DIBENCI JALAN TERBAIK MEMANDIRIKAN JIWA


Bagi pemikir raganya sepi, namun jiwanya ramai. Lebih baik dibenci karena berfikir dari pada dimusuhi karena mengikuti. Dibenci karena berfikir bukanlah aib, sementara dimusuhi karena mengikuti pikiran orang lain membiarkan diri menempuh jalan yang buruk. 

Aktifitas berfikir pertanda jiwa hidup, menerima pikiran atas kepentingan orang lain pertanda jiwa mati. Orang-orang yang menghidupi jiwanya tidak pernah memanfaatkan kebodohan orang lain untuk kepentingan dirinya. Kekuasaan yang diserahkan pada orang yang mati jiwanya, jalan buruk bagi raga yang hidup.    

Berusahalah dibenci oleh banyak pihak, karena tidak semua yang dibenci buruk. Justru orang-orang yang menaruh rasa suka sering mencipatakan buruk pada akhirnya. Lumrah terjadi, orang yang cepat manaruh suka maka cepat pula mengukur manfaat. Dibenci bukan hal yang buruk, melainkan rasa suka yang ditunda. Sikap baik yang nampak sebab pengetahuan terlambat mengetahui asalnya. Jika sudah dibenci tidak perlu lagi berfikir tentang diri mereka. 

Mencitrakan diri sebagai orang baik bentuk penjajahan psikologis pada pihak-pihak yang lain. Orang-orang sangat mudah terjebak dengan sikap baik. Lumrahnya, orang yang menunjukkan sikap baik banyak hal yang sedang diincar. 

Dibenci oleh banyak pihak bukan berarti menciptakan permusuhan, melainkan penempatan jarak saja. Lebih baik menjauh dari pada dekat tapi tidak terhubung manfaat. Disukai banyak pihak meresahkan,  sebab setiap saat harus berfikir yang terbaik untuk orang yang menyukai, dan ini pekerjaan yang berat.

Dibenci melalui pikiran lebih mulia dibandingkan disenangi dengan sikap. Dibenci dengan pikiran memancing perang argumentasi. Sementara dimusuhi adalah sikap yang menimbulkan buruk sangka. Buruk sangka telah menyebabkan manusia saling berjarak raganya. Karena, buruk sangka sikap mendadak yang datang dari prilaku seseorang yang kerdil. Orang yang kerdil tidak tahu membedakan benci dalam bentuk pikiran dan dimusuhi dalam bentuk sikap.

Pencitran baik telah terjadi dalam berbagai wilayah sosial; baik personal, kelompok, lembaga, politik, pemerintah, dan berbagai kelompok lainnya. Orang yang pandai mencitrakan dirinya baik ibarat musuh dalam selimut. 

Sementara, orang yang mudah dibenci karena pikirannya tidak mudah mendapat tempat yang baik. Padahal, musuh dalam selimut sangatlah berbahaya. Berbeda dengan pikiran yang dibenci, argumentasinya sering mengungkapkan fakta yang tidak disadari oleh banyak pihak. 

Menjadi baik tidak bisa diukur dengan performa diri. Kebaikan adalah nilai yang berdiri sendiri. Tidak ada pengertian baik yang sifatnya mengikat, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Setiap kita baik melalui jalan-jalan masing-masing, jalan-jalan kebaikan ini saling mengisi. Tidak bisa kebaikan bersifat tunggal berpihak pada satu orang saja.

Bicara kebaikan adalah bicara kebenaran. Kebenaran dapat dilihat dari berbagai sudut; ada kebenaran mutlak, ini wilayah teologial. Istilah teologi berasal dari bahasa Yunani; telos yang berarti akhir, dan logos berarti perkataan. 

Menurut Cristian Wolf, teologi adalah ajaran yang menerangkan bahwa segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Dalam ajaran Islam kebenaran mutlak sifatnya absolut, karena apa pun yang terjadi di alam semesta bermuara dari dzat yang satu. Kebaikan mutlak sifatnya sakralitas.

Di lain pihak, kebenaran dalam wilayah kebudayaan, ini bersifat transaksional. Budaya yang berlaku pada satu tempat tidak dapat dihilangkan oleh karena adanya budaya yang datang. Bertemunya dua kebudayaan biasanya membawa keuntungan bersama. Di sinilah, hukum transaksional berlaku, pada saat dua budaya bertemu lahirlah sopan santun dalam bersikap. Manusia adalah makhluk berkebudayaan. Melalui perangkat budaya terwujud hubungan yang baik.

Kebenaran dalam wilayah hukum, ini sifatnya mengikat. Bicara hukum bicara keadilan. Alquran telah menyebutkan bahwa diutusnya Nabi Daud as untuk menegakkan keadilan atas manusia. Daud dan Adam dijadikan Tuhan untuk menjadi Khalifah di muka bumi. Adam dijadikan Khalifah dalam konteks personal, sementara Daud dijadikan Khalifah dalam konteks komunal (mengelola pemerintahan).

Kebenaran hukum ditegakkan melalui keputusan-keputusan yang rumit. Negara menciptakan banyak perangkat untuk menjalankan aturan yang yang telah disepakati; melalui kementerian hukum, kejaksaan, hakim, jaksa, pengacara, penyidik, Mahkamah Agung, pengadilan, dan lain sebagainya. Serta juga melalui proses pengadilan yang panjang; dimulai dari penyelidikan, tersangka, terdakwa, terhukum, saksi, pembelaan, putusan, banding, dan hukuman. 

Semua itu adalah perangkat untuk mewujudkan kebenaran hukum. Dan banyak lagi kebenaran yang lainnya; seperti kebenaran agama, logika, politik, adat, resam, dalil, kaedah, dan berbagai wilayah kebenaran lainnya, yang mana keberadaan tidak dapat dikompromikan dengan kepentingan apa pun. Sebab ia bersifat profanitas.

Begitu juga dengan kebaikan dilihat dari sudut perannya. Ada orang baik dengan pemikirannya, ada orang baik dengan sikapnya, ada orang baik dengan tindakannya, ada orang baik dengan hartanya, ada orang baik dengan kemiskinannya, ada orang baik dengan jabatannya, ada orang baik dengan usahanya, ada orang baik dengan pendidikannya, ada orang baik dengan keputusan-keputusannya, ada orang baik dengan ide-idenya, dan masih banyak kebaikan-kebaikan terkadang tersembunyi dari perhatian manusia. Jika saja orang-orang telah baik dengan dirinya masing-masing, lalu untuk apa merasa baik atau berpura-pura baik pada semua orang.

Nabi Muhammad Saw telah hadir sebagai sosok yang tidak hanya baik, tetapi juga menginspirasi kebaikan bagi dunia. Kebaikan yang melekat pada diri Nabi tidak hanya diakui oleh dalil, muslim, bahkan non-muslim sekalipun. Nabi Muhammad Saw telah ditempatkan sebagai tokoh berpengaruh dunia. Kebaikan yang melekat pada diri Nabi menjadi rahmat tidak hanya bagi makhluk hidup, benda mati, bahkan bagi seru sekalian alam.

Berbeda dengan kebaikan yang dicitrakan oleh manusia, tidak bermanfaat untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain. Yang lahir dari pencitraan baik adalah membawa tekanan psikologis bagi orang lain. Ini termasuk penjajahan terhadap jiwa-jiwa yang lain. Bahkan dari pencitraan baik tanpa kita sadari menciptakan dewa pada individu tertentu. Prilaku yang demikian jauh-jauh hari telah dipraktekkan oleh syaithan. Iblis dengan kesombongannya telah mencitrakan dirinya sebagai orang baik, sehingga ciptaan Tuhan yang lain dianggap lebih buruk darinya.

Aku (kata syaithan) lebih baik dari Adam. Aku diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah. Orang yang mencitrakan dirinya baik, selalu melihat diri dari asal mula penciptaannya, keturunannya, kedudukannya, kepemilikannya. Atas pencitraan tersebut hanya bermanfaat untuk dirinya saja, dan tidak pernah medatangkan kebaikan untuk orang lain. 

Bersikaplah biasa-biasa saja tanpa merasa lebih baik dari yang lain, apalagi mencitrakan diri sebagai orang baik. Pencitraan hanya mendatangkan kebaikan untuk diri sendiri; dan ini berlaku dalam konteks sosial, budaya, dan politik. Orang yang suka membangun citra diri baik selalu berfikir menyingkirkan banyak pihak, dengan cara mengabaikan banyak hal.

Berusaha dibenci melaui ide dan pikiran bukan berarti menebar permusuhan dengan pihak-pihak lain, melainkan untuk mendapatkan respon yang ketat dari wacana-wacana yang disampaikan. Ide harus dipertengkarkan, ide yang dibuat hangat dapat mempertajam libido berfikir banyak orang. 

Dalam berbagai konteks ide mesti dibangun kontradiktif, sebab pikiran yang dikompromikan itulah pencitraan yang dapat menjebak orang-orang baik tertipu. Jika orang baik sudah berhasil ditipu, maka pribadi-pribadi buruk akan menempatkan diri sebagai pihak yang terus-menerus menguasai.

Sampaikan pikiran baik walaupun menyakitkan. Apa yang dilakukan saat ini tidak perlu banyak orang tahu, dan apa yang pikirkan juga tidak penting harus dimengerti oleh banyak orang. Sebab tindakan saat ini itulah diri dimasa yang akan datang, masa itu akan terus mendekat dengan tindakan-tindakan sekarang. Patron berfikir yang digunakan orang-orang saat ini adalah tindakan yang lahir dari ide yang dipertentangkan oleh orang-orang terdahulu.

Pikiran dan ide yang hari ini diutarakan tidak perlu harus diketahui saat ini juga. Ide-ide yang dipertengkarkan butuh waktu untuk dibenarkan. Pikiran dan ide-ide yang dipertentangkan hari ini akan menjadi patokan berfikir dimasa yang akan datang. 

Maka, perlu memperhatikan gejala-gejala yang muncul di realitas untuk dipertentangkan. Gejala-gejala itu tidaklah muncul dengan sendirinya, tapi ia hadir karena sebuah rencana. Setiap orang memiliki rencana, tidak perlu kita risau dengan rencana-rencana tersebut, cukup perhatikan dengan baik apa manfaat yang dapat kita ambil dari rencana-rencana yang sedang dijalankan.

Tentunya rencana pihak yang berkepentingan atas kebijakan harus dilihat  keberdasarkan pentingan kolektif. Jika ini tidak memihak pada apa yang dicita-citakan bersama, maka beritahulah dengan pikiran-pikiran itu. 

Seseorang dengan kekuasaan di tangan berencana sesuatu, sementara sebagian yang lainnya dengan kekuatan pikirannya juga merencanakan sesuatu. Bukan tindakan itu yang harus dipersoalkan, dan bukan pikiran itu pula yang mesti diperdebatkan. Lalu apa; perhatikan tindakan dan pikiran tersebut apa untungnya buat masyarakat secara kolektif.

Menyampaikan pikiran-pikiran sangatlah sulit untuk dimengerti ide-idenya, sebab yang namanya pikiran-pikiran menjangkau masa yang jauh ke depan, ia menyingkap sesuatu yang masih tersembunyi. Tiba masa di mana apa yang dulu terpikirkan dengan apa yang dikala itu dilihat, pada saat itulah pikiran-pikiran secara kolektif akan menyadari.

Sampaikanlah pikiran-pikiran itu walaupun dimusuhi banyak pihak, dan biarkan saja orang-orang mengacuhkannya. Pikiran yang diperdebatkan dengan dialektika yang baik akan melahirkan wacana kritis baru. Inilah wilayah intelektual yang harus diasah terus menerus. Dalam bentuk pikiran apapun teruslah membangun kekuatan imajiner. 

Jangan pernah pikirkan apa yang publik utarakan terhadap pikiran-pikiran itu, walaupun disimpulkan buruk. Pikiran-pikiran yang lemah cenderung sukar menangkap makna yang baik. Sebab, berfikir adalah pekerjaan yang berat. Oleh sebab itulah banyak pihak memilih berhenti memperdebatkan banyak hal. Karena itu, banyak pihak memilih jalan menghukumi.

Menjemput untuk dibenci adalah pilihan terbaik bagi orang-orang yang memilih jalan sunyi. Bagi pemikir raganya sepi, sebab ia selalu menyendirikan raganya, namun jiwanya ramai bersama puing-puing kebijaksanaan yang dipancarkan alam semesta. Kesunyian raga  dalam rangka menuju kebijaksanaan dengan cara mengosongkan jiwa dari kepentingan subjektif.

Objektivitas menempatkan kebenaran pada tempatnya. Kebijaksanaan lahir pada diri yang ramai jiwanya tapi sepi raganya. Raga yang dibentuk dari jiwa yang sepi tidak memiliki kepentingan apapun kecuali menebar kasih di setiap waktu. Seyogianya, pemimpin adalah pemikir yang memilih jalan dibenci oleh banyak pihak yang berkepentingan. 

Raihlah kebencian banyak pihak, agar raga sepi dari banyak kepentingan, dan jiwa ramai dalam memahami segala persoalan orang banyak. Lanjutkan pikiran wacana kritis itu, biarkan pikiran yang tak sampai membencinya. Hanya satu hal yang tidak dapat diikuti oleh siapa pun dalam hidup ini; yakni pikiran yang terus dikembangkan. Jangan hukumi pikiran yang diucapkan, tapi pahamilah ke arah mana pikiran itu dituju, jangan terpana oleh tindakan pencitraan, tapi jangkaulah apa yang dituju olehnya setelah melakukan sesuatu. Dunia pencitraan adalah aktifitas menipu dalam terang.

Mengikuti pikiran yang dicitrakan sama dengan tunduk pada takdir yang buruk. Sejauh ini orang-orang mulai mencitrakan diri baik, tanpa cela sedikit pun. Dalam dunia kekuasaan tidak ada yang memilih jalan untuk dibenci, kecuali saat kekuasaan di tangannya dan kuasa penuh mengelola anggaran. Pikiran yang selalu mencitrakan diri baik cenderung arogan dalam menjalankan kekuasaan, dan melupakan perihal keberadaannya dibenci banyak pihak.

Jakarta, 21 Juni 2023.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama

MEMBANGUN PERSAHABATAN ADALAH SUNNAH TERBAIK