Asy-Syakur: Sifat Tuhan Dapat Dimiliki Manusia

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras. Q. S. Ibarahim/014: 7.

Syukur adalah sifat Tuhan yang dapat dipraktekkan oleh manusia. Nikmat sudah dibagi-bagi, janganlah engkau memprotes apalagi menggugatnya. Tuhan Maha memberi nikmat, nikmat Tuhan atas makhluk tidak ada batasnya. Manusia yang suka membatasi diri dalam melihat bentuk nikmat, bahkan suka iri atas nikmat-nikmat yang tersebar di bumi, lebih buruk lagi manusia suka menggugat nikmat; menggugat nikmat atas diri sendiri dan menggugat nikmat atas orang lain. 

Menggugat nikmat atas diri sendiri dengan tidak pernah merasa puas atas apa yang diberikan Tuhan pada dirinya, satu nikmat belum selesai dinikmati nikmat yang lain sudah dikejar mati-matian. Akhirnya, ia tidak pernah merasa nikmat atas hidupnya, jiwanya selalu dihantui dengan sesuatu yang belum diperolehnya. Sementara menggugat nikmat atas orang lain, selalu melihat buruk kehidupan orang lain menurut perkiraan dirinya, tanpa melihat adanya rasa syukur yang mendalam pada diri orang lain dalam menjalani hidipnya. Gaya hidup orang lain diukur berdasarkan gaya hidup dirinya, jika apa yang dimiliki orang lain harus sama dengan apa yang dimiliki olehnya baru ia menganggap selevel dengannya. Padahal level hidup di mata Tuhan tidak  dilihat berdasarkan kemampuan materi, melainkan dilihat berdasarkan kemampuan seseorang membangun rasa syukur dalam hidupnya.

Manusia suka terbalik-balik melihat potensi yang harus dibangun. Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk bersyukur atas nikmat, bukan memeinthakan agar berlaku pamer atas apa yang dimiliki, apalagi menggugat apa yang tidak dimiliki orang lain. Menerima nikmat karena Tuhan mendudukkan sifat syukur dalam dirinya, kufur akan nikmat sebab Tuhan mencabut rasa syukur dalam diri seseorang. Ketika seseorang tidak tahu bagaimana bersyukur maka terlepaslah sifat ketuhanan dalam dirinya.

Rasa syukur dapat dimiliki oleh siapa pun yang mau menerimanya dengan baik. Bentuk syukur ibarat hidtungan matematika yang selalu mencari angka terendah, atau mendekati angka yang tidak bisa dibagi lagi, atau mendekati angka nol. Artinya, rasa syukur adalah rasa yang tidak dapat dibagi dengan apa pun yang ada di dunia ini kecuali hatinya sudah dibulatkan untuk Tuhan. Di dalam hatinya hanya ada nikmat Tuhan dengan melihat potensi terendah sampai pada ingatan masih diberi umur dan kesehatan saja ia sangat bersyukur atas semua itu, tidak perlu harus ada ini dan itu, yang mana kadang-kadang diperoleh dengan cara-cara yang tidak baik.

Rasa syukur boleh dimiliki oleh siapa pun, sebab syukur tidak dikuasai oleh manusia, syukur sepenuhnya dikuasai oleh Tuhan. Dan syukur itu sendiri juga sifat Tuhan yang terletak pada urutan ke 35 dalam asmaul husna, "asy-syakur", Yang Maha membalas Budi (menghargai). Tuhan bersyukur dan akan membalas kebaikan dan mengapresiasi jika ada hambanya yang tersesat kembali pada jalan yang benar. Syukur sepenuhnya milik Tuhan yang diberikan sepenuhnya juga pada hamba yang hatinya benar-benar dekat dengan Tuhan; baik dalam ibadah kepada-Nya (mahdhah) maupun ibadah yang perbuatannya disandarkan pada makhluk namun niatnya untuk Tuhan (muamalah).

Dakwah termudah adalah mengajak orang-orang bersyukur, dalam pengertian menerima dengan baik segala ketentuan yang diberikan Tuhan atas dirinya. Tetapi, ajakan ini sering gagal dalam prakteknya. Mengajak untuk bersyukur suatu untuk mengingatkan. Namun, perintah ini sering gagal dalam prakteknya bagi manusia. Mengingatkan biasanya ditujukan untuk orang lain, bukan untuk dirinya. Sebab, ia merasa telah bersyukur atas nikmat yang sudah didapat. Padahal, syukur itu diperintahkan Tuhan untuk seluruh manusia dalam momen apa pun, bukan perintah manusia kepada manusia, kecuali sekedar mengingatkan, itupun ia telah mempraktekkannya terlebih dahulu. Praktek rasa syukur tidak butuh modal yang banyak, cukup meningkatkan keimanan saja.

Manusia suka memerintahkan sepihak agar orang lain bersyukur atas apa yang menimpanya, bukan mempraktekkan bentuk syukur sesuai dengan kemampuan dirinya. Tuhan memberikan nikmat yang sama dalam diri setiap hamba, namun kemampuannya berbeda. Manusia suka tidak mengerti bagaimana mempraktekkan rasa syukur yang berbeda kemampuan atas nikmat yang Tuhan berikan. Rasa syukur juga ditanamkan pada hewan melalui instingnya, praktek syukur pada hewan diwujudkan saat hewan merasa cukup untuk menopang hidup saat lapar. Dan hewan tidak pernah menumpuk-numpuk makanan. Sangat berbeda dengan manusia yang rakus tidak membatasi diri, bukan hanya untuk dimakan tetapi juga berfikir untuk disimpan tujuh turunan, terkadang merampas hak-hak orang lain. Ini juga berlaku dalam kekuasaan, menginginkan banyak tempat agar dapat didudukinya.

Bentuk syukur orang kaya dengan mengorbankan hartanya, sementara bentuk syukur orang miskin bersabar atas ketidakpunyaannya dengan tidak meminta-minta. Bentuk syukur penguasa dengan memberi pelayanan yang baik kepada masyarakatnya, bentuk syukur rakyat menghormati pemimpinnya. Jika pemimpin telah bersyukur maka nikmat yang diperoleh adalah rakyat menghormatinya.

Syukur adalah praktek keseimbangan dalam menindaklanjuti posisi nikmat yang diberikan Tuhan pada masing-masing hamba. Bukan berlaku sebaliknya, praktek adu hebat yang ditonjolkan. Keseimbangan dalam prakteknya adalah agar setiap orang tahu posisi dan perannya. Realitas yang dihadapi oleh manusia adalah saling menonjolkan nikmat yang diperoleh bukan menonjolkan rasa syukur. 

Menonjolkan nikmat lebih menjadikan pelakunya sombong dan angkuh dalam menjalani hidup dan merendahkan pihak-pihak yang dianggap tidak selevel dengannya dalam perolehan nikmat dunia, sementara menonjolkan rasa syukur dapat merendahkan diri dihadapan Tuhan, serta menghormati sesama makhluk. Nikmat sudah dibagi-bagi, janganlah diprotes apalagi menggugatnya. Tuhan Maha memberi nikmat, nikmat Tuhan atas makhluk tidak ada batasnya. Manusia yang suka membatasi diri dalam melihat bentuk nikmat, bahkan suka iri atas nikmat-nikmat yang tersebar di bumi, lebih buruk lagi manusia suka menggugat nikmat; menggugat nikmat atas diri sendiri dan menggugat nikmat atas orang lain, karena kelebihandan kekurangan nikmat yang didapati setiap orang.

Menggugat nikmat atas diri sendiri dengan tidak pernah merasa puas atas apa yang diberikan Tuhan pada dirinya, satu nikmat belum selesai dinikmati nikmat yang lain sudah dikejar mati-matian. Akhirnya, ia tidak pernah merasa nikmat atas hidup ini, jiwanya selalu dihantui dengan sesuatu yang belum diperolehnya. Sementara menggugat nikmat atas orang lain selalu melihat buruk/kekurangan atas kehidupan orang lain menurut perkiraannya dirinya, tanpa melihat adanya rasa syukur yang mendalam pada diri orang lain dalam menjalani hidupnya. Gaya hidup orang lain diukur berdasarkan gaya hidup dirinya, jika apa yang dimiliki orang lain sama dengan apa yang dimiliki olehnya maka ia akan menganggapnya sepadan. Padahal level hidup yang dilihat berdasarkan kemampuan materi tidak dapat disamakan dengan level hidup berdasarkan membangun rasa syukur.

Rasa syukur dapat dimiliki oleh siapa pun yang mau menerimanya dengan baik. Bentuk syukur seperti matematika yang selalu mencari angka terendah, atau mendekati angka yang tidak bisa dibagi lagi, atau mendekati nol. Artinya, rasa syukur adalah rasa yang tidak dapat dibagi dengan apa pun yang ada di dunia ini kecuali hatinya sudah dibulatkan untuk Tuhan. Di dalam hatinya hanya ada nikmat Tuhan dengan melihat potensi terendah sampai pada ingatan masih diberi umur dan kesehatan saja ia sangat bersyukur, tidak perlu harus ada ini dan itu, yang mana kadang-kadang diperoleh dengan cara-cara yang tidak baik.

Rasa syukur boleh dimiliki oleh siapa pun, sebab syukur tidak dikuasai oleh manusia, syukur sepenuhnya dikuasai oleh Tuhan. Dan syukur itu sendiri juga sifat Tuhan yang terletak pada urutan ke-35 dalam asmaul husna, "asy-syakur", Yang Maha Pembalas Budi (menghargai). Tuhan bersyukur dan akan membalas kebaikan dan mengapresiasi jika ada hambanya yang tersesat kembali pada jalan yang benar. Syukur sepenuhnya milik Tuhan yang diberikan sepenuhnya juga pada hamba yang hatinya benar-benar dekat dengan Tuhan; baik dalam ibadah kepada-Nya (mahdhah) maupun ibadah yang perbuatannya disandarkan pada makhluk namun niatnya untuk Tuhan (muamalah).

Dakwah termudah adalah mengajak orang-orang bersyukur, dalam pengertian menerima dengan baik segala ketentuan yang diberikan Tuhan atas dirinya. Tetapi, ajakan ini sering gagal dalam prakteknya. Mengajak untuk bersyukur agar manusia salinga mengingatkan. Namun, perintah ini sering gagal dalam prakteknya. Mengingatkan biasanya ditujukan untuk orang lain, bukan untuk dirinya. Sebab, ia merasa telah bersyukur atas nikmat yang sudah didapat. Padahal, syukur itu diperintahkan Tuhan untuk seluruh manusia dalam momen apa pun, bukan perintah manusia kepada manusia, kecuali sekedar mengingatkan, itupun ia telah mempraktekkannya terlebih dahulu.

Manusia suka memerintahkan sepihak agar orang lain bersyukur atas apa yang menimpanya, bukan mempraktekkan bentuk syukur sesuai dengan kemampuan dirinya. Tuhan menanamkan rasa syukur yang sama dalam diri setiap hamba, namun kemampuannya berbeda. Manusia suka tidak mengerti bagaimana mempraktekkan rasa syukur yang berbeda kemampuan atas nikmat yang Tuhan berikan. Bentuk syukur orang kaya dengan mengorbankan hartanya, sementara  bentuk syukur orang miskin bersabar ata ketidakmampuannya dengan tidak meminta-minta. Bentuk syukur penguasa dengan memberi pelayanan yang baik kepada masyarakatnya, bentuk syukur rakyat menghormati pemimpinnya.

Syukur adalah praktek keseimbangan dalam menindaklanjuti posisi nikmat yang diberikan Tuhan pada masing-masing hambanya. Bukan berlaku sebaliknya, menciptakan ketidak seimbangan antar sesama. Rasa syukur dapat dimiliki oleh siapa pun; baik orang kaya, pemimpin, rakyat biasa, intelektual, kaum awam, cendekiawan, pejabat, pegawai, petani, pelaut, tukang, buruh, dan lain sebagainya. Ketika manusia bersyukur Tuhan akan menambah nikmat atasnya, ketika manusia kufur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan Tuhan akan mengazabnya. Utamakan rasa syukur ketika bertemu dengan siapa pun, agar keseimbangan terwujud dalam kehidupan. Tunjukkan sifat syukur agar tidak ada yang merasa direndahkan. Jika masing-masing menujukkan rasa syukur maka relasi harmonis akan terwujud dalam momen apa pun.

Jakarta, 5 Januari 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama