FIR’UN DALAM REPLIKA KEKUASAAN

Alquran menyebutkan  bahwa kisah-kisah masa lalu adalah ibrah (pelajaran) bagi orang-orang berakal. Ibrah tersebut diceritakan secara gamblang dalam berbagai momen; mulai dari masalah pribadi, politik, sosial, bahkan persoalan agama. Namun, atas semua peristiwa tersebut persoalan politik dan kekuasaan selalu menggiring pelaku-pelakunya berperan kontradiktif.

Kekuasaan terus berjalan dan selalu identik dengan kisah-kisah yang diceritakan secara berulang-ulang. Bahkan, kekuasaan itu diputar hari dan waktunya di antara manusia. Alquran menyebutkan bahwa kisah-kisah itu hanya menjadi ibrah bagi orang-orang yang menggunakan akalnya. Artinya, kisah-kisah tersebut hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berfikir.

...لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ 

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Q. S. Yusuf/012: 111.

Manna’ al-Qatthan menyebutkan; terdapat tiga katagori kisah-kisah yang termuat dalam Alquran. Pertama, kisah yang menceritakan peristiwa para Nabi tentang dakwah bersama para penentang, serta mu’jizat-mu’jizatnya. Kedua,  kisah yang menceritakan tokoh selain Nabi, seperti kisah perempuan suci Maryam yang melahirkan Nabi Isa. Ketiga, peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Nabi; seperti perang, dan yang lainnya.

Peristiwa dalam konteks politik dan kekuasaan; kisah Fir’un bersama pengikutnya dapat disimpulkan bahwa kekuasaan selalu dipengaruhi oleh bisikan-bisikan. Hingga saat ini kisah Fir’un selalu diingat sebagai puncak keangkuhan penguasa, yang tidak hanya berkuasa atas manusia, bahkan Fir’un mengaku dirinya sebagai Tuhan.  Akhirnya, atas keangkuhan tersebut Fir’un ditenggelamkan ke dasar lautan.

Kekuasaan Raja Ramses II sudah berakhir ribuan tahun yang lalu. Penguasa yang pernah bertaha di Mesir ini tidak lagi memiliki istana yang megah dan pengikut setia dengan ke angkuhannya, melainkan kini ia terbaring di meseum terletak di Kairo Mesir. Walaupun Fir’un tidak berkuasa lagi, namun muminya memiliki daya tarik yang kuat, dan menjadi destinasi wisata masyarakat dunia dari berbagai kalangan.  

Fir’un telah lenyap ditelan kemarahan zamannya, tetapi bukan berarti replika kekuasaannya hilang dalam sejarah kekuasaan di bumi. Bahkan praktek kekuasaan Fir'un sering muncul pada kekuasaan di berbagai level. Fir'un telah ditulis buruk dalam sejarah, puncak keburukan Fir'un ada pada kesombongannya, sehingga ia mengaku diri sebagai Tuhan atas bisikan orang-orang dekatnya. Walaupun tidak sama persis seperti Fir’un tetapi kesombongan dan keangkuhannya dalam menjalankan kekuasaan masih diikuti oleh pemimpin-pemimpin dunia hari ini di berbagai level.

Kekuasaan yang menganut asas trias politikal, masing-masing wilayah berpotensi memiliki keangkuhan tersendiri. Pembagian kekuasaan dalam konteks politik modern membagi kewenangan pada masing-masing pihak, kewenangan inilah membawa peran masing-masing bersama keangkuhannya.

Masing-masing wilayah kekuasaan merasa memikul aspirasi publik di pundaknya. Tetapi, dalam perjalanannya keberadaan mereka seperti tidak tampak jika dilihat dari perannya yang signifikan, penguasa anggaran sering bermasalah dengan program yang tidak tepat sasaran, lembaga pengawasan sering teledor, dan otoritas hukum sering melukai rasa keadilan. Ketiga wilayah kekuasaan;, eksekutif, legislatif, dan yudikatif sangat berpotensi menjadi replika kekuasaan Fir'un untuk masa kini jika keangkuhan masing-masing wilayah kekuasaan ditonjolkan.

Hari ini tidak ada penguasa yang mengadopsi pikiran Fir'un mengaku dirinya sebagai Tuhan, tetapi yang diadopsi adalah kesombongannya. Bukankah Tuhan sangat benci pada orang yang sombong. Walaupun mereka tidak mengaku diri sebagai Tuhan namun dengan sifat sombong tersebut bukankah mereka sedang menantang Tuhan.

Dikarenakan, sikap seperti ini memisahkan dirinya dengan Tuhan itu sendiri. Replika Fir'un dapat dilihat pada penguasa, pengusaha, dan pembisik istana (orang dalam). Atau dalam kisah Ramses disebut rio gagasan; Fir'un, Qarun, dan Hamman. Replika Fir'un untuk kekuasaan hari ini dapat dilihat pada tiga hal.

Pertama, penguasa itu sendiri. Replika Fir'un dalam kekuasaan dapat dilihat pada saat menjalankan kekuasaan mengedepankan keangkuhan dan kesombongan dalam mengatur dan memonopoli banyak hal. Siapa saja yang tidak mendukung upaya dan rencanaya maka resiko akan dihadapi dengan berbagai kemungkinan, diasingkan, dipecat, divakumkan karirnya, bahkan dipecat sekali pun, atau tidak diikutsertakan sebagai pelaksanaan proyek-proyek negara.

Kedua, replika Qarun. Kelompok ini adalah kalangan pengusaha (kontraktor) yang dekat dengan penguasa dan dapat mengatur dengan mudah proyek-proyek negara atau proyek-proyek di daerah menurut keinginan mereka, semua anggaran yang besar-besar dijalankan oleh perusahaannya yang ditentukan oleh mereka sendiri, bagi yang bukan bagian dari dirinya tidak diberikan akses, apalagi akses dekat dengan penguasa.

Pada dasarnya, pengusaha-pengusaha dalam konteks Qarun bukan menjalankan misi negara, melainkan sebagai perpanjangan usaha milik penguasa dengan memanfaatkan harta negara. Konsekuensi yang diterima dari kolaborasi tersebut adalah dalam bentuk fee yang ditetapkan sepihak. Bagi hasil dari pengelolaan proyek negara untuk kepentingan penguasa dan kelompoknya. Replika Qarun membangun barisan-barisan sakit hati.

Padahal; jika dilihat dari perannya, pihak swasa adalah front terdepan dalam membangu negara. Melalui tangan kontraktor pembangunan di segala bidang dilaksanakan; seperti gedung, jalan, pengadaan barang, serta fasilitas-fasilitas umum lainnya. Jika, keberadaan kontraktor sudah dianiaya oleh penguasa, maka sama dengan menganiaya rakyat.

Ketiga, replika Hamman. Kelompok ini mendapatkan posisi penting dari penguasa bahkan jadi pembisik yang baik dan sangat loyal serta begitu dipercaya seolah-olah fatwanya suci. Bisikan sepihak ini kadangkala muncul dari kelompok kepercayaan penguasa; staf khusus, ajudan, pejabat pemerintahan yang diangkat sesuai kepentingan penguasa, timses yang merasa berjasa, partai pendukung, tim ahli, saudara dekat penguasa, dan yang lainnya. Pada akhirnya, para pembisik ini terkadang lebih kejam dari penguasa itu sendiri.

Selagi posisi elit kuasa masih dipahami sebagai lapangan pekerjaan, maka setiap program yang dijalankan selalu dipahami sebagai lapak transaksi daganag. Dalam sebuah transaksi yang dihitung pertama kali adalah keuntungan serta laba-laba. Akhirnya, kekuasaan dijalankan seperti sistem pasar. Dalam sistem pasar pertama kali diperhitungkan adalah berapa keuntungan yang diperoleh.

Replikan kekuasaan Fir’un hari ini tidak menggiring manusia jauh dari Tuhannya, atau tidak memurtadkan manusia, melainkan membawa kesenjangan sosial dalam konteks kesejahteraan. Walaupun, penguasa tidak menjadi Fir'un, namun prilaku yang menjauhkan manusia dari kesejahteraan ekonomi sama dengan mendekatkan manusia dengan kekufuran. Nabi bersabda “kemiskinan mendekatka dengan kekufuran.

Kekuasaan yang dijalankan; dari trias politikal menuju trias hubris tujuan akhirnya merampas hak-hak publik. Kelompok orang-orang seperti ini tidak perlu rakyat menaruh harap padanya, sebab ia tidak hadir sebagai wakil rakyat, melainkan hadir sebagai wakil hawa nafsunya. Keberadaan trias hubris ini sebagai pihak yang hanya menghitung keuntungan diri dan kelompoknya saja.

Seharusnya, elit kuasa memahami bahwa posisi yang sedang di dudukinya adalah ruang ekspresi karya, di mana setiap program yang digejawantahkan di ruang publik terus menerus menghitung keuntungan bagi masyarakat banyak.

Fir’un pada dasarnya mengisi ruang karya, kenyataan ini dapat dibuktikan dari sejarah raja-raja Ramses membangun kemajuan pesat yang ditandai dengan adanya situs-situs sejarah terlihat sangat teknologiistik, dan menjadi catatan penting untuk kemajuan hari ini.

Merubah ruang kerja menjadi ruang karya tidaklah mudah. Ini butuh pendidikan dan skil. Pada kenyataannya keberadaan elit-elit seperti ini juga susah untuk berenovasi dengan karya-karyanya, jika kemampuan analisa mereka rendah. 

Rendahnya kemampuan analisa disebabkan banyak hal, salah satunya karena pendidikan rendah, malas belajar, malas membaca, literasi yang tidak memadai, lemah dalam memahami konteks. Dan yang lebih parah lagi adalah mindset akan keberadaan dirinya dipahami sebagai pekerja sekedar mengisi ruang kerja untuk mendapatkan laba sebanyak-banyaknya. Dengan paham seperti inilah membuat transaksi publik tidak mengantarkan kesejahteraan pada konstituen dan masyarakat secara luas.

Pendidikan rendah membuat cara pandang juga rendah. Dan tidak hanya itu, potensi lingkungan yang mengitarinya juga rendah sehingga mengajarkan pada dirinya secara terus-menerus hal-hal yang rendah pula. Yang lebih parahnya lagi tidak memiliki inovasi berpikir cepat, tangkas, dan cermat dalam menangkap segala peristiwa.

Hadirnya orang-orang yang berpendidikan rendah mengisi ruang publik bukan hanya disebabkan kurangnya orang cerdas, melainkan karena ngototnya kelompok ini ingin menduduki posisi penting tersebut. Kepintarannya sangat lihai dalam membaca dan menangkap peluang, dengan cara apa pun akan dilakukan termasuk membunuh karaker, bahkan tega menumpahkan darah sodaranya sendiri.

Di samping itu juga kehadiran kelompok yang rendah pikir ini disebabkan lemahnya analisa publik. Diambah lagi dengan masyarakat yang tidak tahu-menahu makna politik begitu penting dalam menunjang kehidupan di segala bidang. Lagi-lagi ketidaktahuan publik terhadap politik, mereka dengan mudah dapat diperdaya oleh kelompok yang lemah analisanya. Tingkat kecerdasan masyarakat sangat mempengaruhi potensi orang yang dihadirkan untuk mengisi ruang publik itu sendiri.

Pedagang-pedagang politik sangatlah  lihai dalam merekayas lapak. Lapak kekuasaan yang terpajang di sudut-sudut kehidupan dengan sangat mudah mereka rebut, bahkan dengan harga sewa yang sangat murah, mungkin berkisar antara satu atau dua ratus ribu untuk masa lima tahun pemakaian. Pemilik lapak sangatlah bodoh, kebodohannya dimanfaatkan oleh pedagang-pedagang politik yang rakus.

Ruang publik harus diisi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan analisa yang kuat. Mengisi ruang publik tidak hanya karenai ijazah semata, namun juga harus memiliki kemampuan analisa yang kuat. Pendidikan tanpa analisa sama rendahnya, dan analisa tanpa pengetahuan tidak akan terbangun tata kelola berpikir yang metodelogis dan sistematis.

Pendidikan tanpa analisa yang kuat menyebakan kekuasaan dipahami sebagai lapangan pekerjaan, bukan ruang karya untuk kesejahteraan umat. Bagaimana mungkin politik yang begitu rumit pelaksanaannya dapat dipercaya pada orang yang rendah literasi, lemah analisa, dan sedikit bacaannya.

Replika kekuasaan Fir’un bisa saja dipraktekkan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan dan berpendidikan tinggi, bisa juga dipraktekkan oleh orang awam, dan bisa juga dipraktekkan oleh kaum agamawan jika peran dan fungsi penguasa yang dijalankan mengedepankan hawa nafsunya.

Fir’un telah dikutuk oleh banyak orang sebab keangkuhannya. Kutukan ini juga datang dari Tuhan, sehingga Fir’un ditenggelamkan di Laut merah. Fir’un tidak hanya angkuh, tetapi juga tipe penguasa yang susah menerima nasehat kebenaran. Musa dihadirkan Tuhan untuk menasehati kebenaran-kebenaran kepada Fir’un, tetapi dilain pihak Fir’un lebih mendengar bisikan-bisikan orang-orang dekat dengannya. 

Gejala-gejala replika kekuasaan Fir’un dalam realitas sosial sangatlah nyata. Penguasa hari ini tidak sampai pada tahap mengaku diri sebagai Tuhan, tapi ia mengaku sebagai penguasa anggaran secara mutlak. Dengan kekuasaan, dan keangkuhan iblis pun merasa minder berhadapan dengannya. Jika iblis saja merasa minder, lalu bagaimana dengan orang-orang lemah yang mengharap kesejahteraan atas amanah kekuasaan yang dititipkan padanya. 

Jakarta, 12 Juni 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama

MEMBANGUN PERSAHABATAN ADALAH SUNNAH TERBAIK