuasaan akan cenderung disalahgunakan, dan rakyat kehilangan
kesempatan untuk memastikan bahwa anggaran benar-benar digunakan demi
kesejahteraan bersama.
Kebebasan kritik publik bukan hanya melahirkan
kesejahteraan, tetapi juga membuka ruang pengawasan. Dengan adanya kritik,
masyarakat terlibat aktif dalam mengawal kebijakan, menilai transparansi, dan
memastikan bahwa kekuasaan tidak berubah menjadi alat penindasan. Kritik adalah
mekanisme kontrol sosial yang menjaga agar kekuasaan tetap berpihak pada
rakyat.
Namun, berhala politik tidak berpikir demikian. Justru
sejak awal, ia membangun kekuasaan dalam bingkai sakralitas. Kekuasaan
diposisikan sebagai sesuatu yang tabu untuk disentuh, sehingga orang-orang
merasa takut mengkritisi. Kritik dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap
“kesucian” kekuasaan, padahal sesungguhnya itu hanyalah berhala yang
dituhankan.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana berhala politik
berusaha menutup ruang rasionalitas publik. Dengan menjadikan kekuasaan sebagai
simbol sakral, ia menjerat masyarakat dalam ketakutan dan kepatuhan buta.
Tauhid mengajarkan bahwa hanya Tuhan yang layak disembah, bukan kekuasaan
manusia. Maka, kritik terhadap berhala politik adalah bagian dari jihad
intelektual dan spiritual untuk mengembalikan kekuasaan kepada tujuan sejatinya;
melayani rakyat dan menegakkan keadilan.
Jika kekuasaan hanya berfokus pada pembangunan fisik, maka
sesungguhnya yang dibangun bukanlah kesejahteraan rakyat, melainkan rumah
ibadah untuk memberhalakan dirinya sendiri. Gedung-gedung megah dan monumen
yang dipamerkan sebagai simbol keberhasilan hanyalah singgasana kesucian palsu,
yang berdiri di atas retorika kesejahteraan. Bangunan fisik itu dijadikan
simbol kekuasaan munafik, karena narasi yang dikedepankan adalah kesejahteraan,
padahal hakikatnya hanyalah legitimasi politik. Anggaran publik yang seharusnya
digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dialihkan menjadi
proyek-proyek yang lebih berfungsi sebagai propaganda.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana berhala politik bekerja:
menciptakan simbol-simbol yang meninabobokan masyarakat, agar mereka percaya
bahwa kemajuan sedang terjadi. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah
pengalihan perhatian dari kebutuhan nyata rakyat menuju ilusi kemegahan. Tauhid
mengajarkan bahwa penghambaan sejati hanya kepada Tuhan, bukan kepada simbol
kekuasaan yang rapuh. Dengan kesadaran tauhid, masyarakat dapat membedakan
antara pembangunan yang benar-benar menyejahterakan dan pembangunan yang hanya
menjadi alat pemujaan terhadap berhala politik.
Berhala politik kerap mengaburkan program padat karya
dengan mengalihkan fokus pada pembangunan fisik semata. Padahal, padat karya
sejatinya bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, meningkatkan keterampilan,
dan membuka lapangan kerja nyata. Ketika orientasi kekuasaan hanya diarahkan
pada proyek fisik, maka kesempatan untuk menyejahterakan rakyat melalui partisipasi
langsung justru terabaikan.
Bangunan fisik yang dipamerkan sebagai simbol keberhasilan
hanyalah wajah luar dari berhala politik. Ia dijadikan singgasana kekuasaan,
bukan sarana untuk memperkuat ekonomi rakyat. Anggaran publik yang seharusnya
digunakan untuk menghidupkan produktivitas masyarakat malah dialihkan untuk
proyek-proyek yang lebih berfungsi sebagai propaganda. Berhala politik terus
disembah oleh orang-orang dengan sumber daya rendah, yang mudah terperdaya oleh
simbol-simbol kemegahan. Mereka diarahkan untuk percaya bahwa pembangunan fisik
adalah tanda kesejahteraan, padahal hakikatnya hanyalah ilusi. Seperti
masyarakat jahiliyah yang terlenakan oleh berhala ciptaan mereka sendiri,
masyarakat modern pun bisa terjebak dalam pemujaan terhadap simbol kekuasaan.
Tauhid mengajarkan bahwa penghambaan sejati bukan kepada
kekuasaan atau simbol politik, melainkan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dengan
kesadaran tauhid, masyarakat dapat membedakan antara pembangunan yang
benar-benar menyejahterakan dan pembangunan yang hanya menjadi alat pemujaan
berhala politik. Berhala politik tidak pernah berpikir bagaimana membangun
kekuatan ekonomi rakyat melalui sektor-sektor riil seperti pertanian, kelautan,
perdagangan lokal, maupun putaran ekonomi yang melibatkan masyarakat secara
langsung. Padahal, di sanalah letak kesejahteraan sejati; ketika rakyat
diberdayakan, produktivitas meningkat, dan distribusi hasil ekonomi dirasakan
secara merata.
Sebaliknya, berhala politik hanya berfokus pada pembangunan
fisik. Gedung-gedung megah, jalan-jalan besar, atau monumen dijadikan simbol
keberhasilan, bukan sebagai sarana untuk memperkuat ekonomi rakyat. Program
fisik lebih mudah dihitung dalam bentuk laba pribadi, karena proyek-proyek
besar membuka peluang bagi penguasa untuk menguras anggaran negara demi
kepentingan dirinya dan kelompoknya. Fenomena ini memperlihatkan bahwa
orientasi berhala politik bukanlah kesejahteraan rakyat, melainkan legitimasi
kekuasaan. Pembangunan fisik dijadikan alat propaganda, sementara sektor ekonomi
rakyat yang lebih mendasar justru diabaikan. Akibatnya, masyarakat tetap
terjebak dalam kemiskinan struktural, meski di sekeliling mereka berdiri
bangunan yang tampak megah.
Tauhid mengajarkan bahwa kekuasaan sejati adalah amanah
untuk menyejahterakan umat, bukan untuk dipuja sebagai berhala. Dengan
kesadaran tauhid, masyarakat dapat membedakan antara pembangunan yang
benar-benar menyejahterakan dan pembangunan yang hanya menjadi alat pemujaan
kekuasaan. Kritik terhadap berhala politik adalah bagian dari upaya membebaskan
rakyat dari ilusi simbolik menuju kesejahteraan yang nyata.
Berhala politik merupakan bentuk penyimpangan kekuasaan
yang menjadikan simbol, retorika, dan pembangunan fisik sebagai alat
legitimasi, bukan sebagai sarana kesejahteraan rakyat. Ia bekerja dengan
meninabobokan masyarakat melalui ilusi kemajuan, menutup ruang kritik, dan
mengabaikan sektor riil yang dapat memperkuat ekonomi rakyat. Dalam perspektif
tauhid, fenomena ini adalah bentuk syirik modern yang mengalihkan penghambaan
dari Tuhan kepada kekuasaan manusia. Karena itu, kritik terhadap berhala
politik bukan hanya tuntutan sosial, melainkan juga panggilan spiritual untuk
mengembalikan kekuasaan kepada tujuan sejatinya- menegakkan keadilan dan menghadirkan
kesejahteraan nyata bagi umat.
Serambi Peradaban, 15 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar