Membangun Kharisma; Ego Diri yang Belum Usai

More the knowladge lesser the ego, lesser the knowladge more the ego; lebih banyak pengetahuan lebih sedikit ego, lebih sedikit pengetahuan lebih banyak ego. Albert Einstein

Melepaskan diri dari orang lain suatu keangkuhan. Kata yang populer dalam ungkapan sehari-hari "jadilah diri sendiri", sekilas kalimat ini benar. Tetapi perlu ditelusuri lebih jauh bahwa apa yang diungkapkan dan apa yang dipahami tidak sepenuhnya sesuai dengan diri setiap orang. Perbedaan dalam banyak hal yang memaksa diri kita butuh kehadiran orang lain. Keterbatasan dalam banyak hal pula membuat gerak setiap orang terbatas. Di sini, keinginan menjadi diri sendiri perlu digugat.

Pada satu sisi menjadi diri sendiri sangatlah bagus. Artinya, tidak perlu menginginkan seperti orang lain. Apalagi menginginkan banyak hal sama dengan orang lain; seperti ingin mendapatkan posisi penting, ingin menjadi penguasa dibanyak level, ingin menjadi bos, ingin memiliki pengaruh, ingin memiliki usaha di mana-mana, ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain secara menggebu-gebu adalah tindakan yang tidak baik. Keinginan seperti itu merepotkan diri saja, sebab daya dan gaya setiap orang tidaklah sama. Daya dan gaya inilah perlu menyeimbangkan dengan yang lain. Maka, kondisi yang berbeda sangat memungkinkan untuk memilih menjadi diri sendiri. Dalam pengertian memilih untuk tetap sebagaimana diri menempatkan ruang.

Apabila berlaku sebaliknya; kemampuan diri dalam segala hal belum memungkinkan-bahkan lemah. Keterbelakangan pikiran, pengetahuan yang rendah, malas untuk belajar, pikiran terintimidasi dengan keadaan, akses dengan orang-orang terbatas, kehidupan jauh dari pusat peradaban, dan ditambah lagi situasi ekonomi sulit. Kondisi seperti ini; masihkah kita yakin untuk menjadi diri sendiri. Sebab, menjadi diri sendiri lebih dominan membangun kharismatik. Ketika seseorang menampakkan kharismanya disaat itu pula ego menguasai dirinya.

Manusia diciptakan beragam; baik ras, suku, dan bangsa. Alquran menyebut kata dawlah, bukan berarti ini bangsa. Bangsa dan negara berbeda. Bangsa adalah asal usul masyarakat dalam komunitas yang sama. Sementara negara sebuah wilayah yang dapat dihuni oleh berbagai suku bangsa. Dan Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Dari keberagaman ini manusia menyambung relasi. Dan ini bukan hanya keinginan menjalani relasi sosial, bahkan relasi ini perintah agama untuk saling mengenal. Di sini, konsep lita'arafu dipahami luas. Keterbatasan bahasa yang kita miliki membatasi makna lita'arafu sebatas saling mengenal.

Di sini; kita tidak lagi membahas soal negara dengan berbagai konsepnya. Negara yang mengurus banyak hal namun tidak pernah mengurus pribadi-pribadi, sekat-sekat kehidupan personal menjadi tanggung jawab masing-masing. Keinginan-keinginan pribadi dijaga oleh negara; seperti keinginan untuk memilih tinggal di mana, usaha apa, sekolah, beragama, beribadah, menjaga jiwa, dan lain sebagainya. Menjadi diri sendiri; setelah seseorang mampu menjamin potensi diri sudah berkatagori baik. Tetapi, di sisi lain manusia butuh ekspresi. Kemampuan diri tanpa ekspresi juga menjadi masalah bagi setiap orang. Ekspresi diri sering menggiring manusia mengubah dirinya. 

Sebab, yang namanya ekspresi menyuguhkan sesuatu sesuai dengan keinginan orang lain. Di sini, seni ekspresi diperlukan. Mengekspresikan diri agar sesuai dengan keinginan orang lain tidaklah mudah, apalagi menginginkan orang lain menikmati dan mengikuti ekspresi yang kita suguhkan. Dalam tahapan berfikir, dialektika kelompok ekpresionis telah menampakkan egonya dengan kharisma tanpa karakter. Kharisma hanya menjadikan seseorang hebat dengan dirinya lalu memandang remeh objek yang lain, namun tidak dengan karakter. Seseorang yang memiliki karakter membangun kehebatan bersama. 

Di sini, tidak ada pihak yang direndahkan dan tidak ada pula pihak yang merasa tinggi. Kharisma menyuguhkan daya tarik sementara karakter memiliki daya tahan. Kharisma lebih membangun popularitas sementara karakter membangun mentalitas. Seseorang yang lebih mengedepankan kharisma selalu menginginkan orang lain sesuai dengan keinginan dirinya. Kharisma membawa pelakunya angkuh dengan dirinya sendirinya. Bagaimana mungkin jika seseorang mempertahankan kharisma lalu ia menganut fikir “aku ingin menjadi diriku sendiri”. Kelompok yang menganut paham kharismatik ingin selalu ingin mendapatkan pujian dari orang lain dan disanjung-sanjung.

Sifat kharismatik; menggiring manusia berkeinginan menjadi dewa. Kharisma lebih menonjol keluar diri. Artinya, lebih dominan menujukkan show diri, menunjukkan kehebatan diri dengan segala prestasinya; baik prestasi masa kini maupun prestasi masa lalu serta tujuan-tujuan untuk masa yang akan datang. Kharisma lebih menonjol outer beauty diri. Berbeda dengan karakter, yang ditonjolkan adalah dalam diri. Artinya, seseorang yang memiliki karakter lebih menonjolkan peran, bukan perang (perang dalam pengertian selalu ingin terlihat lebih hebat dari orang lain).

Kharismatik lebih menonjolkan congkak, sementara karakter lebih menunjukkan akhlak. Kharisma tidak mungkin membangun karakter ke luar sebab sifat kharismatik yang dibangun seseorang membimbing dirinya menjadi sangat feodal. Sementara karakter membangun jiwa sosial. Seseorang yang berkarakterlah mampu menjadi diri sendiri. Karakter membebaskan manusia. Artinya, seseorang yang telah bebas adalah orang yang telah merdeka jiwanya dari apa pun. Kharisma selalu ingin diperlihatkan ketika berhadapan dengan banyak orang. Segala tingkah dan gaya direkayasa agar kharismanya benar-benar hidup. Dirinya hanya ingin diperlihatkan terlihat hebat pada banyak orang dengan segala fasilitas yang ia miliki. Karakter buruknya akan terlihat ketika ia berhadapan dengan jumlah orang yang sedikit. 

Di sini, seseorang yang membangun kharismatik merasa tidak perlu mencitrakan diri. Dan orang-orang yang berhadapan dengan sosok yang suka membangun kharisma terpaksa menjadi penjilat, dikarenakan karakter tidak dibutuhkan oleh seseorang yang memiliki sifat kharismatik kecuali orang-orang tunduk dan patuh atas perintahnya.

Berbeda dengan karakter; selalu menampakkan prilaku yang baik kepada siapa pun dan pada jumlah orang yang dihadapi. Dalam lingkungan keluarga ia baik, dalam lingkungan pertemanan ia baik, dalam relasi bisnis ia baik, dalam lingkungan sosial ia baik, sebagai murid ia baik, sebagai guru ia baik, sebagai pekerja ia baik, sebagai pemiliki perusahaan ia baik, sebagai tokoh pejabat dan penguasa ia baik, sebagai rakyat biasa ia baik, dan dalam wilayah mana pun dengan sendirinya sifat baik yang muncul. Artinya, karakter lebih menonjolkan inner beauty dibandingkan dengan seseorang yang membangun kharisma selalu meneunjukkan outer beauty.

Kharisma selalu merekayasa banyak hal, sementara karakter selalu tampil apa adanya. Nabi Muhammad adalah sosok yang berkarakter; dan ini sesuai dengan diutusnya Nabi untuk memperbaiki akhlak. Seseorang yang berkarakter lebih menonjolkan sikap, sedangkan kharisma lebih menonjolkan keakuan. Seseorang yang menonjolkan kharisma disaat bertemu dengannya terkesima diawal namun pada akhirnya yang dirasakan adalah rasa trauma.

Menjadi diri sendiri dengan membangun kharisma membuat seseorang tidak merdeka. Menjadi orang lain dengan membangun karakter membebaskan jiwa dari berbagai macam keinginan-keinginan. Melalui karakter manusia membangun kebahagiaan, dan melalui kharisma manusia membangun rasa kegelisahan; baik gelisah dirinya yang ingin mempertahankan sikat kharismanya dan gelisah orang lain saat berhadapan dengan dirinya. Kharisma sering membuat terkesima diawal namun trauma diakhir, dan sikap seperti menjadikan relasi manusia dengan manusia tidak harmonis.

Menjadi diri sendiri itu penting, tetapi diri yang memiliki karakter. Membangun kharismatik juga penting, tetapi kharisma yang tidak membawa malapetaka bagi orang lain. Kharisma dengan merekayasa banyak hal membawa diri menjadi diri orang lain. Setiap orang punya karakter, dan setiap orang memiliki kharisma. Alangkah baiknyanya jika kharisma yang ada pada diri seseorang ditujukan untuk membangun karakter. Inilah yang dimiliki oleh para Nabi, di samping memiliki kharisma oleh karena melalui dirinya pesan Tuhan disampaikan dan juga membangun karakter. Lalu, kharisma yang dimiliki oleh orang-orang biasa membawa pesan siapa; tentu bukan pesan Tuhan melainkan pesan ke-egoan diri. Dan sifat ego adalah pesan setan. Seseorang yang suka membangun kharisma pada dasarnya adalah setan yang sedang melata.

Silakan menjadi diri sendiri asalkan memiliki karakter yang baik. Karakter yang dimaksud di sini adalah kemampuan diri; baik ilmu pengetahuan, pendidikan, relasi, dan lebih-lebih lagi sudah memerdekakan jiwa dari banyak keinginan. Seseorang yang merdeka jiwanya ia berhak memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Jika saja jiwa belum merdeka, maka menjadi orang lain sangatlah penting. Menjadi orang lain dalam pengertian memerlukan masukan, bimbingan, arahan, share pengalaman, dan berbagai hal lainnya yang diperlukan untuk membangun karakter diri. Jangan pernah terjebak dengan kharisma yang dibawa karena ego, sebab kehadiran ego membawa pesan iblis yang terlaknat karena upaya membangun kharismanya.

Jakarta, 2 November 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama