Intelektual Mendesain Pikiran Kekuasaan Mendesain Insentif

Argumentasi rasionalitas dan dengan ilmu pengetahuan manusia membangun kekuatan. Hujjah adalah kekuatan. Melalui ilmu pengetahuan kelompok intelektual membangun intelektualitas kepada umat. Sementara kekuasaan adalah kekuatan politik. Melalui kekuasaan kaum politik mengantarkan kesejahteraan untuk umat manusia. bukan dibalik, melalui ilmu kaum intelektual menipu umat yang awam, dan melalui kekuasaan kaum politik menguasai kaum yang lemah untuk ditindas.  

Dua golongan yang sering menyapa manusia; golongan intelektual dan golongan politik. Kedua golongan ini bergerak melalui jalannya masing-masing. Peran intelektual sering tidak populer bagi masyarakat yang tidak peduli dengan literasi. Sementara peran politik sering mengemuka, walaupun pelakunya bukan dari kalangan kaum intelektualitas. Di tengah masyarakat yang lemah daya pikirnya, politik dengan mudah dimainkan untuk memusuhi kaum intelektual yang notabene kritis terhadap kebijakan politik yang dianggap tidak signifikan atas kesejahteraan utama.

Pertama, golongan intelektual menyapa dengan ide, pikiran, konsep, wacana. Sapaan intelektual dituangkan, baik dalam bentuk tulisan maupu ucapan. Sapaan intelektual mengantarkan pengetahuan baru berdasarkan kenyataan-kenyataan aktual. Dengan tujuan mengantarkan paham dalam berbagai hal pada manusia sesuai dengan bidang dan perannya. Disaat intelektualitas menyapa diri, akan terjadi perubahan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, golongan politik. Golongan politik menyapa manusia dengan janji-janji manis, yang kadangkala tidak dipenuhi dengan baik ketika kekuasaan diserahkan padanya. Bahkan sering terjadi, politik kuasa menjual dirinya dengan harga yang murah. Sapaan politik hanya meninggalkan jejak sesaat, karena dijalankan dengan suguhan-suguhan untuk menutupi kekosongan program, selebihnya adalah popularitas.

Membangun citra intelektual tidaklah mudah, butuh waktu lama membangun intelektualitas diri melalui studi yang panjang. Sementara membangun citra politik cukup menjadi kader partai, lalu pinter memainkan peran, dan tanpa memiliki kemampuan pengetahuan politikpun ketenaraanya mudah didapat. Kemudian, sangat mudah pula mendapatkan simpati orang-orang.

Berbeda dengan peran intelektualitas. Mendapat akses ke sana sangatlah berat, lebih-lebih lagi mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Menjadi intelektual perlu dibuktikan dengan ide, pikiran, karya, jenjang studi, dan untuk memperoleh semua pengakuan tersebut tidaklah digapai dengan mudah. Bertarung dengan ide, pikiran, dan waktu. Oleh karena potensi intelektual diperoleh melalui jalan yang berat, maka ide, pikiran, dan konsep berat juga diterima oleh kebanyakan orang.

Sedangakn peran politik dapat dilakukan dengan mudah, sebab yang dibutuhkan hanyalah popularitas serta modal dalam bentuk materi. Sebagian besarnya modal nekat dan berani turun ke panggung politik. Instan cara memperoleh pengakuan, maka instan pula cara ia mengembalikan peran-perannya atas kepercayaan yang diberikan padanya. Cukup menjadi kader partai, maka label politisi melekat pada dirinya. 

Masyarakat di yang hidup di era keterbukaan informasi pablik seharusnya berperan bersama kelompok intelektual, bukan malah menceburkan diri bersama janji manis penuh kepentingan dari kelompok politik. Atau, masyarakat memberi porsi dan peran lebih pada kelompok intelektual dalam rangka bagaimana menentukan pilihan-pilihan politik berdasarkan ide, konsep, dan wacana yang membangun.

Suatu kerugian besar jika peran intelektual hanya dijadikan sebagai wujud kebanggaan semata, karena merasa memiliki pemikir. Tetapi, keberadaannya sebagai moto perubahan terus menerus tidak memiliki tempat, bahkan dimusuhi oleh masyarakatnya karena dianggap jalan politik sebagian orang yang telah berhasil membuat pikiran pablik terbuai dengan popularitas tanpa tindakan perubahan nyata.

Membairkan kelompok intelektual hanya sebagai icon kebanggaan saja merupakan bibit kerugian yang ditanam puluhan tahun. Apalagi membiarkan ide dan pikiran golongan intelektual hanya sebagai pemanis bacaan saja. Seharusnya,ide dan pikiran tersebut menjadi dasar bagi masyarakat dalam menentukan ide-ide politiknya.

Pemimpin adalah orang yang mampu mendesain insentif untuk orang lain. Sebagaimana kamu intelektual membangun inseftif pikiran. Dalam sistem kerja perusahaan, insentif dipahami suatu kompensasi dari perusahaan sebagai penghasilan tambahan atas gaji bulanan sebagai imbalan atas kerja keras pekerja.

Perusahaan yang mengeluarkan modal pribadi saja dituntut untuk memperhatikan insentif pada karyawannya, dan ini juga diatur melalui undang-undang. Perusahaan ditetapkan aturan pada pekerja terutama sekali terkait dengan batas mimimum pendapatan atau Upah Minimum Regional di masing-masing wilayah.

Lalu bagaimana dengan pemimpin di lembaga negara yang tidak perlu mengeluarkan modal, dan hanya mengelola anggaran yang telah disediakan. Sebagai hak pengelola, maka seharusnya pemimpin lebih giat dalam hal mendesain insentif pada orang-orang yang dipimpinnya. Bukan cuma pintar mendesain pencitraan untuk popularitas diri tanpa elektabilitas yang dapat dipercaya.

Desain insentif ini dengan upaya membangun kesejahteraan umat manusia. Pemimpin tidak boleh mengekang pendapatan, apalagi menjual pendapatan tersebut untuk kepentingan dirinya. Lebih buruk lagi desain pendapatan dengan cara membangun arogansi politik, menganggap bahwa penguasa anggaran ada di tangannya, sehingga ia berhak mengatur serta mendesain pendapatan orang-orang yang pada ujungnya mendatangkan pemasukan pada dirinya.

Desain pendapatan seperti ini tidak boleh dilakukan oleh pemimpin di level mana pun, baik untuk diri, keluarga, dan kelompok, apalagi bagi mereka yang diberi hak kuasa atas anggaran. Desain intelektual tidak hanya untuk dirinya melainkan juga mengantar narasi untuk banyak orang. Pada saat insentifikasi pengetahuan disalurkan, maka siapa pun mendapatkan akses walaupun pada orang yang tidak pernah kenal mengenal dengan dirinya.

Bukankah para intelektual dari masa ke masa ide dan pikirannya masih bermanfaat untuk manusia hari ini. Padahal, keberadaan mereka melampaui batas zaman hari ini, namun melalui hantaran literasi melalui media informasi baik dalam bentuk tulisan, ucapan, dan artefak-artefak yang  dapat mengantarkan narasi kepada manusia sepanjang serta sesuai dengan perkembangan zaman. Zaman, media informasi mutaakhir narasi intelektual dapat disimpan dapat bentuk suara.

Setiap kita adalah pemimpin, setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya. Pertanggung jawaban pemimpin disaat ia hidup dan menjalani fungsi-fungsi sosial seperti apa cara ia mendesain pendapatan serta insentif bagi orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya dan masyarakat secara luas.

Negara hadir untuk mengantarakan kesejahteraan, bukan memberi makan. Manusia melalui garis sosialnya dapat hidup hidup tanpa harus ada negara, tetapi tidak untuk memperoleh kesejahteraan. Dengan itulah fungsi politik diperlukan. Politik yang dibangun atas dasar intelektualitas bukan politik popularitas. Politik popularitas hanya berfikir tentang apa yang bisa dimakan, sementara politik intelektualitas berfikir bagaimana mengantarkan kesejahteraan.

Jika desain pendapatan dan insentif hanya untuk diri dan kelompoknya saja, maka ia tidak layak disebut sebagai pemimpin, tapi layak disebut sebagai pecundang atau perampok. Begitu juga dengan kelompok intelektual tidak dibenarkan membangun narasi hanya untuk membenarkan pikiran dirinya dengan membawa kebenaran yang dimiliki oleh orang atau kelompok yang lain. Dengan begitu, kelompok intelektual tidak dibolehkan mengeluarkan ide, pikiran, dan konsep membingungkan banyak orang, apalah narasi yang dibangun merendahkan manusia itu sendiri yang telah dibangun atas dasar moralitas dan kebudayaan yang baik.

Seyogianya kita menghindar diri dari upaya menghadirkan para perampok intelektual, dan penjarah kekuasaan yang tidak pernah berpikir bagaimana mendesain insentif yang baik dalam bentuk ide, pikiran, dan konsep untuk rakyat secara merata dan keseluruhan. Sehingga setelah berakhir kekuasaan; baik kuasa intelektualitas maupun kuasa anggaran dalam wilayah kekuasaan benar-benar hadir membawa kemajuan signifikan dalam mengantarkan kesejahteraan, bukan sekedar memberi makan. Sehingga terbangunlah kemajuan yang merata; secara intelektulitas terus berkembang, dan kesejahteraan ekonomi terus meningkat.

Rakyat dapat menciptakan kehidupan dan bisa mencari makan dengan caranya sendiri, tetapi tidak untuk kesejahteraan dalam banyak hal. Karena itulah peran pemimpin politik dibutuhkan. Peran intelektual membangun ide, pikiran, dan konsep. Sementara peran politik membangun kesejahteraan di berbagai bidang. Untuk itu, keberadaan dua kelompok; kelompok intelektual dan kelompok politik harus diberi ruang, sehingga keduanya berjalan beriringan, sebab manusia tidak dapat menggerakkan kehidupan secara sendiri-sendiri.

Aceh Serambi Madinah, 16 Juli 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama