Sidratu al-Muntaha: Puncak Kesadaran Semesta


Sidratulmuntaha adalah tempat tertinggi yang pernah dilalui oleh Nabi Muhammad. Terdiri dari kata "sidrah" dan "muntaha". Kata "sidrah" bermkna kesadaran. Kata ini juga diadopsi dalam bahasa Nusantara dengan ungkapan "sadar". Sadar adalah sebuah rasa yang dapat memaknai dengan sempurna keberadaannya, dan lingkungan yang mengitarinya.

Kesadaran manusia menurut Hasan Hanafi terdiri atas tiga, di antaranya adalah kesadaran historis, kesadaran spekulatif, dan kesadaran praksisi atas realitas yang sedang dihadapi. Nabi Muhammad adalah simbol kesadaran paripurna. Sehingga, melalu kesadaran Rasul penutup zaman ini manusia menangkap kesadaran-kesadaran lainnya.

Sementara kata "muntaha" bermakna puncak. Di sini dapat dipahami bahwa pemhaman "sidratulmuntaha" adalah puncak kesadaran yang harus dilalui oleh manusia. Sidratulmuntaha ini terletak di langit ke tujuh. Pada dasarnya bentuk langit secara pisik sangatlah sulit untuk dimengerti, karena  tingkatan langit tidaklah dijelaskan secara rinci. Namun pada dasarnya lapisan langit ini nyata bagi kita di dunia.

Keberadaan "sidratulmuntaha" di lapisan langit ketujuh, ini bermakna hakikat dari tujuh tingkatan kesadaran yang harus dipahami oleh manusia. Tiga elelemen saja kesadaran dapat dimengerti oleh manusia, keberadaannya sudah sangat berarti. Sadar atas keberadaan dirinya, sadar atas keberadaan orang, dan sadar atas lingkungan yang mengitarinya.

Puncak kesadaran inilah yang hilang dari pemahaman manusia. Manusia masih saja berpikir tentang tujuh lapis langit yang sampai kapanpun tidak dapat ditelusuri olehnya. Mungkin jutaan generasi ke depan belumlah dapat menelusuri seperti apa bentuk  tujuh lapis langit itu. Di sini kita harus menyadari bahwa "sidratulmuntaha" keberadaan kita bersama dengan kesadaran paripurna (Nur Muhammad).

Dengan demikian, "sidratulmuntaha" mesti dicapai oleh manusia dalam tatanannya di bumi. Tujuh lapis langit harus dimaknai dengan tujuh tingkatan kesadaran, sehingga sampai pada "puncak kesadaran". Dengan kesadaran itulah manusia menatat dirinya sesuai tugas lintas bidang.

Utusan-utusan kesemestaan yang selalu hadir dalam kehidupan kita adalah menguji kesadaran yang nyata. Kehadiran objek apapun dalam kehidupan ini harus dimaknai melalui kesadaran yang menuju kesempurnaan. Hidup ini hanya ada dua kesadaran, kesadaran untuk bahagia dan kesadaran untuk menderita. Padahal, pada dasarnya keduanya itu tidaklah ada jika kesadaran dengan konsep "sidratulmuntaha" dapat dengan baik memaknai utusan-utisan tersebut.

Kesadaran inilah yang hilang ketika manusia merasa telah mencapai apa yang selama ini sudah diraih. Pemimpin kehilangan kesadarannya tatkala tata kelola kekuasaan ada di tangannya, kekuasaan bertujuan untuk mengantar kesejahteraan atas manusia kehilangan tujuannnya tatakala otoritas kekuasaan kehilangan kesadarannya. 

Begitu juga kekuasaan pada aspek yang lain, jika keberadaannya tidak disadari maka tujuan dasar manusia hidup di dunia tidak dipahami ketimpangan akan terus terjadi. Keseimbangan ke-semestaan akan sirna jika pemimpin tidak menyadari keberadaannya, rakyat tidak tahu akan dirinya, orang alim dan intelektual hanya tahu berkata dengan mulutnya, tidak memahami ilmu dengan jiwanya, dan juga kesadaran di level manapun. 

Puncak kesadaran adalah apapun yang hadir dalam diri, dan apapun yang hadir mengitari hidup ini. Kehadiran semesta harus dipahami sebagai utusan-untusan yang menyekolahkan kesadaran jiwa kita. Melalui kesadaran ini utusan lintas bidang harus menjadi generator penggerak bahwa semua itu adalah jalan bagi manusia untuk menuju Sang Pemilik ke-Maha Sadaran.

Jakarta, 25 Juli 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama