Abah Aom: Kesantunan Sikap Menandakan Jiwa yang Tenang

 


Kata jiwa menurut kamus bahasa Indonesia, jiwa memiliki arti ruh manusia yang menyebabkan seseorang hidup. Jiwa juga sebagai seluruh kehidupan batin manusia seperti yang terjadi dalam perasaan, pikiran, angan-angan, dan lain sebagainya. Jiwa berasal dari bahasa Sanskerta jiva, yang artinya benih kehidupan. Dalam berbagai agama dan filsafat jiwa bukan bagian jasmaniah (immaterial) dari seseorang. Tuhan adalah pemilik jiwa. Jiwa-jiwa yang tenang tidaklah datang dengan sendirnya, melainkan datang karena rahmat dari Tuhan. Jiwa merupakan bagian terpenting dari manusia itu sendiri. Maka dengan itu, jiwa tidak boleh menjauh dari pemiliknya.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِيْ فِيْ

عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku. Q. S. Al-Fajar/089: 27-30.

Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah/suci, lalu ketika jiwa/naf/ruh dimasukkan dalam raga dan dilahirkan ke bumi, serta dalam perkembangannya/hayat ia telah ternodai dan berdosa. Raga adalah kuburan pertama bagi jiwa/nafs/ruh, dan ini tidak disadari oleh manusia. Raga manusia yang diciptakan dari tanah sebelumnya tidaklah dapat bergerak kecuali tumbuh dan berkembang, tetapi setelah ruh ditiupkan di dalam raga ia dapat bergerak, dan disebut manusia. Manusia adalah makhluk yang bergerak.

Raga adalah kuburan bagi ruh. Kematian yang menyebabkan ruh keluar dari raga pada dasarnya adalah ruh telah keluar dari kuburannya, yang keberadaan ruh tersiksa di dalam raga, tersiksa oleh karena keburukan yang selalu dilakukan oleh raga. Keburukan-keburukan inilah yang menjadikan ruh kotor dan berdosa. Hanya raga yang membawa misi ketuhanan yang selalu menuntun jiwa untuk bertakwa dan membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan. 

Fisik manusia telah memaksa jiwa untuk menerima keburukan, akhirnya jiwa tidak lagi suci setelah sekian lama ia bersemanyam dalam raga. Sifat buruk yang bersemanyam dan dipelihara oleh raga seperti ‘ujub, takabur, ria, sum’ah, pemarah, dan ego telah membuat jiwa selama mendiami tidak lagi “tenang”. Keburukan raga juga dikarenakan keinginan yang berlebihan yang diakibatkan raga memperturutkan hawa nafsunya.

Jiwa-jiwa yang tenang adalah jiwa yang menjalani hidup bersama raga yang berupaya membersihkan dirinya dengan kesantunan, lembut, penuh pelayanan, tutur yang tidak menyakitkan, tidak membawa ancaman dan tekanan kepada siapa pun, selalu siaga terhadap berbagai masalah, responsif, peduli, melayani, gembira, memberi pelayanan penuh keikhlasan, tidak merendahkan serta menghina makhuk-makhluk di bumi. Intinya, jiwa yang tenang adalah jiwa yang selalu membawa nilai-nilai kasih sayang dalam raganya untuk diberikan pada makhluk; baik manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, alam, dan kesemestaan. Puncak ketenangan jiwa adalah pencapaian rahmat Tuhan.

Menurut bapak Wiyas Yulias Hasbu,  Almarhum bapak Aom adalah pribadi yang selalu menebar kedamaian kepada siapa pun, disiplin, tidak pernah mengeluh, dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Keceriaan yang selalu memancar dari wajahnya dibalut senyum khas, dan sosok yang santun ini kata-kata yang keluar dari bibirnya selalu menyiratkan keteduhan. Optimisme adalah semangat yang selalu terlihat dari sosok bapak Aom. Bersama sahabat-sahabatnya telah membentuk kelompok tadarusan, yang bertekat membaca Alquran one day one juz.

Hidup ini tidak pernah memberi tahu kapan ia akan berakhir. Sebagaimana lahir, seseorang tidak mendapatkan informasi dari rahim mana ia akan dilahirkan dan dari keluarga mana ia akan hidup. Antara kelahiran dan kematian sangatlah rahasia dan given. Manusia hanya merima siap jadi seperti apa dan bagaimana ia dilahirkan ke bumi, sebagaimana manusia mengahadapi kematian, tiba waktunya akan datang menghampiri setiap hamba. Perginya seorang sahabat untuk selamanya tentu banyak pihak merasa kehilangan; baik bagi keluarga, sahabat, kolega, dan yang lainnya.

Kepergian abah Aom diusia yang mencapai tujuh puluh tahun menyisakan duka bagi keluarga, apalagi akhir-akhir hidupnya telah melewati sakit yang membuat bapak Aom harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit. Kepergian seseorang yang membawa amal kebaikan dan meninggalkan generasi yang sudah tumbuh dewasa adalah dambaan setiap orang. Istri yang ditinggalkan oleh Abah Aom telah memperoleh kebaikan tersebut, suami pergi untuk selamanya dengan meninggalkan permata yang menjadi refresentatif diri abah Aom berupa anak-anak yang shaleh dan shalehah. Walaupun sudah tidak lagi bersama secara fisik, tetapi buah cinta yang dititipkan membuat abah Aom terus terasa ada di tengah-tengah keluarganya.

Anak yang shaleh sebagaimana disampaikan Dr. Zainul Syarif pada pesan-pesan takziah di rumah duka, berdasarkan hadis terkait dengan “jika matinya anak Adam maka terputuslah segala urusannya dengan dunia, terkecuali tiga hal”. Salah satunya adalah anak yang shaleh. Anak dalam hadis ini disebutkan dengan kata walad-waladun dalam bentuk an-nakirah (umum). dan tidak disebutkan dalam bentuk ibn atau bin, dan juga tidak disebutkan dalam bentuk kata al-ma’rifah (khusus). Disebut walad memiliki makna yang tidak spesifik pada anak dalam bentuk biologis. 

Walad juga dipahami sebagai anak psikologis. Maka, dapat dipahami bahwa setiap generasi yang tumbuh dari hasil pendidikan, kaderisasi, murid, mahasiswa, dan kader apa pun, ia akan menjadi walad yang dapat menjadikan amal terhadap kebaikan orang-orang yang telah ikut membina karakternya. Dan kebaikan yang diperoleh dari yang demikian akan mengalir dalam bentuk jariah, serta mendatangkan kemudahan atas doa-doa yang diucapkan oleh orang-orang yang telah dibina dengan baik, sehingga menjadi generasi yang bermanfaat untuk bangsa, agama, dan negara.

An-nafsul al-muthmainnah, jiwa yang tenang merupakan jiwa yang telah memperoleh kebaikan dari Tuhan, atau jiwa yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang telah mencapai kebahagiaan dalam dirinya. Kebahagiaan seseorang dapat dilihat dari cara seseorang memberi kebahagiaan pada orang lain. Dan ini adalah ibadah yang paling disukai oleh Tuhan. Tidak diciptkan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada Tuhan. Puncak pengabdian seseorang ialah disaat ia memperoleh rahmat dari Tuhannya. Rahmat merupakan suku kata dari kaa rahman dan rahim. Seseorang yang telah memperoleh kebahagiaan di dunia adalah pemilik jiwa yang tenang. Dan ini merupakan modal utama seorang hamba dikala ia kembali pada Tuhannya “Irji’I ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah”.

Seseorang yang mencapai kebahagiaan di dunia dapat dilihat dari cara ia menjalani hidup. Kehadirannya begitu dirindui oleh banyak orang, tindakannya solutif, sikapnya menyenangkan banyak orang, tuturnya mencerahkan, perintahnya menyelesaikan masalah, dan apa pun yang ia lakukan selalu mendatangkan manfaat bagi siapa pun, dan kehadirannya tidak medatangkan kerusakan bagi lingkungan, jauh dari sifat hasad, iri, dengki, dan lain sebagainya.

Abah Aom, dalam hidupnya telah memberikan sesuatu yang baik; baik dalam berkomunikasi, bergaul, bersikap, merespon dan peduli kepada sahabat-sahabatnya. Bentuk kepeduliannya dapat dilihat dari tindakannya. Sebagaimana dikisahkan oleh sahabatnya. Suatu ketika datanglah seseorang yang menyampaikan keluhannya, bentuk responsif abah Aom terhadap masalah yang dihadapi oleh sahabatnya ia rela menjual motor miliknya. Walaupun tindakan menjual motor tidak terjadi, tetapi kebahagiaan yang diberikan oleh abah Aom dapat dilihat dari cara ia memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Begitu lapang dan responsif diri abah Aom dalam menyikapi persoalan, yang membuat sahabat-sahabatnya sangat bersyukur memiliki sahabat seperti abah Aom.

Rasa syukur terhadap sosok abah Aom juga diungkapkan oleh anak menantu, keceriayaan yang selalu diperoleh dari sosok ayah ternyata tidak hanya untuk sahabat-sahabatnya, tetapi juga hadir di tengah-tengah keluarga. Abah Aom adalah sosok ayah dan mertua yang tidak pernah marah, emosi, serta tidak pernah membuat orang-orang di sekitarnya; baik sahabat maupun keluarga merasa tertekan atas keberadaan abah Aom. Inilah yang selalu dirasakan oleh anak, menantu, dan keluarga abah Aom. Sosok ini telah menunjukkan sifat santun, tenang, bersahaja, lembut, jauh dari sifat-sifat yang tidak menyenangkan. Dan ketenangan jiwa semasa hidupnya menandakan abah Aom adalah jiwa yang dalam kehidupannya telah mencapai ketenangan sebelum kematian menjemputnya.

Jiwa-jiwa yang tenanglah yang akan memperoleh kemenangan disaat Tuhan memanggilnya untuk pulang. Yaa Ayyatuhannafsul muthmaiinnah; “wahai jiwa yang tenang”. Ketenangan yang dimakusd bukan didapat saat menuju ajalnya melainkan ia telah terbawa semasa hidup di dunia. Seseorang yang dapat mengontrol jiwanya ia akan melihat setiap masalah hidup yang dihadapi secara positif, walaupun peristiwa yang dihadapi realitasnya adalah negatif. Seseorang yang mendapatkan ketenangan jiwa selalu mendatangkan kebaikan kepada ligkungannya.

Potensi pikir seseorang yang telah memperoleh ketenangan jiwa di dunia ia selalu memilih jalan takwa (jalan kebaikan), dan berusaha semaksimal mungkin menghindari dari jalan fujur (jalan yang penuh dosa dan kerusakan). Selamat jalan abah Aom, kebahagiaan yang telah diberikan pada orang-orang semasa hidup di dunia menandakan bahwa kepergian abah Aom menuju Tuhan telah memberi tanda sebagai jiwa-jiwa yang tenang. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’a fihi wa’fu’anhu waakhrim nuzulahu wa wasi’ madkhalahu.

Bandung, 19 Januari 2024.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama