Muchsin ST: Arsitektur Mendesain Pesona Wisata Tuan Tapa

 

Tapaktuan penuh dengan legenda. Kota yang terletak sepanjang pantai juga diikat pegunungan. Sepanjang lerengnya menampakkan keindahan alam yang luar biasa, bak putro eh (bagaikan putri tidur), liukan lerengnya menampakkan pesona asri alam wisata, ditambah lagi dari perutnya mengairi air nan sejuk.

Siapa saja yang pernah memanjakan raganya akan menyisakan rindu ingin kembali. Air dingin, bukan hanya sebagai nama tempat tetapi nyata dapat dirasakan, sejuknya alam Tapaktuan menandakan Tuhan tidak pernah tidur menampakkan kebesarannya di bumi.   

Pegunungan satu sisi menampakkan keindahannya, pada sisi yang lain menjadi sumber pendapatan bagi masyarakatnya. Negeri penghasil pala ini pernah menghebohkan sentro Nusantara, sehingga dari sini lahirnya kuliner khas kue pala. Tidak hanya itu, hutan lereng pegunungan juga menghasilkan tanaman-tanaman yang lain menjadi sumber pendapatan.

Gunung Leuser yang dinobatkan sebagai paru-paru dunia menjadi  bagian yang lain dari kawasan ini. Dari keberadaan gunung Leuser menandakan pesona daerah penghasil pala ini bukan hanya dapat menarik perhatian wisatawan lokal, nasional, bahkan juga dapat menarik perhatian dunia luar. ini menjadi bukti nyata, kawasan ini bukan hanya berpotensi indah melainkan juga menjadi sumber penyelamatan paru dunia.

Alam yang yang kini telah dipenuhi polusi yang disebabkan dari kepongahan ekplotasi alam yang berlebihan mmenyiskan ancaman kesehatan bagi penduduknya. Kaum konsumeris telah meniadakan fungsi akal dalam mengelola dirinya, sehingga ala sekitar tidak lagi bersahabat. Polusi udara akibat alam sudah tidak saling menjaga.

Ekploitasi alam secara berlebihan untuk alasan kebutuhan hidup menjadi ancaman ekologi bagi makhluk manapun. Dan ini harus dihentikan, caranya mengalihkan pemanfaatan potensi alam dari ekploitasi menjadi investasi. 

Gunung Leuser pugarannya menjadi bukti bahwa alam ini harus diselamatkan. Dengan itulah, saatnya masyarakat Aceh Selatan berpikir membuka cakrawala dunia, bahwa untuk memanfaatkan Sumber Daya Alam yang ada tidak harus dengan ekploitasi isinya melainkan juga dengan memunculkan pesona wisatanya.

Gunung yang meliuk panjang mengitari kota ini menandakan pesonanya harus dijaga. Gunung yang terlihat seperti memiliki mata menanatap sepanjang pantainya, betapa indah alam ini. Keindahan ini tidak akan terjaga dan dirawat dengan baik jika tidak adanya kaum-kaum penyelamat yang memerintah bumi.

Tuan Tapa dalam cerita legenda telah menyelamatka seorang putri yang dikuasai oleh dua ekor naga yang melanggar sumpah pada sang tuan. Sepasang naga berjenis kelamin jantan dan betina singgah di negeri ini mencari tempat tinggal, diizinkan oleh Tuan Tapa dengan syarat tidak boleh hadir sebagai perusuh, namun dibolehkan untuk tinggal dan makan apa saja untuk sekedar menyambung hidup.   

Dalam sejarahnya, sepasang naga ini melanggar sumpahnya, dan inilah yang membuat sang tuan marah, sehingga terjadi pertarungan dahsyat dua ekor naga dengan seorang petapa yang disinyalir sebagai seorang ulama. Dan sang tuan pun berhasil memenangi pertarungan ini, hingga sang putri dapat diselamatkan. Pada akhirnya, dua ekor naga kalah. Cerita ini sangatlah melegenda.

Peristiwa tersebut dapat dijadikan sebagai ibrah, ada misi penyelamatan yang dilakukan oleh Tuan Tapa terhadap populasi manusia di negeri ini. Manusia harus dikembalikan pada fitrahnya, naga bukanlah habitat dari kehidupan manusia. Apalagi keberadaannya telah mengganggu.

Sebuah ilustrasi, gangguan kehidupan oleh naga dalam cerita tersebut merupakan bentuk keburukan yang dihadapi oleh masyarakat saat itu. Yang namanya keburukan akan terus berlangsung sampai kapanpun. Bukan ancaman dari keburukan itu yang perlu dirisaukan, melainkan ketika tidak adalagi yang melakukan perubahan dan penyelamatan, itulah yang patut dirisaukan.

Kini, Tapaktuan tetaplah menjadi Tapaktuan. Peninggalan dari jejak sang tuan dapat dilihat dalam bentuk miniatur “tapak kaki” berukuran besar yang terletak di pinggir pantai. Dan juga kuburan berukuran panjang terletak di tengah-tengah kota. Kuburan peninggalan sejarah ini diziarahi oleh masyarakat dari berbagai daerah, baik Aceh maupun daerah yang lainnya di Nusantara.    

Legenda sang Tuan telah menjadi cerita sejarah, namun kehidupan terus berlanjut dan permusuhan manusia dengan alam di era post-modern berlangsung dalam bentuk peng-ekploitasian alamnya. Kondisi seperti ini tentunya harus dicegah dengan berpikir kreatif. Menjaga alamnya, memanfaatkan potensinya, serta menyatakannya sebagai sumber penyelamatan dunia.

Semua pihak harus bergerak, terutama sekali pemangku kekuasaan, Pemerintah Daerah, dan jajarannya. Gerakan ini mulai menampakkan semangatnya, ketika upaya-upaya menggelorakan kembali Pesona Wisata Tuan Tapa dengan berbagai bentuk kreasi.

Upaya ini dapat dilihat dari gencarkan Kepala Daerah mengkampanyekan Ajang Pesona Wisata kawasan tersebut. Teungku Amran sebagai pemimpin tertinggi (bupati) telah melantik sang desainer alumni Fakultas Teknik Universitas Iskandar Muda  (UNIDA) Muchsin ST, sebagai Kepala Dinas Pariwisata Aceh Selatan.

Muchsin ST, diharapkan dapat berpikir jenius dalam menangkap peluang penyelamatan alam dari peng-ekploitasian menjadi kawasan investasi wisata. Semangat Tuan Tapa dalam menyelamatkan pengaruh ekploitasi manusia yang dilakukan oleh sepasang naga terhadap sang putro mesti ditelurkan melalui pengembangan wisata alam Tuan Tapa.

Memilih alumni Teknik Sipil dalam konteks desain wisata sangatlah tepat, sebab dari proses desainlah kawasan wisata akan menjadi menarik. Dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah, kita butuh pemikir untuk menjalankannya. Di sinilah kehadiran sang desainer Teknik Sipil menjadi menarik . Berpikir menangkap peluang bersama sosok pemuda yang kalem dalam pembawaannya dan lincah (cerdas) dalam menangkap peluang. Output dari daya Khayalnya menandakan dirinya adalah sosok visioner.





Potensi ini tentunya tidak hanya dibebankan pada Kepala Dinas Pariwisata semata. Dalam hal ini, Kepala Daerah juga harus menyokong penuh baik moral maupun morilnya, lebih-lebih terkait dengan anggarannya. Dan peran ini, serta dukungannya juga diharapkan pada pemangku kekuasaan legislatif Propinsi Aceh dan DPR_RI dapil Barsela sesuai potensi masing-masing.

Sektor pariwisata sering tidak mendapatkan perhatian penuh dari Pemerintah Daerah terkait dengan anggarannya, kecuali hanya sekedar even-even tahunan saja, dan tidak dalam bentuk pengelolaannya dari segala bidang yang menyangkut dengan pengembangan wisata seperti manajemen, sistem kerjanya, pelayanan, profesionalitas, promosi, akses, fasilitas, dan lain sebagainya.

Aceh Selatan memiliki banyak potensi dalam pengembangan wisata, dari wisata alamnya, baik darat, gunung, laut, dan juga wisata religi. Adanya Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) yang dipimpin oleh Syaikh Abuya Amran Wali dapat dijadikan sinergisitas wisata religi bagi wisatawan yang datang dari berbagai kawasan. Dari sini dapat digelorakan kembali semangat Pendidikan Darussalam yang didirikan oleh Syaikh Abuya Muda Waly dalam sejarahnya telah melahirkan ulama-ulama terkemuka di bumi Aceh dan daerah lainnya.

Membangun wisata religi ini sesuai dengan semangat islami  masyarakat Aceh dalam bentuk formalitas. Syariat formalitas tertuang dalam hukum normatif, sementara ajang wisata merupakan bentuk ekpresinya dalam karya nyata. Dengan cara seperti itu potensi wisata tidak dilaksanakan dalam kegiatan yang bertentangan dengan norma, baik agama, sosial, dan budaya masyarakat Aceh kususnya dan Nusantara pada umumnya.

Sinerginisitas ini akan melandingkan paradigma baru dalam dunia wisata Aceh, dan alam Tuan Tapa adalah tuan rumahnya. Pelaksanaan wisata religi sangat berpotensi di negeri penghasil pala. Ekspresi keindahan alam sebagai wujud nyata  bahwa Tuhan tidak pernah tidur dengan sifat keindahannya, sehingga nyatalah mata-mata dunia melihatnya di pesona alam wisata Tuan Tapa.   

Akhirnya, penulis mengutip petikan hadis yang lebih kurang pemahamannya “salah satu kewajiban bagi suami adalah mengajak istri dan anaknya untuk menikmati indahnya alam semesta”. Tapaktuan telah menyumbang kawasan dengan keindahan yang luar biasa. Pesona Wisata Barsela ada di kota ini. Tentunya Pemerintah Daerah harus bersinergi untuk memajukan sektor wisata. Dengan begitu, ajaklah keluargamu untuk menunaikan sunnah Nabi menikmati keindahan pesona alamnya.

Jakarta, 12 Juni 2022.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama