AN-NAAS: REVEALING AT THE SAME TIME COUNSELING










Manusia pada satu sisi diciptakan untuk saling mengenal di antara satu dengan yang lain, pada sisi yang lain manusia juga diminta untuk berhati-hati dengan manusia yang lain. Dua dalil yang berbeda menunjukkan dualisme makna yang berlawanan. Satu sisi manusia sebagai suatu komunitas untuk saling memperkuat sementara sisi berikutnya manusia seolah-olah diciptakan bak ancaman, bahkan lebih jauh dari itu manusia diminta untuk berlindung dari kejahatan yang ditimbulkan oleh manusai itu sendiri. Kedua ayat ini mengandung dua makna yang tersirat revealing at the same time counseling.

Pada surat al-Hujarat Tuhan mengabarkan bahwa penciptaan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan dan dijadikannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tujuannya untuk saling mengenal baik dalam konteks sosial, politik, dan budaya. Penciptaan manusia yang telah mencapai lintas benua, letak geografis tidak lagi menjadikan manusia terhambat dalam membangun komunikasi baik dalam konteks personal dan komunal.

Melalui perangkat teknologi komunikasi informasi masayarakat dunia dapat dengan mudah memperkenalkan diri antar personal. Tentunya, konsep lita’arafu yang dibangun Alquran tidak hanya mengenal fisiknya, melainkan lebih dari pada itu. Namun, keberadaan media komunikasi hari ini minimal telah menyediakan tempat untuk saling mengenal walaupun tidak membangun keteladanan. An-Nas disebutkan dalam dua tempat yang sama tetapi fungsi dan out put yang berbeda.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ  

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. Q. S. Al-Hujarat/049: 13.

Ayat di atas me-revealing (mengemukan) bahwa manusia harus membangun keharmonisan dengan sesama, tanpa memisahkan manusia oleh karena iming-iming yang lain. Sebab, keberadaan manusia dalam penciptaannya adalah sama. Manusia dalam penciptaannya tidak dibedakan oleh jenisnya, kecuali dibedakan latar belakang budayanya. Perbedaan budaya inilah dikemukakan untuk saling mengetahui satu sama lain, dalam pengertian mencari titik kesamaan bukan koordinat perbedaan apalagi saling membangun permusuhan.

Realitas yang  dihadapi manusia dalam sejarah yang panjang adalah saling menyerang satu sama lain. Kehidupan manusia sepanjang sejarah tidak pernah keluar dari konflik kepentingan. Kepentingan inilah yang menyebabkan manusia saling menumpahkan dari. Menyerang satu kelompok oleh kelompok yang lain telah berlangsung dalam komunitas yang dibangun atas dasar kepentingan masing-masing keompok. Setelah manusia membangun kelompok yang besar lalu muncul perang. Satu kelompok menyerang kelompok yang lain, sejarah perang sudah tercatat dalam sejarah bagian dari kenyataan yang harus diakui oleh manusia itu sendiri.

Sampai saat ini manusia masih hidup dalam suasana perang, sebagian tempat masih berperang fisik yang melenyapkan manusia itu sendir. Sementara sebagian tempat berperang dalam konteks perang ekonomi. Perang fisik dan perang ekonomi sama-sama dipicu oleh kepentingan masing-masing pihak. Politik tidak hanya membangun peradaban yang baik untuk manusia, politik juga membangun peradaban buruk. Sehingga, dengan alasan kepentingan ekonomi dan politik perang masih saja dijadikan solusi.

Kondisi dunia yang dibangun atas dasar kepentingan inilah Tuhan tidak hanya me-revealing keberadaan manusia tetapi juga meng-counseling kan bahwa manusia juga harus berhati-hati dengan sesamanya. Manusia dapat menjadi ancaman bagi manusia yang lain, ini disebabkan dominannya bagi manusia membawa kepentingan masing-masing, bukan membawa rasa sehingga konsep lita’arafu membangun peradaban yang baik antar personal dan kelompok.   

Melalui surat an-Nas Tuhan tidak hanya menyuruh untuk berhati-hati atau was-was dengan manusia melainkan juga diminta untuk berlindung. Ini sebuah makna bahwa manusia benar-benar hadir sebagai ancaman bagi manusia yang lain, tentunya manusia yang selalu mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dan ini juga berlaku dalam kelompok kecil, serta juga kelompok besar dalam konteks bernegara.

Politik kepentingan telah membawa manusia lebih beringas dari pada binatang buas. Mungkin inilah alasan yang tepat bahwa manusia tidak hanya diperintahkan untuk berhati-hati tetapi juga meminta perlindungan dari kejahatan manusia itu sendiri. Satu sisi manusia dikemukan sebagai makhluk saling membuka diri (revealing) untuk saling mengenal, pada sisi yang lain bermakna counseling bahwa manusia adalah ancaman. Bahkan tanpa kita sadari, apakah begitu seriusnya ancaman yang ditimbulkan oleh manusia pada sesama manusia sehingga Tuhan menutup firmannya dengan kalimat minal jinnati wannas (kejahatan itu datang dari kalangan jin dan manusia), manusia yang membawa nafsu serakah bersamanya.

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ  - مَلِكِ النَّاسِۙ - اِلٰهِ النَّاسِۙ - مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ -  الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ -  مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Katakanlah; aku berlindung kepada Tuhannya Manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. Q. S. An-Nas/114: 1-6.

Diciptakan sebaik-baik bentuk bukan berati sempurna. Ketidaksempurnaan penciptaan manusia bukanlah bentuk fisiknya melainkan bentuk psikisnya. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang notabenenya adalah pelupa. Manusia lupa fitrah penciptaannya untuk saling mengenal satu sama lain. Sifat lupa inilah Tuhan membangun penyadaran melalui dua ayat berbicara tentang manusia yang terletak pada surat yang berbeda.

Manusia adalah makhluk yang unik, kehadiran manusia antara satu dengan yang lain tidaklah sama, baik bentuk maupun sifatnya, hatta anak yang lahir kembar sekalipun keunikannya tetap saja terlihat. Alquran memberi gambaran dalam menjelaskan tentang manusia terkait karakter yang melekat pada setiap manusia berdasarkan suku kata yang dimunculkan seperti kata "anasa" dan "nasiya.

Anasa bermakna manusia adalah makhluk yang bergerak terus mengiringi masa; baik zaman maupun putaran hidup yang terus berkembang secara sosial, politik, ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, budaya, dan agama. Bagi yang tidak mampu bergerak mengikuti zamannya maka ia akan kehilangan kesempatan terbaik. Manusia dalam berbagai konteks hadir sebagai peneliti dan sekaligus sebagai objek yang diteliti.

Keseimbangan sering tidak muncul di antara manusia jika antar personal saling meng-objekkan diri. Subjektivitas bukan bermakna masing-masing manusia merasa benar dengan sendirinya, melainkan keberadaannya sebagai pelaku bukan sebagai pihak yang dilkukan, sehingga masing-masing meng-objekkan dirinya. Artinya, masing-masing merasa lebih baik. Bukan hanya dalam memperlakukan  manusia saja, melainkan juga makhluk yang lain harus diposisikan sebagai subjek. Kemudian tidak lagi ada yang dinomor duakan perhatiannya antar sesama makhluk, kecuali prioritasnya saja.

Mencermati manusia dalam konteks nasiya; manusia adalah makhluk pelupa. Memori yang terbatas membuat manusia cepat kehilangan kesadarannya. Karena itulah kesalahan yang dilakukan manusia dimasa lalunya cepat terlupakan. Banyak faedahnya keberadaan manusia sebagai makhluk pelupa, karena lupa manusia terus-menerus mesti dinasehati secara berulang-ulang dengan nasehat yang sama. Kondisi seperti ini membuat kerja para ulama, dosen, guru, ustadz, dan teungku menjadi sangat mudah, dengan mengutarakan materi yang sama mereka bisa menyampaikannya secara berulang kali.

Manusia sebagai makhluk pelupa juga menguntungkan dalam gerak sosial dan politik. Bayangkan, orang-orang yang dulunya sudah tidak mendapatkan tempat di ruang publik sebab buruk prilaku dan sifatnya saat kekuasaan ada di tangannya; dalam prosesnya mereka banyak melakukan kesalahan yang merugikan umat. Dengan memanfaatkan modal "lupa" kehadiran mereka ditahun politik selalu mendapatkan panggung. Bahkan mereka berani mencalonkan dirinya sebagai kontestan politik pada pemilihan masa yang akan datang.

Melupakan kesalahan orang lain sangat dianjurkan dalam Islam, tetap ini dimaksud dalam konteks kesalahan yang sifatnya personal bukan dalam konteks komunal, apalagi terkait dengan urusan publik secara keseluruhan. Kekuasaan bukanlah bicara personal hingga dosa yang dilakukan pun dipahami sebagai dosa komunal. Orang-orang yang dulunya telah bermasalah dengan dirinya seharusnya tidak diberikan panggung lagi di ruang publik. Partai politik wajib memblacklist keberadaan mereka sebagai orang yang dicalonkan kembali pada pemilu yang akan datang.

Sepertinya, ini tidak berlaku dalam sistem politik etis kita, orang-orang yang pernah hadir sebagai pihak yang mengecewakan dimasa lalu kini kembali diberikan panggung politik, bahkan foto-foto mereka beredar secara masif di media-media. Artinya, mereka ini bukan hanya berani tetapi juga tidak memiliki rasa malu sedikit pun. Mari kita lupakan kesalahan orang lain dalam bentuk personal, tetapi tidak melupakan dosanya dalam konteks komunal politik kekuasaan.

Etika dasar barometernya adalah diri sendiri, jika diri sendiri saja sudah bermasalah otomatis dalam konteks yang lebih luas ia akan melakukan kesalahan yang sama dalam bentuk yang berbeda. Jika marwah dirinya saja ia tidak bisa menjaganya dengan baik secara personal lalu bagaimana ia mampu menjaganya dalam konteks komunal, yang mana urusannya sangatlah kompleks, tidak hanya menyangkut dengan dirinya juga terkait dengan persoalan orang lain dalam berbagai konteks.

Kalo mereka tidak punya rasa malu; berani tampil kembali di ruang publik, maka yang perlu dilakukan saat ini adalah update kembali memori lupa pada setiap kita sebagai dasar sifat manusia, sehingga tampilan-tampilan yang pernah dipertontonkan oleh mereka dimasa lalu kembali muncul dibenak kita, maka memori itu perlu dibangkitkan lagi hingga layar keburukan itu benar-benar muncul kembali dalam pikiran kita saat melihat gambarnya. Hal ini dilakukan agar kita tidak terjatuh pada lobang yang sama dengan orang yang sama pula. Dalam dunia politik peristiwa-peristiwa yang menggelitik bisa saja terjadi.

Politik telah membangun permusuhan oleh manusia yang membawa kepentingan parsial. Politik yang seharusnya dipahami sebagai jalan mengantarkan kesejahteraan bersama akhirnya tidak terwujud akibat bawaan sifat lupa. Manusia sangat cepat melupakan lingkungannya jika saja semangat persahabatan profetik tidak dibangun. Bahkan manusia lupa dengan orang-orang yang telah membesarkannya. 

Hanya satu yang tidak pernah dilupakan oleh manusia; yakni manusia tidak pernah lupa membanggakan dirinya atas apa yang telah ia peroleh dan miliki atas materi dunia. Dengan alasan lupa manusia tidak dibenarkan hanya membangun kepentingan sendiri. Atas dasar itulah pikiran manusia diingatkan melalui konsep revealing at the same time counseling.

Jakarta, 28 Mei 2023 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama