TASTAKNISU: HADIRLAH TANPA MELUKAI

Melayani orang lain bagian dari ajaran Islam, dan juga sunnah yang bukan hanya diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw melainkan juga baginda sendiri yang mempraktekkannya. Melayani tanpa komersialisasi adalah sebuah pengorbanan. Oleh sebab itulah melayani sesuatu yang berat bagi sebagian orang, sebab tidak semua orang mempunyai mental yang baik dalam menyisakan waktunya untuk orang lain.

Orang yang baik adalah yang selalu memberikan kebaikan pada yang lain. Namun, orang yang jauh lebih baik adalah orang yang mampu membalas kebaikan itu dengan kebaikan yang jauh lebih baik pula, atau dengan kebaikan yang setara. Di antara kita memiliki kemampuan yang beragam dalam berbuat baik.Kebaikan tidaklah dilihat dari kuantitasnya, tetapi dilihat dari kualitasnya. Apapun yang diperoleh dan mendatangkan manfaat atas manusia itulah sejatinya kebaikan. Dan apapun yang medatangkan malapetaka itulah keburukan. Setiap manusia dituntut untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, dan setiap manusia juga diminta untuk membalas dengan balasan yang jauh lebih bermanfat, atau dengan manfaat yang setara.

وَاِ ذَا  حُيِّيْتُمْ  بِتَحِيَّةٍ  فَحَيُّوْا  بِاَ حْسَنَ  مِنْهَاۤ  اَوْ  رُدُّوْهَا   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  كَا نَ عَلٰى  كُلِّ  شَيْءٍ  حَسِيْبًا

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu. Q. S. An-Nisa’/: 86.

Ayat ini pada dasarnya berbicara tentang pemberian salam. Jika seseorang memberi salam pada kita maka balaslah dengan salam yang jauh lebih baik dari yang diucapkan. Memberi salam saat kita bertemu dengan seseorang sebuah kebaikan dalam bentuk doa.

Salam merupakan derivasi kata dari Islam itu sendiri yang bermakna "menyelamatkan". Konteks keselamatan dalam Islam tidak hanya bicara ucapan salam saja. Tidak beriman seseorang yang ucapannya tidak mendatangkan keselamatan bagi orang lain. Keselamatan di sini juga terkait dengan tata kelola hidup dunia.

Manusia harus hadir saling membantu  satu sama lain. Di sini berlaku, jika seseorang berani membantu ketika seseorang dalam keadaan sulit, maka balaslah bantuan tersebut dengan balasan yang jauh lebih baik dari yang diberikan, atau jika tidak mampu membalas jauh lebih baik maka balaslah dengan balasan yang setara, bukan balasan yang lebih rendah, apalagi membalas dengan menyakiti hati yang telah berbuat baik pada kita.

Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Jika kalian ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika ia memiliki karakter yang bagus ia akan lebih menghormatimu. Namun jika dia memiliki karakter buruk, dia akan merasa dirinya paling  baik dari semuanya”.

Namun, jika sebaliknya, kita bukanlah tipe yang berkeinginan menghormati orang lain, maka jangan pernah tersinggung ketika orang-orang tidak memberi hormat. Sebab, pada dasarnyan setiap tindakan yang baik dari seseorang dituntut balasan yang jauh lebih baik darimu. Di lingkungan kita tidaklah susah mencari orang baik, yang susah didapat adalah orang yang mampu berterimakasih atas kebaikan yang diperoleh olehnya. Alih-alih membalas kebaikan yang setara dan lebih baik, berterimaksih saja terkadang tidak mampu.

Konsekuensi dari kebaikan sebagai wujud hitung-hitungan makhluk atas usahanya menaruh hormat pada sesama. Balasan yang harus diberikan adalah jauh lebih baik atau yang setara dengannya. Bukan kebaikan yang lebih rendah dari yang diberikan, apalagi sampai melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti hati orang yang telah berbuat baik pada kita. Membalas kebaikan bukan hanya sebatas menjalankan konsep humanisme, melainkan juga menjalankan perintah Tuhan melalui firman-Nya.

Akhir dari ayat di atas, Allah Maha Menghitung atas segala sesuatu. Allah saja menghitung baik buruk yang kita lakukan. Jika Tuhan Maha Menghitung atas apa yang kita lakukan, maka manusia jauh lebih menghitung lagi atas apa yang diterimanya. Berlaku dalam kehidupan sosial bahwa yang lebih tua dihormati, yang sebaya dihargai, dan yang lebih muda disayangi. Ini menjadi patron dalam kehidupan sehari-hari.

Kebaikan/kemuliaan dapat berupa apa saja; baik ucapan, tindakan, bantuan dalam bentuk apa pun, ide, pikiran, nasehat, saran, dan waktu, termasuk transaksi dunia yang saling mendatangkan manfaat satu-sama lain. Semua kebaikan yang diberikan pada kita berakhir pada koordinat balasan yang jauh lebih baik atau balasan yang setara dengannya. Prilaku yang lebih buruk sudah membalas kebaikan tidak mampu malah memusuhi orang yang telah menaruh kebaikan.

Islam menganjurkan pada pemeluknya sebagai pelayan yang baik. Anjuran ini tidak pula memberi peluang sepenuhnya pada  setiap orang bisa berlaku semena-mena mungkin. Antara tamu dan tuan rumah diikat oleh adab sesuai dengan  tradisi yang berlaku dalam suatu wilayah. Sehingga, hadirnya kita dalam suatu komunitas tidak melukai pihak-pihak yang lain.

Datang dengan santun, lebih baik lagi sekalian  membawa santunan. Biaya-biaya silaturrahmi juga perlu diperhitungkan, walaupun bukan itu yang menjadi tujuan utama dalam menjalin silaturrahmi. Datang saja bertamu sudah sangat baik, ada pun bawaan-bawaan tergantung suasana dan kondisinya. Kecuali datang memenuhi undangan resmi yang terikat dengan tradisi dunia. Datang dengan membawa cendramata bagian dari upaya ikut membantu yang punya hajatan. Begitu juga peristiwa-peristiwa penting lainnya, datang dengan santun dan sanunan.

Hukum alam itu ada, sunnatullah berlaku timbal balik, baik yang ditanam baik pula yang dituai. Apa yang kita tanam itulah yang didapat. Begitulah hukum alam bekerja. Biaya promosi untuk disebut sebagai orang baik sangat mahal. Begitu juga hubungan hamba dengan Tuhan, untuk disebut hamba yang baik ia harus berkorban banyak hal. Tidak mungkin seseorang disebut beriman jika tidak diuji dengan banyak hal pula. Ujian-ujian ini berupa pengorbanan-pengorbanan. Sayangilah apa yang ada di bumi, dengan sendirinya unsur-unsur yang ada di langit mencurahkan rahmatnya bagi orang-orang yang penyayang. Irham fil-ardhi yarham fissamak.

Hubungan manusia di bumi seperti saudara se ibu/ibu bumi. Artinya, setiap manusia memiliki tanggung jawab membangun relasi antar sesama, baik relasi yang betalian darah maupun tidak. Islam telah membangun persaudaraan yang kuat antar manusia di permukaan bumi. Relasi ini dibangun atas dasar peduli antara satu dengan yang lain. Sebagaimana pepatah Minang mengurai relasi yang kuat dalam mengikat talian persaudaraan.

Dakek calik man calik-jauh jalang manjalang, sakik basilau sanang-sanang bahimbauan, baitulah badunsanak jo basudara. Cabik-cabik si bulu ayam- takadang rapek kadang maranggang, ketek salapiek sakatiduran-gadang baiyo dalam rundingan. Bakakak jo baradik dakek mangko ka berang-bakakak jo baradik jauh mangko ka sayang.

Walaupun demikian adanya, Islam juga mengatur tatacara yang baik dalam menjalin hubungan. Bersilaturrahmi bukan sekedar datang tanpa memastikan situasi dan konndisi yang sedang dialami oleh setiap orang. Memastikan kondisi perlu diperhatikan, sebab manusia selalu berubah-rubah kondisinya. Ayat di bawah ini menjadi barometer bagi kita dalam menjalin relasi dengan yang lain. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Q. S. An-Nur/024: 27.

Menarik dikaji kata "tastaknisu" pada ayat di atas. Kata ini bermuatan komunikatif yang mengandung unsur psikis yang dalam pada diri seseorang. Tastaknisu, mengandung makna "hendaklah engkau perhatikan situasi yang baik, nyaman, tenang, bersahabat, memungkinkan, dan lain sebagainya. Ayat ini mengingatkan seseorang ketika datang bertamu ke rumah orang lain. Sebelum engkau mengucapkan salam hendaknya dipastikan terlebih dahulu situasi-situasi di luar dugaan.

Situasi-situasi ini bisa jadi terkait dengan suasana rumah dan penghuninya. Jika engkau bertamu ke rumah seseorang melihat tidak ada laki-laki di dalamnya, maka sebaiknya sebagai laki-laki tidak boleh masuk ke rumah tersebut sebab akan menimbulkan fitnah. Bukanlah sesuatu yang buruk memastikan atau bertanya apakah suamimu atau sodara laki-lakimu ada di rumah, jika tidak ada maka tunggulah disaat mereka (suami atau sodara laki-laki) pulang.

Pada momen yang lain juga perlu dilihat waktu yang tepat. Jangan bertamu diwaktu larut malam, siang hari, waktu pagi ketika mayoritas kita bersiap-siap berangkat ke tempat tugas masing-masing, atau waktu-waktu yang digunakan saat jam istirahat. Sebaiknya, buatlah perjanjian terlebih dahulu saat engkau hendak datang bertamu dalam rangka satu dan lain hal. Lebih baik buatlah perjanjian terlebih dahulu ketika kita hendak bertamu.

Walaupun kita diperintahkan saat bertemu dengan sodara-sodaramu ucapkanlah salam. Tetapi sebelum salam diucapkan perlu diperhatikan situasi yang sedang berlaku pada seseorang, mungkin saja ia sedang sibuk dengan rutinitasnya. Mana tahu, orang yang akan ditemui sedang membahas sesuatu yang penting, atau sedang membicarakan hal-hal yang tidak diketahui.

Memperhatikan situasi terlebih dahulu agar kehadiran kita tidak merasa terganggu aktifitas orang lain. Setelah benar-benar dalam kondisi yang tenang dan memungkinkan segeralah melontarkan kalimat salam. Sebagai contoh kita tidak dibenarkan mengucapkan salam pada saat masuk ke sebuah cafe atau warung kopi, di mana banyak orang yang ada dalam warung tersebut sedang sibuk dengan urusan dan bersama kolega-koleganya masing-masing.

Merasa sebagai muslim lalu masuk ke tempat-tempat umum dengan lantang berkata "assalamualaikum". Pada saat kita masuk tempat-tempat tertentu perlu menyelidiki dan memastikan situasi aman atau tidak. Sebaiknya hindari mengucapkan salam, sebab tidak semua yang ditemui kenal dengan kita atau memperhatikan kita. Walau kenal sekali pun perlu juga diperhatikan situasi-situasinya.

Tastaknisu, di sini juga bermakna terpastikan hubungan yang dekat dengan orang yang hendak ditemui. Jika sudah dekat sebelumnya maka dengan sendirinya akan terbentuk situasi yang selalu baik. Bertamu ke rumah sahabat yang akrab kapan pun dan dalam kondisi apa pun akan terjalin komunikasi yang baik, apalagi sahabat sejak kecil. Bertemu dengan orang yang kita kenal sekali pun juga perlu memperhatikan banyak hal, agar tetap mengutamakan unsur kenyamanan dalam berkomunikasi, apalagi dengan orang yang belum dikenal.

Tastaknisu; mengutamakan cek kondisi terlebih dahulu dari pada mengucapkan salam. Walaupun mengucapakan adalah perintah Alquran, memastikan keadaan adalah wajib agar terjalin komunikasi yang baik antara kita dengan yang lain. Termasuk juga dalam suasana bercanda, kondisi lawan bicara tetap diperhatikan. Kita sering mengabaikan situasi dalam kondisi apa pun ketika berinteraksi dengan sesama.

Mengucapkan salam adalah ungkapan kebaikan yang diucapkan pada orang lain sekaligus mengandung makna doa. Mendoakan orang lain dalam bentuk salam saja perlu melihat keadaan orang yang kita temui, apalagi mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, lebih-lebih lagi kita harus melihat waktu yang tepat walaupun ungkapan tersebut dalam bentuk candaan. Jika pun kehadiran kita diterima dengan baik dan tidak memperhatikan situasi, memungkinkan pertemuan tersebut akan menyisakan cerita buruk dilain waktu.

Begitu juga dalam lingkup kekuasaan, elit pemangku anggaran mesti memastikan terlebih dahulu prioritas yang mengamankan aspirasi masyarakat dalam berbagai hal. Memprogramkan sesuatu padahal bukan kebutuhan mendesak rakyat, ketika ini dipaksakan sementara tidak ada unsur yang mengantarkan kenyamanan, maka program apa pun tidak akan mendatangkan keselamatan atas kebutuhan-kebutuhan rakyat yang mendesak tersebut. Pengendalian wilayah dan pengendalian aspirasi sangat perlu dilakukan agar anggaran tepat sasaran.

Begitu juga dalam menghadapi situasi hiruk pikuk politik, ruang demokrasi harus diisi dengan cara-cara yang baik tanpa menyisakan luka bagi masyarakat politik baik bagi calon legislatif dan eksekutif maupun sebagai pemilih. Masing-masing elemen politik mesti memperhatikan kenyamanan bagi orang lain dalam berbagai aspek. Politik harus dipahami pesta kebahagian sementara partai politk dipahami sebagai instrumen untuk mengantarkan kesejahteraan bagi umat yang mana pun, apa pun partai yang dipilih mesti dipiahami sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan. Hak politik setiap orang harus dilindungi dan hak pilih masing-masing warga wajib dihargai. Menggunakan politik segala cara untuk menang sama dengan menyisakan luka pada banyak orang.

Perhatikanlah situasi-situasi di sekitarmu dengan baik, pada saat bertamu dan bertemu dengan yang lain. Setelah situasi kondusif didapatkan maka ucapkanlah salam. Jangan dibalik, setelah mengucapkan salam baru melihat situasi, apalagi setelah mengucapkan salam dan pembicaraan sekelompok orang terhenti karena ucapan salam yang kita berikan, lalu kita pun meninggalkan orang tersebut. Ini prilaku baik memang, tapi melukai banyak pihak.

Ritme peradaban waktu selalu hadir dua hal yang berlawananan; kebaikan dan keburukan. Orang yang kerdil hanya menyisakan waktu untuk dirinya, yang cerdas selalu menciptakan waktu untuk bersama, sementara yang ikhlas memberikan waktu seluas-luasnya.

Jakarta, 30 Mei 2023



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama