A. Hasjmy: Cendikiawan Montasik Pendobrak Peradaban

Sempat redup, penelitian terkait dengan pemikiran dan kiprah A. Hasjmy dalam kajian ilmiah, dengan hadirnya buku ini menjadi upaya membangkitkan kembali semangat literasi bagi Aceh. 

A. Hasjmy adalah tokoh nasional yang berasal dari kecamatan Montasik Aceh Besar yang lahir dikala Aceh bergejolak konflik perlawanan terhadap penjajahan asing. Kecamatan yang telah banyak menghasilkan intelektual dan pejabat di negeri ini, baik pejabat di tingkat kabupaten, propinsi, dan nasional.

Aceh Besar dengan kiprah para tokohnya telah menjadi aikon pendidikan bagi Aceh. Berdirinya dua lembaga pendidikan ternama Universitas Islam Negeri (UIN) ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala menjadi bukti bahwa dari sinilah cahaya ilmu pendidikan modern diteruskan dan dikembangkan ke seluruh penjuru negeri.

Aceh Rayek merupakan negeri peninggalan para raja juga tunduk atas titah ulama, Abu Hasan Krung Kale adalah sosok ulama terkemuka yang memancarkan nur keilmuan kepada penduduk bumi. Momen memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw yang sejak empat belas abad yang lalu telah membangun peradaban umat melalui konsep negara Madinah.

Sebagai generasi intelektual Aceh memiliki buku ini telah menjadi bagian yang menggelorakan moderasi politik Islam dari Aceh untuk dunia. Aceh memiliki sejarah perpolitikan yang unik, pasang surut politik tidak menjadikan masyarakatnya lupa akan jati dirinya. Negeri peninggalan sejarah kepemimpinan yang dulu sempat menjadi kerajaan yang disegani dunia, masuk empat besar kerajaan yang mengemuka.

Berbagai kalangan mesti memancarkan cahaya moderat dari negeri paling ujung pulau Sumatra, kehaidran buku ini tentu layak dijadikan referensi kajian untuk menyadarkan publik betapa pentingnya Aceh bagi dunia terkait dengan pemikiran politik Islam, yang mana sejak dulu telah membangun pikiran-pikiran moderat (ber-wasatiah).

Tuhan telah menurunkan agama kepada manusia untuk menempuh jalan iman. Agama mencakup segala wilayah, bagi siapa yang menghubungkan segala pengetahuan, ideologi, posisi, tindakan, dan segala macam kepada Tuhan, yang demikian sedang menempuh jalan iman. Jalan yang membangun kewalian lintas bidang.

Berdasarkan pengertiannya iman merupakan kepercayaan yang terhubung dengan Tuhan. Adapun percaya pada hal yang tidak dterhubung dengan iman, sebab ia tidak terhubung hati dengan Tuhan, seperti percaya pada satu informasi terkait berita tertentu, berita tersebut hanya sekedar informasi dan tidak disebut dengan iman. Dan percaya pada informasi tersebut tidaklah mengganggu iman seseorang.

Salah satu yang dibicarakan dalam Islam adalah terkait dengan politik, dan ini disebut dengan politik Islam. Politik dalam Islam hakikatnya adalah menyampaikan kesejahteraan untuk manusia. Bukan menghalalkan segala macam cara, lalu membungkus kekuasaan dengan pencitraan yang baik, namun pada prakteknya melukai.

Membaca sesuatu yang yang menyampaikan penegetahuan tentang politik berati  menghubung jiwa menuju tatanan ketuhanan. Mengingat politik merupakan instrumen penting dalam kehidupan manusia sebagia makhluk sosial.

Bukankah bicara politik merupakan bicara kehidupan, bukankah kehidupan itu mencakup segalanya, melalui politik keadilan ditegakkan, melalui politik kekuasaan didistribusikan, melalui politik ekonomi dimakmurkan, melalui politik sosial budaya dikembangkan, melalui politik persamaan derajat manusia dihidupkan, melalui politik raga manusia dijaga, melalui politik keamanan dapat ditegakkan, melalui politik persatuan umat terbentuk, melalui politik pemerataan disalurkan, dan melalui politik segala yang menyangkut dengan tatanan dunia kebijakannya dengan mudah dapat laksanakan.

Politik dalam Islam tidaklah kaku, ia hadir dalam masa dan kondisi yang berubah-rubah. Sebab Nabi Muhammad saw tidak meninggalkan patron yang jelas dalam hal politik, maka dengan itu kita berpatokan pada sabda Nabi.

Antum a'lamu bi umri dunyakum artinya, kamu lebih tahu tentang duniamu. Dalam pengertian, ikuti alurnya dalam berbagai hal yang terkait dengan tata kelola dunia, bek mesakang bak dong, mekilah bak duk.

Dengan adanya buku ini, kita berharap terbentuknya cahaya ilmu dalam pikiran umat, dan cahaya iman dalam dada setiap hamba. Lalu kemudian kita akan sampai pada proses politik yang baik, yang mendatangkan kesejahteraan bagi umat.

Jakarta, 20 Desember 2021....



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama

MEMBANGUN PERSAHABATAN ADALAH SUNNAH TERBAIK