BIKTSAL ISMUL FUSUK BA'DAL IMAN

 

وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya, "janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman". Q. S. Al-Hujarat/49: 11.

Memahami ayat ini mesti menggunakan sedikit nalar dan kontekstual. Penekanan yang dilarang di sini mencela orang lain dan memanggilnya dengan panggilan yang buruk. Ini harus dipahami kontekstual sesuai dengan posisi dan apa yang sedang dijalani.

Mencela di sini adalah memandang rendah orang lain, atau meremehkan pekerjaan orang lain, atau tidak menghargai usaha/pekerjaan/kebaikan orang lain. Sekecil apapun peran setiap kita harus dihargai. Dan jangan pernah mengukur usaha orang lain dengan uang, adapun upah merupakan relasi timbal balik saja sesuai tarafnya. Maksudnya, sekecil apapun keterlibatan orang lain tidak dapat diukur dengan materi/uang.

Kata memanggil dengan panggilan yang buruk melaqabkan orang lain dengan nama-nama yang tidak disukainya. Suka melaqabkan nama buruk terhadap orang lain muncul ketika kita mulai mencela dan meremehkannya. Kedua sifat ini sangatlah mudah didapatkan dalam lingkungan budaya masyarakat kita. 

Seterusnya, panggilan yang benar-benar harus dihandari adalah panggilan buruk (dosa) setelah mereka beriman. Artinya, setelah seseorang mempercayaimu atau seseorang mengamanahkan sesuatu padamu, maka jangan lakukan sesuatu yang tercela padanya. 

Pada  saat amanah kekuasaan diserahkan dan dipercayakan padamu, maka jangan engkau melakukan keburukan padanya, seperti fasiknya panggilan kepada seseorang setelah mereka beriman. Ketika seseorang percaya pada dirimu, jika kamu hendak disebut orang yang beriman maka sambutlah panggilan itu dengan baik, dan perlakukanlah orang tersebut dengan baik pula. 

Islam mengajarkan kebaikan harus dibalas dengan kebaikan yang lebih baik, atau kebaikan yang setara. Semua ini untuk  menjaga keseimbangan dalam berkomunikasi antar sesama manusia. Tuhan saja menghitung atas segala sesuatu apalagi manusia. Manusia akan menghitung baik buruk atas perkara yang berlaku padanya, sekecil apapun kebaikan dan keburukan itu.

Manusia akan mengingat hal-hal buruk dari kita, jika yang buruk saja diingat yang baik apalagi. Perhatikanlah hal ini dengan baik bahwa yang dilihat dari setiap pertemuan bukanlah senyum di awal, namun yang dikenang adalah pesona senyum terakhir. 

Ayat di atas jelas melarang untuk berkata buruk pada orang yang telah menancapkan iman dalam dirinya. Pengertiannya adalah jangan pernah engkau berkhianat atas orang yang telah mempercayaimu dalam bentuk kepercayaan apapun. 

Sekali engkau berkhianat atas kepercayaan-kepercayaan yang baik itu, maka engkau akan kehilangan seluruh kebaikan yang ada di muka bumi. Begitu sebaliknya, jika engkau menjaga kepercayaan itu, maka engkau akan mendapatkan kebaikan dari seluruh bumi.

Mendapatkan kepercayaan sangatlah mahal, memperolehnya kehadirannya harus diupayakan. Seseorang tidak akan mendapat kepercayaan dengan mudah, tapi sekali dipercaya selamanya akan mendapatkan kebaikan. Dan keberadaanmu akan dicari oleh banyak orang.

Kepercayaan yang paling utama adalah percaya bahwa Allah adalah Tuhan kita. Kepercayaan kepada Tuhan disebut dengan beriman. Kata iman juga sepadan dengan amanu atau amanah. Al-amin adalah gelar kepercayaan yang disanding oleh Nabi Muhammad sepanjang hidupnya.

Gelar ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat Muslim saja, namun juga populer pada kaum kafir Qurays saat itu. Dan modal utama dakwah beliau adalah menjaga amanah, dan ini menjadi salah satu sifat yang wajib ada pada Nabi, selain empat sifat lainnya yakni: shiddiq, tabligh, dan fathanah.

Bukankah dalam kehidupan sosial ketika kepercayaan sudah tidak adalagi pada diri, kita sudah kehilangan seluruh isi dunia ini. Apapun yang kita lakukan tidak akan mendapat respek yang baik dari orang-orang. Kondisi seperti ini tidak semata terkucilkan dari kehidupan, melainkan kita akan miskin dari segala hal, terutama sekali miskin kepercayaan, koneksi, dan relasi.

Persoalan yang melilit bangsa ini disebabkan kita sudah kehilangan kepercayaan (trustless) pada pemilik kuasa atas hak-hak rakyat. Keberadaan mereka sering menebar julukan buruk setelah amanah diberikan dalam berbagai level dan bentuk. Korupsi, kolusi, nepotisme, monopoli, curang, begal anggaran, dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk kefasikan yang dilakukan seseorang setelah orang-orang mempercayainya sebagai orang yang beriman.  

Jakarta, 29 April 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama