MALU, SABAR, DAN SYUKUR AKHLAK YANG RENDAH

Adanya sifat malu menandakan seseorang beriman, “al-hayaa u minal iman”, malu adalah sebahagiaan dari iman. Apabila seseorang kehilangan rasa malu, maka ia telah hilang sebagian imannya. Tradisi malu tidak dapat dibentuk dengan sendirinya, tetapi ia diturunkan dari sifat orang tua. Walaupun demikian, ilmu dapat membangun sifat malu bagi pemiliknya, semakin seseorang berilmu semakin menunduk wajahnya. Ini pertanda siempunya ilmu merasa malu dengan dirinya sendiri.

Menunduk wajah disebabkan oleh karena merendahnya jiwa. Adapun menunduknya wajah bentuk nyata yang diperlihatkan seseorang yang memiliki rasa malu. Pemilik rasa malu bukan berarti ia terbebas dari keinginan banyak hal, justru karena banyak keinginanlah ia merasa malu berharap sesuatu baik berharap pada makhluk maupun berharap pada Tuhan. Pemilik rasa malu bukan berarti tidak pernah melakukan sesuatu yang mendapati penilaian buruk orang-orang terhadapnya. Justru karena rasa malu lah ia menutup celah dosanya dari banyak mata yang melihat.

Akhlak yang paling rendah di samping bersabar dan bersyukur adalah rasa malu. Sabar adalah pekerjaan yang berat, dan ini disebutkan di dalam Alquran bahwa “kesabaran hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang khusyu”. Begitu beratnya sabar itu sehingga Tuhan menyandingkan perintah untuk bersabar dengan perintah shalat. Ini dapat dilihat dalam Alquran.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. Q. S. Al-Baqarah/02: 45.

Begitu beratnya untuk bersabar, Tuhan menyandingkan perintah bersabar dengan perintah shalat. Namun, untuk bersabar tidak hanya dapat dilakukan oleh manusia, sabar juga diparktekkan oleh makhluk yang lain, seekor kucing tidak akan mengambil makanan yang tidak diberikan padanya, kucing sabar menunggu tuannya menyerahkan makanan kepadanya. Kucing juga memiliki rasa malu, kucing akan mengambil sesuatu saat ia lapar ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya. Walaupun kucing mengambil secara diam-diam ia tetap tidak serakah. Kucing mengambilnya sesuai dengan kebutuhannya.

Berbeda dengan manusia, bukan hanya mengambil di luar batas kebutuhannya, tetapi juga merekayasa banyak hal untuk merampas yang bukan haknya, walaupun itu bertentangan dengan hukum. Kucing tanpa diberikan akal ia merasa malu mengambil sesuatu yang bukan haknya, sehingga kucing pun mengambilnya secara diam-diam. Namun berbeda dengan manusia menggunakan akalnya memanipulasi banyak  hal secara terang-terangan walaupun bertentangan dengan hati nuraninya dan berlawanan dengan moral publik.

Kucing juga memiliki rasa sabar secara alamiah, kucing tidak akan mengambil makanan di luar batas kebutuhannya, walaupun kucing mengambil sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun tetap saja kucing mengambil sebatas untuk sekali makan saja. Manusia sering melampaui batas, bahkan tamak, bukan mengambil sekedar untuk menutupi kebutuhannya melainkan ia menumpuk-numpuknya, padahal sedari awal manusia tahu perbuatan itu akan mencelakakan dirinya dikemudian hari. Betapa banyak manusia yang terjerat dalam banyak hal akibat ia tidak memiliki rasa malu dan tidak menanamkan sifat sabar.

Islam membahas kesabaran dalam banyak ayat di dalam Alquran dengan berbagai narasi, momen, dan pengertian. Bersabarlah dengan sabar yang baik. Artinya, sifat sabar yang dibangun tidak menyusahkan banyak orang, dengan memendamkam masalah yang dihadapi olehnya sendiri. Artinya, pemilik sabar yang tidak mengumbar keluhan kepada orang lain, atau tidak menceritakan persoalan yang dihadapi pada orang lain. Jangankan diketahui oleh orang lain, dirinya saja tidak menyadari jika ia sedang bersabar atas apa yang menimpa dirinya.

Sabar secara harfiah bermakna daya tahan, pertahanan diri, ketekunan, kehati-hatian, kepasrahan, mengendalikan masalah, mengontrol emosi diri, menahan keinginan, menyadarkan diri, dan berbagai sifat positif lainnya. Sifat sabar ini bukan hanya diperintahkan pada manusia, sebelum manusia diperintahkan untuk bersabar Tuhan sendiri memperkenalkan diri-Nya dengan sifat sabar. Tentunya, kesabaran Tuhan pengertiannya tidak sama dengan sabar yang diperintahkan pada manusia.  namun demikian, Allah Swt menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa Tuhan bersama orang-orang yang sabar.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Q. S. Al-Baqarah/002: 153.

Begitu juga dengan rasa syukur, rasa ini dapat dimiliki oleh manusia dan dapat juga dimiliki oleh makhluk yang yang lain. Seekor anjing tidak akan mengambil sesuatu di luar kebutuhannya. Ini adalah rasa syukur yang ditanamkan pada anjing secara alamiah. Bukti syukurnya anjing, anjing hanya memakan sesuatu sesuai kebutuhannya saja tampa menumpuk-numpuknya. Tidak ada tempat menyimpan makanan bagi anjing. Jika manusia yang berakal diperintahkan untuk bersyukur itu hal yang wajar, tetapi seekor anjing tidak memiliki akal namun ia pandai bersyukur. Jika manusia mengandalkan dirinya sebagai hamba yang salih dengan rasa syukur, bukankah seekor anjing juga memiliki sifat itu.

Dengan demikian, malu, sabar, dan syukur adalah akhlak yang rendah, sebab jangankan manusia yang telah diberikan akal dan diturunkan petunjuk Alquran, maklukh yang tak berakal pun tahu bagaimana mempraktekkannya. Lalu bagaimana menyikapinya, manusia yang telah diberikan akal dan petunjuk tidak perlu lagi mengandalkan rasa malu, sabar,dan bersyukur, melainkan ia mendedikasikan dirinya semata sebagai hamba yang ingin memperoleh ridha atas keputusan-keputusan Tuhan yang menimpa dirinya.

Malu bagi manusia dibentuk karena karena faktor keturunan, orang tua yang memiliki sifat malu akan menurunkan sifat tersebut pada anaknya. Sementara orang alim menurunkan sifat malu berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Orang alim atau ulama tidak hanya memikul sifat malu di dunia, bahkan ulama akan membawa sifat malu sampai ke akhirat.

Diceritakan dalam suatu riwayat, di akhirat ada empat golongan yang berebut masuk syurga; di antaranya orang yang mati syahid, haji yang mabrur, orang kaya dermawan, dan orang alim. Mereka saling ingin mendahului masuk syurga hingga datanglah malaikat Jibril menghampiri, lalu menyodorkan pertanyaan-pertanyaaan. Pertanyaan ini seperti sebuah persidangan yang sedang mempersoalkan kenapa empat golongan saling berebut ingin masuk syurga terlebih dahulu tanpa hisap.

Orang yang pertama ditanya adalah yang mati syahid; kenapa engkau merasa berhak masuk syurga terlebih dahulu. Ia pun menjawab saya telah berjuang di medan perang dengan mengharap ridha Allah dan syahid. Malaikat bertanya, dari mana engkau tahu informasi itu, ia pun menjawab dari orang alim yang menyampaikan ilmunya. Kemudian malaikat menimpali, tidakkah engkau merasa malu dengan orang alim itu, sehingga engkau merasa lebih berhak masuk syurga lebih dahulu darinya, tidakkah engkau merasa durhaka dengan gurumu.

Lalu malaikat melanjutkan pertanyaan kepada yang melaksanakan haji mabrur; kenapa engkau ngotot ingin masuk syurga lebih dulu. Ia pun menjawab, saya telah melaksanakan haji mabrur dengan mengharap ridha Allah. Kemudian Jibril bertanya, dari mana engkau tahu informasi yang demikian, ia pun menjawab dari seorang yang alim itu. Kembali malaikat menimpalinya, tidakkah engkau merasa malu pada orang alim itu, tidakkah engkau merasa durhaka pada gurumu, hingga engkau ngotot masuk syurga terlebih dahulu darinya.

Malaikat melanjutkan pertanyaan pada orang berikutnya sang dermawan; kenapa engkau ngotot ingin masuk syurga terlebih dahulu. Ia pun menjawab, saya ini telah berlaku dermawan pada banyak orang di dunia, setiap harta yang saya miliki saya serahkan pada orang lain yang membutuhkannya, dan membantu kegiatan-kegiatan umat dari kegiatan ekonomi sampai kegiatan seremoni. Malaikat kembali bertanya, dari mana engkau tahu hal yang demikian. Ia pun menjawab, dari orang alim itu. Lagi-lagi malaikat menimpalinya, tidakkah engkau merasa malu pada guru mu, tidakkah engkau merasa durhaka pada nya, hingga engkau meminta terlebih dahulu masuk syurga dari guru yang mengajarkan ilmu pada mu.

Sampailah pada orang keempat; malaikat tidak lagi bertanya dan langsung mempersilakan orang alim masuk syurga terlebih dahulu. Namun, orang alim ini menolak dengan rasa malu yang mendalam. Saya tidak pantas masuk syurga terlebih dahulu ya Jibril. Di sini, terjadi dialog mengharukan antara orang  alim dengan malaikat Jibril.

Jibril mempersoalkan keputusan orang alim yang menolak masuk syurga terlebih dahulu. Anda sudah dipersilakan dan berhak masuk syurga terelebih dahulu tapi menolaknya. Apa yang membuat anda menolak masuk terlebih dahulu. Orang alim ini pun menjawab, saya malu ya Jibril, malu sama siapa tanya Jibril, saya malu dengan orang kaya itu, orang kaya yang telah memberikan hartanya hingga saya dapat menimba ilmu di mana pun dan dalam momen apa pun.

Oleh karena adanya gerakan dan modalnya orang kaya itulah saya bisa jadi alim, dan menyampaikan ilmu kepada yang lain. Orang kaya itu telah memfasilitasi pendidikan di dunia, dan juga menfasilitasi kegiatan dakwah, sehingga ilmu Tuhan tersebar ke seluruh permukaan bumiSaya merasa malu ya Jibril, malu karena tanpa peran orang kaya yang dermawan ilmu tidak datang kepadaku, dan tidak tersebar pada yang lainnya.

Ternyata, orang kaya tidak hanya membiayai pendidikan, tetapi juga membiayai proses dakwah yang berlangsung dalam banyak momen. Ketika belajar kita dapat modal dari orang kaya, lalu saat mengajar masih juga dibiayai oleh orang kaya. Betapa besar peran orang kaya dalam proses penyampaian ilmu.

Catatan yang yang dapat diambil dari cerita di atas adalah betapa penting menanamkan rasa malu dalam diri manusia. Keimanan seseorang diukur dari rasa malu yang ada dalam dirinya. Jika saja rasa malunya hilang, maka hilanglah sebagian iman dari dalam dirinya. Orang alim adalah orang yang memiliki rasa malu yang kuat. Jika ada orang alim tidak memiliki rasa malu, maka ia tidak pantas menyandang kealimannya.

Malunya orang alim bukan berarti ia tidak memiliki kesalahan, justru ia merasa banyak salah, maka ia selalu berdoa pada Tuhan agar menutupi aibnya di dunia. Menutup aib di dunia mau pun aib di akhirat. Rasa malu yang tertanam dalam diri orang alim tidak hanya di dunia tetapi sampai di akhirat, hingga dipersilakan masuk syurga terlebih dahulu pun ia merasa malu dengan orang kaya yang dermawan lagi pemurah. Dan orang alim itu pun mempersilahkan orang kaya yang dermawan lagi pemurah masuk ke dalam syurga lebih dahulu.

Orang alim akan membawa sifat malu dalam dirinya dari dunia sampai akhirat. Artinya, orang alim selalu meminta kepada Tuhan agar ditutupi aibnya atas kesalahan-kesalahan di dunia. Seyogianya, manusia secara umum juga selalu meminta kepada Tuhan agar ditutupi aibnya, sebab jika Tuhan tidak menutupi aib manusia maka hilanglah rasa malu dalam diri di dunia dan di akhirat atas kesalahan dan kekeliruan yang dilakukannya.

Malulah seperti malunya orang alim yang mengemban malu di dunia juga membawa sifat malu di akhirat. Jika masuk syurga lebih dulu saja orang alim merasa malu, tentunya ia lebih malu lagi di dunia dalam mencari dan mengumpulkan sesuatu yang membawa kenikmatan hidup di dunia. Orang alim adalah orang yang tertanam sifat malu dalam dirinya, sehingga ia tidak tergesa-gesa dan tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan perangkat dunia. Jika tidak tahu bagaimana meniru malunya ulama maka malulah seperti muridnya ulama, jika itu juga tidak bisa maka malulah diri saat engkau mengambil hak-hak orang lain.

Manusia adalah makhluk yang sangat mudah melepas rasa malu, dikarenakan iman yang selalu naik turun. Barometer kealiman seseorang sangat ditentukan sebesar apa ia mampu memahami rasa malu dalam dirinya. Kalo masuk syurga terlebih  dahulu ia merasa malu, maka dapat dipastikan ia sangat malu ketika hidup di dunia dalam momen apa pun yang dihadapinya, terutama sekali dalam mengahadapi kepentingan kontestasi politik para elit dalam merebut posisi, kedudukan, dan kekuasaan.

Rasa malu telah menjadikan seseorang menyelamatkan sebagian agamanya, rasa malu telah menyelamatkan manusia dari berbuat dosa, rasa malu telah menjadikan manusia menundukkan wajahnya, rasa malu telah menurunkan jiwa pemiliknya dari keangkuhan dan kesombongan, rasa malu manusia menahan keinginannya, rasa malu telah menghindari manusia dari memanipulasi banyak hal, rasa malu telah mendidik manusia untuk bersabar, rasa malu telah mambangun sifat syukur dalam dirinya, dan rasa malu telah menghindari manusia dari sifat tamak dan rakus. Dengan sifat malulah manusia membangun keimanan. Dengan sifat malu pula generasi berhenti bertanya how do I look (bagaimana anda melihat saya). Walaupun  demikian, sifat malu adalah serendah-rendah akhlak, sebab malu juga dimiliki oleh makhluk yang lain.

Jakarta, 31 Mei 2023






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama