'Idul Fitri: Puncak Kebahagiaan Pertemuan Rasa Dengan Tuhan



Disampaikan dalam kutbah 'Idul Fitri
 Senin 1 Syawal 1443 M 
di- Masjid Jami' al-Marwah
Kp. Melayu Barat Teluknaga Tangerang
Dr. KH. Mohammad Mahrussilah, MA
STISNU Tangerang Banten  
Trainer Metode Aktifasi 
Cosmic Intelligence

خطبة الاولى

الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ. الله ُأَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ، لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.

الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِياَفَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّالله ُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االداَّعِيْ إِلىَ الصِّراَطِ المُسْتَقِيْمِ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ.

أَماَّ بَعْدُ فَيَآأَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ مُسْلِمُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Fitri yang berbahagia.

Puasa Ramadhan bagi umat Nabi Muhammad SAW mulai diberlakukan setelah perintah pengalihan arah Kiblat dari Bait al-Maqdis di Palestina menuju Ka’bah di Mekah al-Mukarramah pada tanggal 10 Sya'ban, tepatnya dua tahun setelah hijrah. Karenanya puasa yang baru saja kita laksanakan adalah ibadah puasa yang ke 1.441 kali, jika Ramadhan memasuki tahun 1443 H.

Terkait disyari'atkannya puasa adalah firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Q. S. Al-Baqarah/002: 183.

Dalam ayat ini terdapat 3 (tiga) kata kunci, yaitu iman, puasa, dan takwa. Ketiga hal tersebut memberi isyarat tentang sebuah konsep meraih kesempurnaan dalam laku hidup kita di dunia menuju akhirat.

Pertama: Iman

Kata “al-Iman” memiliki tunggal cetakan dengan kata al-Aman “الامان” dan kata al-Amanah “الامانة”.

Orang yang beriman akan senantiasa aman dalam melaksanakan amanat kerahmatan semesta meskipun banyak goncangan dalam mengarungi perjalanan hidupnya. Menjaga amanah adalah bagian dari iman, sebab dasar keimanan merupakan upaya untuk menegakkan amanah kerahmatan. Karenanya, manusia diberikan kepercayaan sebagai makhluk terbaik untuk mengelola semesta berdasarkan cinta kasih sesuai dengan skil, tugas dan fungsinya. 

Kedua: Puasa “as-Shiyam”

Perintah berpuasa dalam surat al-Baqarah 183 tidak menggunakan bahasa langsung, seperti kata “فرض” atau “وجب”, tetapi mengunakan perintah secara tidak langsung, yaitu kalimat “كتب عليكم الصيام”.

Hal ini menunjukan bahwa perintah tersebut dibangun atas dasar pendekatan psikologis umat manusia yang disisipi karakter hewani yang bersifat rakus dan buas, seperti makan, minum, hasrat biologis dan lain sebagainya. Karenanya, hakikat puasa adalah tirakat laku hidup bagi pemegang amanat kerahmatan semesta agar terhindar dari sifat-sifat hewani yang merusak.

Secara bahasa “Shiyam” memiliki arti “menahan.” Apapun yang sifatnya menahan disebut dengan puasa. Syaikh al-Saukani dalam kitab Fath al-Qadir menjelaskan bahwa puasa adalah “al-qiyam bila amal”, yaitu ibadah yang tidak membutuhkan gerakan simbolis tertentu, tidak seperti shalat yang ada gerakanya, atau pun haji yang membutuhkan ritual-ritual tertentu. Puasa adalah ibadah yang diwajibkan sebagai bentuk pelatihan dalam pendidikan karakter umat manusia menuju kesempurnaan.

Lebih detail lagi, Syaikh Muhammad as-Syirozi, dalam kitabnya Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil Tafsir al-Baidhowi, menjelaskan:

 اَلْاِمْسَاكُ عَمَّا تَنَزَّعَ اِلَيْهِ النَّفْسُ، وهو اَلصَّبْرُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ كَسْرِ الشَّهْوَانِ وَتَصْفِيَّةِ النَّفْسِ

Artinya: puasa adalah penjagaan diri dari hawa nafsu, yaitu kesabaran dalam menjaga hal-hal yang membatalkan dalam rangka menetralkan syahwat, dan mensucikan jiwa diri.

Ketiga: Takwa.

Makna takwa adalah menjalankan aturan kesemestaan sesuai dengan perintah-Nya dan menjauhkan larangan kesemestaan yang sudah menjadi keputusan-Nya. Orang yang  beriman kemudian ia berpuasa mentirakati naluri syahwat dan emosionalnya akan menjadikannya pengemban amatan kerahmatan semesta yang bertakwa.

Dengan kata lain bahwa ketakwaan dapat diperoleh dengan latihan menahan gejolak perasaan, menetralkan gejolak raga dari kepuasan, keakuan, kehadiran dan perasaan. Inilah  hakikat dari syariat puasa. Jika kita telah benar-benar menghayati makna berpuasa dalam Al Baqarah ayat 183, maka kita akan merasakan apa yang disabdakan Nabi Muhammad Saw:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِنْدَ الْاِفْطَارِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Artinya: “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya. (Muttafaq ‘Alaih)

Orang yang benar-benar berpuasa akan mendapatkan kedamaian dalam pikir dan keselarasan medan naluri. Inilah yang dimaksud dengan wadah kesucian ruhani, sehingga jiwanya menjadi tenang dan membahana, sabar dan mempesona, serta takwa sesuai dengan aturan semesta. Pada posisi inilah puncak kebahagiaan pertemuan rasa kehadiran Tuhan.

Jika saja tiga kata kunci ini diresapi dan direnungi dengan baik oleh orang yang mengemban amanat keimanan dalam bidang petanian, maka ia akan menjadi petani yang merahmati semesta di bidang itu. Sang petani akan menerima amanat tersebut dengan ketakwaan penuh sebagai laku hidupnya, ia akan percaya diri dalam bidangnya tanpa kegamangan, ia akan melakukan apapun di bidang petanian dengan cinta, harmoni dan kebaikan tanpa pamrih, ia akan menghadirkan tanaman, tanah dan hal lainnya sebagai sahabat semestanya, dan ia akan selalu berterimakasih kepada mereka karena mereka telah banyak membantu dalam menjalankan laku hidup.

Tentunya sang petani akan selalu menghadirkan Tuhan dalam lintas tugasnya. Inilah puncak kebahagiaan dalam pertemuan rasa dengan dengan tuhannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

خطبة الثانية

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ "إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا".

امين يا رب العالمين

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النار. 

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلْمُنْكَرِ

Editor
Mukhtar Amfat (penulis buku Khayalan Jiwa)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama