HMI MEMBANGUN PERADABAN DI RANAH SOSIAL




Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sangat solit dalam melakukan pengkaderan kepemimpinan pada kader-kadernya. Melalui pengkaderan tersebut terbinanya kader pemimpin yang mampu menerjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam gerak perubahan sosial. 

Kiprah HMI dalam membangun bangsa ini telah terbukti. Hampir di berbagai level kepemimpinan kader HMI ikut berperan. Baik kiprahnya dalam ranah politik, struktural, dan tidak jarang juga tokoh-tokoh HMI membangun konsepsi pemikiran melalui pemikiran-pemikiran ilmiah yang dituangkan dalam berbagai judul buku. 

Tujuan dari pengkaderan adalah menghadirkan calon-calon pemimpin bangsa yang kompeten untuk masa yang akan datang. Dari pengkaderan inilah bibit-bibit kepemimpinan dibina, dan melalui Latihan Kader berjenjang baik LK I, LK II, dan LK III ditempa kemampuan leader dalam diri pemuda Islam, sehingga keberadaan mereka tidak hanya mampu berkompetisi namun juga mampu berkontribusi dengan siapapun.

Dr. Suherman Saleh, dalam penyampaiannya menganalogikan Latihan Kader ibarat sekolah berjenjang. Dalam tradisi pendidikan hari ini proses pendidikan berjenjang strata satu, dua, dan tiga. Ketiga jenjang ini memiliki ciri khas dalam menentukan metodenya. 

Level sarjana mengungkapkan teori, jenjang berikutnya upaya untuk membandingkan teori, dan pada level doktoral sampai pada berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan teori-teori serta pola baru dalam memecahkan masalah. Sehingga pada tahap ini masalah tidak lagi dilihat sebagai biang, melainkan sebagai ajang untuk berfikir.  

Begitulah analoginya, LK I ciri khasnya melatih kemampuan mengerjakan pekerjaan tehnis dengan landasan moral keislaman. LK II dilatih cara berpikir membuat tugas-tugas dengan tema-tema terupdate. LK III melatih bagaimana memanfaatkan kesempatan dan memecahkan tantangan dengan pemikiran-pemikiran baru. Sehingga, alumni LK III adalah jenjang tertinggi dalam proses pengkaderan untuk menjadi pemimpin.


Islam telah sejak dulu membangun peradaban. Konsepsi-konsepsi pemikiran telah membawa pola pikir berkemajuan dari masa ke masa. Berabad-abad lamanya, bahkan sejak Nabi Adam peradaban sudah terbangun. Peradaban itu dimulai bagaimana Tuhan memberi tahu nama-nama benda sebagai simbol peradaban untuk manusia. Adam telah diberi pengetahuan terkait dengan alam ini, yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan di bumi.

Transformasi pemikiran dan konsep-konsep secara profesional dalam pengkaderan kepemimpinan yang dilakukan oleh kader mahasiswa Islam, upaya ini tidak terlepas dari bagaimana memahami dengan kesadaran penuh akan perubahan sosial yang semakin hari semakin cepat bergerak.

Gerak peradaban semakin cepat, manusia terus membangun kebudayaannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Semakin berkembang ilmu pengetahuan, maka semakin berkembang pula manusia membngun peradabannya.

Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah alasan utamanya adalah membangun peradaban melalui komunitas yang jauh lebih besar, dan dikelola melalui konsep politik. Negara Madinah yang dibangun oleh Nabi menjadi simbol peradaban tidak hanya untuk muslim semata melainkan juga untuk seluruh manusia.



Kader HMI tidak hanya menjadi pelaku perubahan itu sendiri, melainkan juga menjadi bagian yang menyumbang pemikiran, serta hadir sebagai konseptor. Dengan menghadirkan ketiga peran tersebut, kader HMI dapat mewarnai segala lini kehidupan dan di berbagai level kepemimpinan yang bermartabat.

Orang hebat telah banyak, namun yang bermartabat sangatlah sedikit. Negeri ini butuh generasi yang bermartabat, bukan generasi yang congkak dengan kemapanan, ilmu, dan kekuasannya. Melalui pengkaderan HMI berperan dalam upaya mempersiapkan kader kepemimpinan yang tidak hanya hebat namun juga bermartabat.

Ada tiga hal agar cita HMI tercapai dalam membangun peradaban, yang mampu mengatasi tantangan zaman. Pertama, memahami filosofi ikrar dalam shalat, sesunggunya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah rabbul 'alamin. Nabi Muhammad telah merubah peradaban Arab jahiliyah menuju peradaban yang islami sebab berkomitmen dengan shalat. 

Di sini kader HMI dituntut tidak ada satupun yang tidak mendirikan shalat, tentunya shalat yang membangun peradaban atas perubahan sosial yang terus dihadapi oleh umat manusia. Melalui filosofi shalatlah kita dapat mengumpulkan kekuatan. Melalui konsep shalat kader HMI harus membangun pemikiran yang profesional, dan menurunkannya dalam gerak perubahan sosial si ruang publik.

Kedua, himne, dalam ikrar HMI ada kata "kemajuan". Kata yang digunakan dalam himne HMI ini jauh-jauh hari telah disampaikan oleh Nabi Muhammad sejak empat belas abad yang lalu, bahwa kemajuan yang dimaksud adalah "hari ini harus lebih baik daripada hari kemaren". 

Artinya, Nabi Muhammad telah menanamkan semangat kemajuan kepada umatnya untuk melakukan perubahan demi perubahan berdasarkan zamannya (antum a'lamu bi umri dunyakum). Kemajuan akan didapat ketika kita saling menghargai satu sama lain. Menghormati dengan menebar kasih antar manusia. Bagi siapa yang tidak menebar kasih iya akan menuai benci di bumi (man lam yarham lam yurham).

Ketiga, apa peran HMI dalam membangun peradaban. Membangun di sini adalah membangun kebangsaan. Indonesia adalah sebuah bangsa yang memberi kesempatan pada siapapun berkontribusi untuk menjadi generator penggerak (pemimpin) dengan membawa konsep "kemajuan berpikir" untuk membangun Indonesia yang berkemajuan dan berperadaban. 

Jargon HMI "yakin usaha sampai" bermakna sampai pada target yang tertinggi,.yaitu menegakkan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan sebagai amanah undang-undang serta amanah Tuhan dan Rasulnya di setiap jenjang kehidupan. Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk mencapai sesuatu yang diinginkan oleh Islam. Mengingat bangsa ini mayoritas adalah Muslim, dan para pejuang kemerdekaan atas bangsa ini sebagian besarnya adalah Muslim, maka mewujudkan nilai dari cita-cita Islam sebuah keharusan..

Cianjur, 24 Juli 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama