Rektor Unada: Wisuda Bukan Akhir tapi Awal Berproses

Rektor Universitas Al-Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh Dr. Yusra Jamali, M. Pd, menyampaikan beberapa hal dalam pidato pengukuhan mahasiswa UNADA dan STAI Al-Washliyah Banda Aceh. Dalam rapat senad terbuka wisuda sarjana Universitas Al-Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Washliyah Banda Aceh, dilaksanakan tangga 26 Juni 2025 berlangsung hikmat.

Wisuda kali ini adalah wisuda ke-23 sejak kampus Al-Washliyah Banda Aceh berdiri tahun 2002. Wisuda kali ini juga wisuda pertama kali dilakukan setelah kampus Al-Washliyah berubah status dari Sekolah Tinggi menjadi Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) . Jumlah mahasiswa yang diwisuda 161 terdiri dari wisudawan-wisudawati. Wisuda kali ini juga dihadiri langsung oleh Ketua Umum PB Al WASHLIYAH Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH., M.M.

Wisuda hanya akhir dari belajar secara akademis, namun bukanlah akhir dari proses belajar secara terus-menerus. Pendidikan merupakan proses belajar secara terus-menerus dalam membentuk potensi individu secara terpadu dan menyeluruh untuk mencapai kesejahteraan dunia dan kebahagiaan di akhirat. Pelaksanaan wisuda dibuka dengan tarian Ranup Lampuan menyapa para tamu undangan. Tradisi menyapa dengan tarian budaya lokal selalu dilakukan di setiap even-even penting di Aceh. Dan ini juga berlaku di mana pun. Bahkan dalam even-even nasional dan internasional.

Wisuda merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa, sebagai catatan bahwa dunia akademik telah dilalui. Proses pembelajaran yang dilalui oleh mahasiswa dengan berbagai dinamika. Memperoleh gelar sarjana melalui proses yang melelahkan. Durasi waktu empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Mempelajari pengetahuan dari banyaknya Mata Kuliah menguras pikiran, dengan sistem metodelogi ilmiah mahasiswa berusaha memahami ranah keilmuan dari berbagai perspektif. Wisuda akhir dari edukasi mekanik dan dimulainya edukasi polistik.

Selama proses belajar berlangsung banyak dinamika serta keluh kesah. Dan ini hal yang wajar dikarenakan pendidikan merupakan proses panjang. Namun, semua itu telah dilalui dengan baik, dibantu oleh bimbingan para guru dan dosen pengampu. Tentunya, peran dosen saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan tekad yang kuat, semangat yang membara.

Keluh kesah telah dilalui, dan hasilnya mahasiswa sampai pada tahapan dikukuhkan sebagai sarjana. Di samping itu juga peran orang tua sangat menentukan. Peran orang tua tentunya sangat penting dalam membawa anaknya sampai pada level sarjana. Sampai di sini, setelah anak selesai studinya hargailah mereka (anak) sebagai orang yang berilmu.

Wisuda bukanlah akhir dari pendidikan melainkan awal peran seorang sarjana dalam menapaki intelektualitasnya dalam kehidupan bermasyarakat. Dinamika sosial jauh lebih menantang bagi sarjana dibandingkan dengan dinamika dalam proses belajar selama menempuh pendidikan. Dengan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di UNADA, maka peran utama bagi sarjana adalah bagaimana menjadikan dinamika sosial yang berpotensi konflik merubah menjadi potensi solutif. 

Masa-masa berada di ruang kelas membahas banyak tema, menyelesaikan tugas-tugas, mempersiapkan materi persentasi, di sini adalah masa-masa yang paling menyenangkan. Ujian-ujian akhir terkait materi pembelajaran telah terlewati, yakin dan percaya ini adalah hasil terbaik yang diperoleh setelah diuji berkali-kali oleh civitas akademika. Masa-masa sulit dalam belajar telah dilewati, namun ada masa yang jauh lebih sulit, bagaimana mahasiswa alumni UNADA mampu melihat peristiwa masa depan, menciptakan peluang, dan menempati ruang sesuai lintas bidang.

Waktu yang tersedia untuk setiap orang adalah sama, tetapi ruangnya berbeda. Hari ini ruang yang tersedia semakin sempit seiring manusia bertambah banyak, keahlian semakin spesifik, dan pekerjaan manusia banyak yang digantikan oleh sistem kerja mesin. Kompetisi bukan lagi soal pengetahuan melainkan soal kemampuan/skil.

Ujian ke depan bukan lagi soal mata-pelajaran, dan ujiannya tidaklagi berlangsung di ruang kelas, melainkan di ruang-ruang kehidupan. Ujian setelah wisuda jauh lebih berat, para wisudawan dan wisudawati akan diuji oleh banyak orang, bahkan tidak tahu siapa yang menguji dan masalah apa yang akan dihadapi. Karena itu, perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian-ujian yang jauh lebih berat dimasa yang akan datang. Jalan yang akan ditempuh tidak mudah, perjuangan ke depan tidaklah sederhana. Jadikanlah ilmu pengetahuan yang telah diperoleh sebagai bekal dalam menghadapi berbagai persoalan yang terus muncul.  

Sebagai civitas akademika, sebagai pimpinan, dan sebagai dosen; pengetahuan, ilmu yang sudah diberikan dan didapat di bangku kuliah akan membantu para-sarjana untuk bisa ekses dalam menghadapi tantangan; baik skala lokal, nasional, dan global. Sekaligus, harapan kita semua apa yang sudah dipelajari, didengar, dan dipahami menjadi wejangan bukan hanya untuk kita yang ada ruang ini tetapi juga untuk masyarakat secara luas.

Tentunya, peran para wisudawan-wisudawati sangatlah penting ketika kembali pada kampung halaman masing-masing, atau tempat di mana setiap kita bekerja, berdinas, atau berperan. Dan, di mana pun keberadaan alumni UNADA dan STAI Al Washliyah Banda Aceh perannya mesti mewarnai dalam setiap momen, gerakan, dan peristiwa.

Dengan demikian, menjaga nama baik dan menjaga al-mamater Al Washliyah bukan hanya dengan perolehan ilmu pengetahuan, bukan hanya menunjukkan karakter dan sikap tetapi juga melalui peran dan kontribusi para alumni. Diakhir pidato pengukuhan wisudawan-wisudawati Rektor Unada bermunajat, hanya kepada Tuhan kita berserah diri dan berharap atas apa yang telah dicapai dalam proses belajar agar sepenuhnya memberi manfaat kepada diri, keluarga, masyarakat, dan dunia.

Banda Aceh, 27 Juni 2025




Komentar

Postingan populer dari blog ini

17 Agustus: Kemerdekaan Milik Manusia Bukan Milik Ikan

Kekuasaan Menekan Ke Bawah Pertanda Mental Botolok

Leader: Menunda Kenyang-Mendahulukan Penderitaan