Reza Saleh:Prototipe Moch. Saleh Muda Tujuh Puluh Tahun Silam

Reza Saleh adalah anak pertama dari tiga bersaudara; Subhan Saleh dan Uli Mulyani Saleh dari ibu Yusmanilis, anak ke lima bapak Mochammad Saleh dari istri ketiga. Bapak Mochammad Saleh adalah pedagang asal tanah Minang, Batu Sangkar. Sebelum menetap di Jawa Barat terlebih dahulu bekerja di Purwokerto Jawa Tengah sejak tanggal 5 Juli 1950. Dan akhirnya menetap di Wanayasa Purwakarta sejak tahun 1952.  Memiliki empat orang istri dan melahirkan tujuh orang anak; terdiri dari tiga anak laki-laki dan empat perempuan.

Hari kedua setelah Suherman Saleh lahir, Mochammad Saleh berangkat ke pulau Jawa dengan tujuan merubah nasib menggapai perubahan hidup yang jauh lebih baik. Kalo saat ini Reza Saleh berhasil meraih gelar doktor, semua itu semata-mata dari hasil perubahan yang dilakukan oleh Mochammad Saleh sejak tujuh puluh tiga tahun yang lalu. Sekarang perubahan itu dapat dilihat pada kiprah anak-anaknya.

Sebelum Reza Saleh menyelesaikan studi doktoralnya, Suherman Saleh terlebih dahulu telah meraih gelar doktor. Suherman Saleh adalah anak ketiga Mochammad Saleh dari istri yang bernama Rohana. Akhir tahun 2020, diusia yang ke tujuh puluh satu (71) tahun lulus dengan pridicat cumlaude dan menjadi wisudawan terbaik angkatan 119.


Di padang luar ada seorang pedagang besar bergelar Datuk Tan Patih adalah pedagang sukses di kota Purwokerto Jawa Tengah, Datuk Tan Patih sosok yang menginspirasi serta menimbulkan keinginan Mochammad Saleh Muda untuk bisa merantau ke Jawa. Keinginan yang besar ini belum tercapai pada saat lahir anak pertama dari istri yang bernama Rohana. Menjawab asa tersebut dinamailah nama Jawa yaitu Sumarni untuk anak yang pertama.

Dua tahun berikutnya lahir lagi seorang anak laki-laki tanggal 4 Juli 1950 sebagai bukti keinginan besar untuk merantau ke tanah Jawa anak tersebut dinamai Suherman. Nama seperti itu sangat populer bagi anak-anak di Jawa. kata “su” dalam bahasa Jawa artinya baik, sementara “herman” juga bermakna baik atau dalam bahasa Arab “khair”. Akhirnya, kata “khair” dalam tutur jawa menjadi “her”. Dan kata “man” dalam bahasa Melayu adalah singkatan dari kata “manusia”.

Nama Suherman dipahami bermakna doa, agar menjadi manusia yang baik. Berikutnya ditambah  nama “Saleh” mengikuti nama orang tua. Dan nama “Saleh” dijadikan laqab keluarga untuk semua anak serta cucunya, atau yang lebih familiar disebut dengan Bani Saleh.

Ekses konflik perang dengan Belanda di tahun 1945, kemudian ditambah lagi dengan kepentingan ke daerahan, meletusnya konflik internal yang dikenal dengan pemberontakan PRRI pasca kemerdekaan membuat masyarakat Minang berdampak secara psikologis. Menghindari situasi konflik perang ditambah lagi dengan buruknya kondisi ekonomi di daerah saat itu banyak dari mereka memilih untuk hijrah ke pulau Jawa.

Merantau memang berpisah dengan sanak famili, tetapi bukan berarti kita kehilangan orang-orang yang dicintai. Merantau memang menjauhkan seseorang dengan saudara di kampung halaman, akan tetapi didekatkan dan dipertemukan dengan saudara di kampung orang. Ini adalah janji alam, satu teman hilang akan dipertemukan dengan banyak sahabat di perantauan.

Sehari setelah Suherman lahir, Datuk Tan Patih mengajak Saleh muda ke Jawa. Namun, saat itu Saleh muda menjawab belum bisa ikut naik kapal laut dari Teluk Bayur ke Jakarta karena belum mempunyai biaya untuk menuju ke Pulau Jawa. Mendengar jawaban seperti itu Datuk Tan Patih mengajukan tawaran tiket kapal dengan syarat selama satu tahun kerja sebagai pembantu di tokonya di Purwokerto. Mendengar solusi yang ditawarkan oleh Datuk Tan Patih langsung disetujui dan segera berangkat ke Jawa melalui Teluk Bayur.

Selama hampir dua tahun Sumarni dan Suherman ditinggalkan di Turawan Tiga Koto bersama ibunya. Kedua anak ini dijaga dan diasuh oleh Mak Tuwo Djarina dan Etek Baidar, serta Datok Tanan Kodo suami Etek Baidah. Dalam adat Minang mengajarkan bahwa “harta pusako milik bundo Kandung”. Hasil kebun dan hasil sawah milik keluarga cukup untuk makan sehari-hari. Penjagaan dan bimbingan Datok Tanan Kodo dan Datok Rajo Mang Kuto dalam membimbing keduanya sangat penting. Keduanya telah berperan menjaga dan menjamin kehormatan Rohana dan anak-anaknya.

Berangkat dari kampung halaman mengadu nasib di perantauan, semangat membawa cita-cita besar adalah rencana setiap orang. Berharap hidup lebih baik khususnya dunia pendidikan untuk generasi berikutnya butuh perjuangan dan masa yang panjang. Prinsip utama bagi perantauan adalah bekerja keras dalam mencari nafkah. Urusan ekonomi sering menutup harapan para perantau menggapai dunia pendidikan.

Berbeda dengan bapak Mochammad Saleh, cita-cita membangun pendidikan untuk dirinya diteruskan oleh putra-putrinya. Lahirnya seorang anak jalan meneruskan cita-cita bagi orang tua. Dan ini dibuktikan oleh anak ketiga Mochammad Saleh yakni Suherman.

Berhasil meraih gelar sarjana akuntan pada Universitas Padjdjaran Bandung (UNPAD), yang kemudian berlanjut menyelesaikan studi magister pada University Erasmus Rotterdam Belanda, dalam waktu sesingkat-singkatnyanya diusia ke-71 tahun berhasil meraih gelar doktor pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2020.

Sejak usia enam tahun Reza Saleh telah yatim. Setelah orang tuanya menghadap ilahi tanggung jawab keluarga diambil alih oleh sodara seayah berbeda ibu dengannya. Suherman Saleh bergelar Datoak Majo Nan Sati adalah sosok kakak yang telah mengukir prestasi dalam hidupnya. Berhasil di dunia kerja sebagai pejabat penting di eranya juga berhasil mendidik adik-adiknya. Motivasi yang ditanamkan pada adiknya “jangan berharap tinggi tanpa persiapan ilmu”.

Menurut Suherman, “Allah menjanjikan siapa pun yang mencari ilmu dan ia menjadi ahli di bidangnya sehingga memengaruhi keimanan dan ketakwaan, bahkan dengan ilmu pula ia akan melaksanakan ibadah, maka pemilik ilmu yang mampu menata dirinya akan diangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat”. Menuntut ilmu bagi keluarga Saleh bukan karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain, kecuali mendapatkan pengakuan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah menamatkan studi pada Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi di Universitas Trisakti, Reza Saleh mengawali karirnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak tahun 1997, karirnya di Pemerintahan diawali menjabat sebagai Kepala Kantor Pajak (KKP)  Bukit Tinggi, KKP Kalideres, KKP Kelapa Gading, dan saat ini menjabat sebaga KKP Madya Kota Bekasi.

Pria kelahiran 28 Oktober 1970 ini, hari lahirnya bertepatan dengan tanggal ikrar Sumpah Pemuda. Tentunya, semangat juang pemuda-pemuda pra-kemerdekaan dalam upaya memerdekakan Indonesia selalu membara dalam jiwanya. Dan ini dibuktikan, menuju tahun memperingati hari sumpah pemuda yang ke-95 Reza Saleh berhasil meraih gelar doktor di kampus IPB University Bogor Indonesia.

Menurut Suherman Saleh yang sering disapa Uda, Reza Saleh tidak seberani kakaknya. Pembentukan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh latar belakang yang berbeda-beda, beda zaman beda pula cara alam mendidik mental generasi. Perbedaan ini disebabkan karena lingkungan hidup.

Suherman Saleh; hidupnya terbiasa dengan lingkungan pedesaan yang keras serta penuh tantangan dengan berbagai masalah yang selalu muncul. Sementara Reza Saleh hidup di lingkungan perkotaan, dan termasuk anak yang dimanjakan dalam lingkungan keluarga. Tetapi, walaupun tidak seberani kakaknya Reza Saleh bukan tipe pantang menyerah. Keberanian sang kakak telah menginspirasi dirinya baik di dunia pendidikan maupun pekerjaan.

Dengan selesainya promosi doktor, sebagai seorang kakak sangat berharap, ilmu yang sudah diperoleh dapat mengukir prestasi tertinggi di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dengan begitu, Reza Saleh dapat meneruskan kepemimpinan Mochammad Saleh, yang sebelumnya terlebih dahulu diteruskan oleh kakaknya.

Sejak lima tahun yang lalu keluarga Bani Saleh sudah dipimpin oleh Reza Saleh. Sebagai doktor di bidang ekonomi, keberadaan Reza Saleh memperkokoh dan memperkuat pikirannya, terutama memberikan rasa  hormat yang lebih tinggi kepada keluarga Bani Saleh. Sehingga, Reza Saleh akan mematuhi pemikiran dan kebijaksanaan yang selama ini diterapkan oleh kakaknya Suherman Saleh.

Intinya adalah; Mochammad Saleh telah berusaha merubah generasi setelahnya agar menjadi generasi yang unggul, serta generasi yang kuat. Pepatah, “hari ini harus lebih baik dari kemaren” telah diteruskan oleh anak-anak Mochammad Saleh. Meninggalkan generasi yang kuat atau generasi yang tidak lemah adalah perintah Alquran. Dengan begitu, jauh-jauh hari Mochammad Saleh telah mengamalkan perintah Alquran dalam membangun keluarga yang kuat secara ilmu, ekonomi, relasi, dan pendidikan.

Sebagaimana Allah Swt berfirman;

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berkata dengan tutur kata yang benar. Q. S. An-Nisa’/004: 9.

Studi doktoral adalah jenjang tertinggi dunia pendidikan hari ini. Banyak orang bercita-cita ingin melanjutkan strata doktoral, tetapi tidak semua orang mampu menyelesaikannya, di samping materi-materi kajian yang dalam juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Berbeda dengan Reza Saleh, di tengah-tengah kesibukannya sebagai pejabat negara ia juga mengisi waktunya untuk belajar melalui pengkajian serius dan mendalam mempelajari krisis kepemimpinan pada kantor pelayanan pajak di era turbulensi ekonomi.

Menjadi pejabat di jajaran Kementerian Keuangan sektor perpajakan menyita pikiran dan waktu, apalagi untuk berfikir menyelesaikan studi tingkat doktoral. Namun berbeda dengan Reza Saleh, pria berdarah Minang berbudaya Sunda ini; sosoknya yang kalem, mudah senyum, dan sangat ramah pada semua orang ternyata memiliki manajemen waktu yang sangat baik. Di samping menjalankan tugas negara juga membangun dialektika pikiran melalui pendidikan. Dan ini dibuktikan dengan temuan penelitian yang berhasil dipertahankan dan layak disosialisasikan ke publik wilayah perpajakan.

Reza Saleh berhasil mempertahankan temuannya pada promosi doktor dengan judul disertasi, “Modal Kepemimpinan Efektif pada Kantor Pelayanan Pajak di Era Turbulensi Ekonomi”, dilaksanakan Rabu 07 Juni 2023, di Ruang Gardania Gedung B, Kampus Sekolah Bisnis IPB University Bogor Indonesia.

Disertasi yang dipromotori oleh Pro. Dr. Ir. M. Syamsul Ma‘arif, M. Eng dan Dr. Lukman Mohammad Baga, M.Aec., Dr. Ir. Herien Puspitawati, M.Sc., M.Sc. Dewan Penguji; Yon Arsal, SE. Ak. M.Sc. M.Ec., Ph.D., Dr. Ir. Anggraini Sukmawati, MM., Dr. Nimmi Zulbainarni, Spi., Msi., Dr. Ir. Diah Krisnatuti, MS., lulus dengan predikat cumlaude.

Keberhasilan Reza Saleh menyelesaikan studi doktoral dan sukses di dunia kerja sebagai pejabat pajak tidak terlepas dari sosok yang selalu mendampingi hidupnya baik dikala suka maupun duka. Peran seorang istri sangat mempengaruhi karirnya. Suami dari Rena Tri Wisudhaningtias ini telah dikaruniai tiga orang anak; Najib, Nabila, dan Nasir.

Setelah menyelesaikan studi magister di Universitas Indonesia (UI), motivasi serta membangkitkan tekat yang kuat untuk melanjutkan studi doktoral, ketika ia melihat kegigihan seorang kakak dalam menuntut ilmu. memasuki usia pensiun, diusia ke-68 tahun masih ingin melanjutkan kuliah strata tiga (doktor). Dalam jangka  waktu dua tahun menyelesaikan studinya.

Semangat seperti inilah yang ditekankan oleh Suherman Saleh pada adiknya, “jika kakakmu Suherman bisa selesai dua tahun, maka Reza yang umurnya jauh lebih muda pasti dapat selesai lebih cepat”. Dengan sampainya tahap promosi Reza Saleh membuktikan bahwa ia dapat menyelesaikan studi doktoral dalam waktu yang singkat.

Keinginan Reza Saleh untuk melanjutkan studi doktor tidak terlepas dari pada langkah yang dilakukan oleh Suherman Saleh. Menyelesaikan studi pada Sekolah Pascasarjan (SPs) Universitas Islam Neger (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, penelitiannya terkait dengan perpajakan, “Pajak Ditinjau Berdasarkan Perspektif Islam”. Kajian ini telah membawa kekaguman para intelektual di jajaran UIN sendiri dan termasuk juga para pimpinan pajak.

Berbeda dengan Reza Saleh, tidak lagi melihat konsep perpajakan menurut Islam, tetapi lebih pada bagaimana para pemimpin pajak menghadapi ketidak pastian dalam penerimaan negara, karena adanya turbulensi ekonomi. Menghadapi badai ekonomi, tentunya penerimaan negara harus dicapai, dilain pihak para pemimpin di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) harus siap menghadapi resiko-resikonya.

Tentunya, penelitian yang dilakukan oleh Reza Saleh dalam disertasinya dapat memberi solusi. Semoga saja grand teori yang dibangun dapat menjadi prototipe dalam mengatasi masalah perpajakan di Indonesia era turbulensi ekonomi, sehingga Reza Saleh layak dipromosikan pada posisi yang lebih tinggi.

Hari ini, gaya kepemimpinan seperti Reza Saleh yang dibutuhkan oleh negara ini; pribadi yang lues, lembut, sopan, tidak arogan, apalagi menciptakan permusuhan di lingkungan kerja dan persahabatan,  lebih-lebih lagi di lingkungan keluarga. Sehingga, sebagai Kepala Kantor Pajak (KKP) Reza Saleh telah hadir sebagai pribadi yang manis; dalam artian disukai oleh bawahan dan pimpinan. Tentunya di mana pun ditempatkan dan ditugaskan selalu menyuguhkan hasil yang  manis pula; yakni hasil yang membawa manfaat besar bagi negara.

Pemimpin yang bekerja berdasarkan ilmu dengan menempatkan orang yang tepat. Dha’ kulli syai in fil makan, “tempatkan sesuatu itu pada tempatnya”. Peran ahli tidak hanya dilihat dari penguasaan akan masalah yang dihadapi, tetapi juga dilihat dari cara bagaimana ia menyelesaikan masalah tersebut.

Memiliki kemampuan bagaimana memenej masalah tidaklah dimiliki oleh banyak orang. Negara ini bukan hanya butuh ahli-ahli di bidangnya, profesionalitas kerja juga menjadi masalah utama, apalagi menyangkut dengan keuangan negara. Sektor perpajakan adalah sumber utama pendapatan negara, maka pribadi-pribadi yang amanah, santun, cerdas, dan ulet sangat dibutuhkan.

Tugas kantor pajak menurut Suherman Saleh adalah mengumpulkan uang. Artinya, perkembangan ekonomi harusnya secara normal naik lima belas atau dua puluh persen setiap dekadenya. Jika ada kata turbulensi itu tandanya terjadi kekacauan, turun-naik sehingga tidak ada kepastian.

Menghadapi ketidak pastian ekonomi ini tentu saja sebagai peneliti yang telah berhasil mempertahankan hasi research-nya Reza Saleh mampu memberikan berbagai trik atau saran bagaimana bisa mengatasi turbulensi ekonomi secara akademik dan praksis.

Dulu; tujuh puluh tiga tahun yang lalu, telah berlayar Saleh muda dari tanah Minang mengadu nasib ke pulau Jawa. Jika saja Mochammad Saleh berangkat ke tanah Jawa tanpa membawa apa pun, untuk membiayai perjalanan yang ditempuh melalui jalur laut pun Mochammad Saleh harus bekerja sebagai penjaga toko selama satu tahun. Maka, sekarang anak cucunya tanpa harus mengorbankan apa pun yang dimiliki dalam menunjang pendidikan untuk menjadi generasi yang unggul di bidangnya.

Akhirnya, dengan berhasilnya Reza Saleh meraih gelar doktor, segenap keluarga Bani Saleh berharap realisasi dari pemikiran, kiprah, dan  kepemimpinannya sekaligus dimohonkan untuk meneruskan apa yang selama ini dicita-citakan oleh H. Mochammad Saleh. 


Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh Mochammad Saleh tujuh puluh (70) tahun yang lalu benar-benar menjadi tonggak sejarah bagi keluarga Bani Saleh untuk masa yang akan datang dan berguna untuk bangsa dan negara. Ujar Ketua Umum  Asosiasi Konsultan Pajak Pablik Indonesia (AKP2I) Datuk Majo Nan Sati Dr. Drs. Suherman Saleh, Ak. MSi., CA.

IPB University Bogor Indonesia, 7 Juni 2023






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama