ADA TIRANI MAKNA PADA SETIAP KATA

Manusia tidak terlepas dari yang namanya komunikasi. Dalam berkomunikasi 99% berisi kata-kata namun dalam pengucapannya tetap harus santun dan beradab. Santun saja tidak cukup harus dibarengi dengan adab. Kata memiliki resistensi makna yang sulit dicegah efeknya. Jika kata yang diucapkan berimplikasi buruk bagi pendengar, lebih baik kata yang demikian disimpan saja di dalam perut, tidak perlu dipecahkan dimulut.  

Ucapan yang santun berisi kata-kata yang secara umum dapat diterima publik, dan tidak bersifat adanya intervensi dan tirani dari sebuah kata yang diucapkan, juga diucapkan dengan nada yang baik. Ada kata baik bunyinya tapi tidak santun dalam mengucapkannya maka ini tidak tergolong dalam bagian pola komuniiasi yang beradab. Artinya, perlu diperhatikan katanya, cara/nada saat mengucapkannya agar duduk perkara adab dalam berkomunikasi.

Nabi telah mengajarkan pada sahabatnya bagaimana cara berkata dan cara mengucapkan kata-kata. Cara berkata masyarakat Arab tentunya berbeda dengan masyarakat yang ada di luar Arab, walaupun diucapkan dengan kata dalam maknanya sama namun nilai dan rasa yang diterima dari ucapan tersebut oleh komunikan tetaplah berbeda.

Begitu juga kata yang sering digunakan oleh masyarakat Nusantara, walaupun kata yang sama tetap berbeda rasa pada saat diterima oleh orang lain. Belum diketahui secara detail apakah Nabi pernah mengucapkan kata yang mempersoalkan kepribadian kepada sahabat-sahabatnya kecuali persoalan yang menyangkut dengan perkara penguatan iman.

Misalnya; pertanyaan di mana kamu bekerja, gajinya berapa, sudah punya rumah dimana, hari ini sudah mendapatkan uang sebanyak apa, kenderaannya apa, sekolahnya dimana, pangkatnya sudah naik berapa, dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikian tidak dipersoalkan dalam sejarah kenabian.

Ketika seseorang bertanya tentang jumlah gaji yang diperoleh oleh seseorang maka jawabannya secara psikologis tetap mengganggu. Jika ia menjawab gajinya dengan jumlah sedikit maka sipenanya bersifat sinis, begitu juga jika dijawab gaji dengan jumlah besar maka sipenanya merasa kagum dan muncul keinginan untuk berusaha mendekati orang tersebut sebab ada harapan baik jika berteman dengan orang yang uangnya banyak. Dan sebaliknya juga berlaku, sipunya gaji besar menyimpulkan buruk ketika sipenanya bersikap baik. Keduanya akan bersikap buruk dan saling mencurigai.

Inilah alasan tidak perlu mengucapkan kata yang tidak penting dan tidak beradab saat kata itu gunakan dan diucapkan. Dalam berkomunikasi tidak semua kata harus digunakan dalam berkomunikasi di ruang publik. Nabi telah memilih kata yang baik ketika hendak digunakan di tengah-tengah para sahabatnya. Kata yang tidak menyinggung perasaan secara umum. Memilih kata-kata saat diucapkan mungkin juga bagian dari sunnah Nabi yang terlupakan dalam diri kita.

Mengingat, yang namanya sunnah adalah segala yang menyangkut dengan qaul, fi'lun, dan taqrirun. Kata masuk dalam katagori qaul sementara cara mengucapkannya dan situasinya termasuk dalam katagori fi'lun. Sunnah inilah yang dipraktekkan oleh orang-orang Barat, "bagi mereka kata yang sifatnya mengandung unsur tirani pada sifat pribadi di ruang publik bukan bagian dari adab". Maka, tidak terbiasa bagi mereka bertanya berapa jumlah gajimu. Cukup melihat keceriaan dan kebahagiaan saja pada diri seseorang sudah cukup menandakan bahwa seseorang itu baik-baik saja.

Kita sering berlebihan dalam berkata dan kurang dalam berbuat untuk orang lain. Seolah-olah dengan banyak berkata sudah cukup menunjukkan hebat tanpa perlu terlibat dalam pencapaian seseorang. Sifat seperti ini sama seperti setan, yang banyak menjerumuskan orang-orang dengan bisikan lembutnya tapi tidak pernah ikut terlibat dalam memperbaiki kekurangan orang-orang. Tujuan utama setan tetap menjerumuskan banyak orang dalam dosa. Komunikasi seperti ini harus dihindarkan sebab tidak semua orang suka dengan hal-hal demikian. Setiap orang butuh penguatan bukan kata-kata yang tidak penting baginya.

Lalu bagaimana dengan kritik yang diucapkan di ruang publik kepada pemangku kuasa. Ini agak berbeda, kritik terhadap kekuasaan kata yang digunakan sesuai dengan kondisi masalah yang sedang dihadapi. Ada istilah kata beregen dalam bahasa Aceh; bermakna sesuatu yang terjadi dan terus berulang-ulang seperti tanpa upaya memperbaikinya. Dan, walaupun sudah masuk fase beregen, namun kata yang dipilih masih bersifat sarkasme. Jika kata sarkasme tidak dapat dipahami maka terpaksa digunakan kata yang mewakili perasaan dirinya dan perasaan publik secara keseluruhan.

Kata yang diucapkan seseorang sesuai dengan pengetahuannya, dan cara ia mengucapkan sesuai pula dengan kebiasaan dirinya dalam keluarga atau lingkungan yang mendidik secara alami karakter dirinya "inilah yang disebut dengan adab" (civilization). Kebiasaan keluarga dan lingkungan yang suka melihat kekurangan orang lain atau suka menceme'eh maka kata yang sering keluar dari mulutnya adalah ucapan-ucapan yang merendahkan orang lain. Ini prilaku buruk yang banyak ditemukan dalam masyarakat. 

Seseorang yang memiliki adab selalu mengucapkan kata yang mempunyai karakter positif dan membangkitkan ghirah yang lebih baik untuk orang lain. Bukan menyorot kekurang dan meng-zoom sesuatu yang bersifat aib bagi yang lain. Sehingga, nampak buruk pikiran orang-orang padanya.

Nasehat sering tidak berguna jika diucapkan dengan kata yang buruk, komunikasi tidak akan membangun relasi yang baik jika diucapkan dengan nada tak beradab. Sebaik apa pun kata yang dipilih untuk diucapkan jika buruk nada dan mimik saat menyampaikannya tetap saja tidak berguna. Begitu juga sebaliknya, kata yang buruk walaupun diucapkan dengan nada dan irama yang sangat indah maka tetap saja buruk ditangkap oleh jiwa penerimanya.

Kata memiliki daya pengaruh yang kuat. Kata yang baik dan kata yang buruk memiliki pengaruh yang sama dalam ingatan seseorang. Ucapan dan tindakan para Nabi diingat sebagai narasi yang baik. Begitu juga dengan kata yang ditulis atau diucapkan oleh tokoh yang buruk sepanjang sejara pergulatan intelektual, maka akan dikenang sebagai ucapan atau ideologi yang buruk. Kata-kata yang ditulis oleh kelompok ateis sampai kapanpun tetap mengandung unsur keburukan walaupun ditulis dan diucapkan dengan kata-kata yang baik.

Setiap orang mampu mengucapkan ribuan kata dalam waktu yang singkat, tetapi tidak semua mampu mencernanya, dan juga tidak semua menerima kata-kata dengan baik. Ada yang selalu mempermasalahkan kata-kata yang diterimanya, dan tidak sedikit yang melepaskan kata tanpa kaedah tutur yang benar. Sebagian bercanda dengan kata-kata, sebagian yang lain sensitif mendengarnya. 

Apa pun kata yang beredar pasti berefek baik dan buruk. Maka, Islam mengajarkan pada setiap orang agar memilih yang terbaik dalam berkata atau tidak pernah mengucapkan kata sama sekali. Sementara sipahit lidah menjadi kenyataan setiap kata yang diucap, “baginya lebih baik diam dari pada berkata sebab bisa berakibat buruk bagi orang lain”.

Islam mewanti-wanti terhadap kata, sebab dengan katalah ukuran keimanan seseorang diukur “man kana yukminu billahi wal yaumil aakhir fal yaqul khairan aw liyasmut” (bagi siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau diam). Tuhan lebih menekankan pada hambanya untuk diam. Sebab, diamnya seseorang adalah jawaban terbaik dalam merespon kata. 

Diam juga bermakna menyembunyikan kemampuan pada orang-orang dengan merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Sebagian orang tidak dapat memaknai sifat merendah karena keangkuhan watak. Maka, seseorang yang merendahkan dirinya sering dipandang sebagai orang lemah. Bagi sesiapa yang tidak tahu makna merendahnya jiwa seseorang adalah orang yang tidak mampu memaknai sebuah kata. Diam adalah cara terbaik dalam menangkap tirani dari sebuah kata.

Pilihlah kata yang baik dan ucapkan dengan nada dan mimik yang santun. Sebab kata-kata yang diucapkan sangat tergantung level mana pendidikan yang pernah ditempuh seseorang, dan lingkungan keluarga yang mendidiknya, serta tingkat kedalaman ia memahami agamanya. Karena, setiap kata yang digunakan ada nilainya. Kata yang baik akan dinilai sebagai kebaikan, kata yang buruk juga dipahami sebagai keburukan. Hindari menggunakan kata yang tidak penting untuk memperbaiki hidup seseorang. 

Tirani sebuah kata dilihat dari makna dan cara seseorang mengucapkannya. Sebab, kalo sekedar berucap burung pun jauh lebih merdu suaranya dibanding manusia. Jika kata yang diucap sekedar untuk terlihat ada suara maka anjing pun jauh lebih keras gonggongannya. Setiap pengucap akan diminta pertanggung jawaban terhadap kata di dunia dan di akhirat.

 

Jakarta, 4 Oktober 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama