BALE MOLOD DAN BURUKNYA POLITIK UANG



Agama dan politik memang berbeda nama serta outputnya. Namun keberadaan keduanya saling mempengaruhi, bahkan saling memperkuat satu sama lain. Politik adalah tindakan dan praksis, sementara agama sebagai basis moral. 

Pada ranah pemikiran, relasi agama dan politik dikatagorikan dalam paradigma simbiotik. Di mana hubungan keduanya saling mempengaruhi serta memperkuat satu sama lain. Ibaratnya,  politik adalah raga dan agama adalah ruhnya.

Keberadaan keduanya seperti tidak dapat dipertemukan dalam hal prosesnya. Yang namanya politik suka membesarkan persoalan yang kecil, sementara agama selalu mengajarkan untuk mengecilkan persoalan besar sehingga kekacauan berpikir dan tindakan dapat segera diatasi. 

Politik sangat identik dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, termasuk menghalalkan agama untuk meraih kekuasaan, politisasi agama mengemuka dalam politik yang di identifjkasi. Di sini agama akan risih atas tindakan politik itu sendiri, sebab prinsip dalam beragama menghalkan cara untuk kepentingan dunia, termasuk keinginan untuk berkuasa.

Terlalu mudah untuk menjelaskan keberadaan keduanya, tetapi sulit untuk mengajak bagaimana memadukan dua hal yang seharusnya saling memperkuat dalam kehidupan sosial. Potensi dari masyarakat kita lebih mudah diajak membuat "bale bulukat molod" dengan segala asesoris dan isinya, dibandingkan dengan membuka pikiran politik tanpa iming-iming. 

Menyediakan "bale bulukat molod" mengeluarkan banyak uang, dan tentunya tidak sebanyak uang yang diterima satu hari min H saat pemilihan; baik pemilihan caleg, cabup, dan cagub. Uang yang telah dikorbankan untuk perayaan hari kelahiran Nabi dengan jumlah yang banyak, dan ini dipahami sebuah pengorbanan terhadap syiar keagamaan. 

Namun pada momen yang lain sangatlah tega mengorbankan ajaran Nabinya (khusus terkait politik) dengan uang yang jumlahnya sedikit, paling lima puluh atau seratus ribuan saja. Ini jauh berbanding dengan kekuasaan yang akan diperoleh dari proses politik oleh politisi yang suka memainkan politik uang (curang). 

Molod kali ini adalah molod yang dihadapkan pada proses politik menuju 2024. Semangat perayaan molod yang berlangsung sangat meriah di seluruh sentro Aceh benar-benar harus menjadi momentum untuk mengingatkan diri bahwa, jika untuk membuat "bale molod" lengkap asesoris dan isinya kita telah berkorban banyak, maka untuk memberi kekuasaan yang besar sekali pengaruhnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mengorbankannya hanya dengan jumlah uang yang sedikit. 

Tidak hanya itu, bahkan rakyat sepertinya rela serta membentuk kerja sama menyerahkan kekuasaan pada orang-orang yang melanggar ajaran Nabi itu sendiri, bahwa "yang menyogok dan yang disogok sama-sama masuk neraka". 

Pada pembicaraan politik, masyarakat selalu menginginkan negara melalui proses politik mengantarkan kesejahteraan yang banyak. Tetapi, pada prakteknya masyarakat menyia-nyiakan proses politik yang menentukan nasibnya. Islam mengecam tindakan buruk yang setara untuk diulang-ulang, apalagi sebuah tindakan yang dilakukan tidak melangkah lebih baik untuk ke depannya. Sungguh manusia itu telah merugi jika besok tidak lebih baik dari hari ini.

Jakarta, 10 Oktober 2022.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama