Ash-Shafha: Lembaran-Lembaran yang Tercoreng

Kata “al-‘afwu” menurut ethimologi bermakna sesuatu yang berlebih. Pengertian pemaaf adalah memaafkan kesalahan orang lain tanpa tersisa rasa dendam sedikit pun dalam diri. Memaafkan dengan menyisakan dendam disebabkan karena pelakunya tidak memiliki kelapangan dada. Seyogianya, memaafkan harus dibarengi dengan sifat lapang dada. Sebab, yang demikian itu termasuk perbuatan yang baik.

الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِ​ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ​

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Q. S. Ali-Imran/003: 134.

Orang yang suka memberikan maaf terhadap orang lain adalah ciri orang yang bertakwa kepada Allah. Islam menganjurkan umatnya untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu ia datang untuk meminta maaf. Secara psikologis meminta maaf hal biasa berlaku dalam kehidupan sehari-hari; seperti seorang orang tua yang berbuat salah terhadap anaknya; walaupun berbuat salah tetapi sangatlah jarang orang tua meminta maaf kepada anaknya. Namun, sebagaimana anak yang baik terlebih dahulu sudah memaafkan, sebelum orang tuanya meminta maaf.

M. Qurais Shihab mengutarakan, di dalam Alquran sebenarnya yang ada hanyalah memberikan maaf bukan meminta maaf. Walaupun di dalam hadis Rasulullah disebutkan “apabila seseorang mendapatkan masalah dengan orang lain, ada sengketa maka hendaklah orang tersebut meminta maaf atau meminta halal kepada hal yang disalahkan”. Mintalah maaf hari itu juga. Secara psikologis meminta maaf memang berlaku dalam kehidupan. Seseorang merasa bersalah jika belum meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan.

Memberikan maaf tidaklah cukup, sifat maaf harus dibarengi dengan sikap berlapang dada. Di dalam surat al-Maidah ayat ke-13 disebutkan kata “fa’fu’anhum” maafkan mereka-mereka itu, “washfah”, dan berlapang dadalah kamu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Sementara di dalam surat an-Nur ayat 23 Allah berfirman “walya’fu wal yashfahu”, hendaklan mereka-mereka itu memberi maaf dan berlapang dada. Memberi maaf dapat dilihat dari cara Tuhan memaafkan hambanya, “apakah kamu tidak suka apabila Tuhan memberi maaf dengan mengampuni dosa-dosa yang dilakukan hambanya”.

Kata “wal yashfahu-ash-shafha”,  artinya adalah lembaran. Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada orang lain, lembaran hidupnya tercoreng-coreng, yang mana lembaran-lembaran yang tercoreng tersebut dihapus dengan menggunakan penghapus. Tetapi, lembaran yang sudah dihapus tetap menyisakan bekas-bekasnya. Maka, dengan itulah manusia diminta untuk membuka lembaran baru. Lembaran yang belum dan tidak terdapat coretan-coretan di dalamnya. Lembaran yang bersih supaya memulai kehidupan baru yang tidak diisi lagi dari keburukan-keburukan baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Menghilangkan coretan dengan membuka lembaran baru agar tidak adalagi keburukan yang dilakukan. Walaupun coretan-coretan pada lembaran sebelumnya sudah dihapus, namun tetap saja menyisakan luka, jika tidak dihilangkan dengan cara berlapang dada. Memberi maaf harus dibarengi dengan sikap lapang dada agar kesalahan yang dilakukan seseorang tidak lagi membekas dalam ingatan. Memaafkan dengan tetap mengingat kesalahan dikhawatirkan seseorang tidak sepenuhnya atas maaf yang diberikan.

Lawan dari kata maaf adalah kata dendam. Dendam adalah menahan rasa permusuhan di dalam hati, dan menunggu kesempatan untuk membalasnya. Orang yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh ampunan dari Allah. Karena itulah manusia diperintahkan untuk memberikan kemaafan. Enggan memberi maaf sama dengan enggan memperoleh ampunan dari Tuhannya.

Abu Bakar ash-Shiddiq pada suatu hari, anaknya ‘Aisyah disebutkan bahwa “Aisyah telah berbuat mesum”, peristiwa ini dipahami suatu keburukan oleh orang-orang saat itu dikarenakan ‘Aisyah dituntun oleh laki-laki lain. Lalu peristiwa ini diprovokasi dan memunculkan fitnah. Provokasi ini dilakukan oleh saudaranya sendiri Misbah bin Usafah, dan beberapa yang lainnya ikut memblow-up berita tersebut.

Atas peristiwa itulah  Abu Bakar bersumpah “saya tidak akan memberikan bantuan kepada orang-orang yang memberitakan anaknya telah berbuat mesum”. Dari peristiwa ini turunlah ayat Alquran mengabarkan.

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Q. S. An-Nuur/024: 22.

Sifat pendendam tidak hanya merusak pergaulan masyarakat, sifat pendendam juga merugikan diri sendiri dalam waktu yang lama. Energi seorang pendendam hanya habis untuk menyusun strategi dan menunggu giliran kapan rasa dendam itu dapat dibalas. Karena dendam menimbulkan pandangan kebencian dalam diri seseorang. Bukan hanya benci melihat orangnya, termasuk benci melihat apa yang dimiliki orang tersebut; baik yang dimiliki berupa harta, pangkat, jabatan, pasangan, anak, dan lain sebagainya.

Orang yang pendendam tidak hanya merusak dirinya tetapi juga merusak kehidupan bermasyarakat. Karena itulah Allah mengingatkan “hendaklah engkau memberi maaf kepada mereka dan hendaklah kalian semuanya berlapang dada”. Dengan demikian, hendaklah menahan amarah, menghindar untuk beberapa saat agar menenangkan hati jauh lebih baik dibanndingkan dengan memperturutkan amarah.

Bukankah Rasulullah Saw bersabda “tidak dibolehkan seorang mukmin mendiamkan saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari. Dua-duanya bertemu, yang satu berpaling ke kanan dan yang satu lagi berpaling ke kiri tidak mau bertemu. Siapa yang paling baik di antara keduanya; yang paling baik adalah orang yang pertama kali menjulurkan tangannya untuk menjalin perdamaian”. Mudah-mudahan “al-‘afwu”, dan sifat “ash-shafhu” sifat pemaaf dan sifat berlapang dada ada pada diri kita dalam mengarungi kehidupan ini.

Setiap orang memiliki karakter tersendiri, sikap dasarnya tidak dapat dirubah oleh orang lain, dan prilaku ini akan terus hidup dalam diri seseorang dalam momen apa pun. Mungkin saja, kesalahan yang sifatnya privasi dapatlah dimaafkan serta dengan berlapang dada. Tetapi masalah yang menyangkut dengan transaksi dunia, memaafkan kesalahan seseorang perlu ditinjau ulang, apalagi transaksi tersebut merugikan banyak pihak.

Seseorang yang suka berbohong dan curang dalam banyak hal, ia akan terus berbohong dan berbuat curang secara terus menerus. Maka, maafkanlah kesalahannya yang pertama, lalu jauhi orangnya, dan jangan pernah bekerjsama dua kali dengannya. Ayam yang suka masuk ke dalam rumah sampai kapan pun ia akan terus berusaha naik ke dalam rumah. Boleh saja bergaul dengan orang yang salah, tetapi jangan bergaul dua kali.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan (ma’ruf) kebaikan, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Q. S. al-A’raf/007 : 199.

Maafkanlah kesalahannya serta berlapang dadalah atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang. Lalu biarkan orang-orang yang berperangai buruk hidup dengan caranya sendiri. Dan menjauhlah dari seseorang yang hanya berharap maaf tanpa berusaha merubah prilaku. Berbuat baik adalah perintah, menghindari orang-orang jahil (bodoh) juga kewajiban. Hanya orang-orang bodohlah yang berharap maaf tanpa upaya merubah sikap.

Serambi Madinah, 15 Juli 2024

   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama