PIKIRAN CERDAS ITULAH JALAN YANG LURUS

Peringatan yang selalu diingatkan oleh khatib ketika berlangsungnya khutbah di hari Jumat adalah untuk bertaqwa. Dan ini merupakan rukun kutbah. Bahkan, seorang khatib tidak dianggap sah khutbahnya jika tidak membaca wasiat untuk bertaqwa kepada Allah Swt. Tentunya, wasiat takwa ini terutama sekali untuk para jamaah dan juga untuk khatib sendiri.

Allah Swt sebagai wujud mutlak menentukan keputusan-keputusan di bumi dalam berbagai bentuk. Keputusan Tuhan harus diterima oleh makhluk secara given. Apa pun yang Allah inginkan bisa saja terjadi. Keinginan Tuhan biasanya jauh lebih indah dari pada kemauan manusia.

Keputusan Tuhan dalam bentuk apa pun sebagai wujud kasih-sayang-Nya kepada penghuni alam semesta. Bahkan alam semesta itu sendiri adalah kasih sayang Tuhan yang pertama. Ketika kita berada di alam semesta ini kita sedang berada dalam pelukan Tuhan dalam makna khiasan.

Alam semesta yang begitu luas ini adalah wujud kasih-kasih sayang Tuhan, lalu bagaimana lagi dengan nikmat-nikmat yang banyak itu, yang mana kadang kala kita lupa menghitungnya. Alam semesta ini tanpa sertifikat kepemilikan, siapa pun boleh menikmatinya, sebab ia adalah kasih-sayang Tuhan kepada manusia.

Tetapi, manusia terkadang lupa dengan kasih-sayang itu, disaat kepemilikan yang sudah bersertifikat atas namanya, lalu ia lupa dari mana semua itu diperoleh. Tuhan, Maha Kaya atas semua yang ada, dan Tuhan juga Maha memperkaya hamba-hamba-Nya, “al-Ghaniyy al-Mughni” (Maha Kaya dan Maha Memperkaya).

Berbeda dengan manusia kaya tetapi belum tentu memperkaya orang lain. Bahkan, lebih buruk dari itu, kaya dengan memiskinkan orang lain, atau kaya dengan merampas hak-hak orang lain. Jika Tuhan Maha Kaya dan Maha memperkaya, maka manusia juga harus demikian, minimal mengankat derajat miskin sedikit sejahtera sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Ada pun status kepemilikan hanya sebagai hak pakai yang sifatnyam melekat disaat manusia masih hidup di dunia, jika sudah tiada maka semua itu dengan sendirinya akan berpindah tangan. Intinya, alam semesta adalah wujud kasih-sayang Tuhan yang mana siapa pun boleh menikmatinya secara gratis.

Tuhan tidak meminta balasan dan meminta apa pun dari apa yang sudah dinikmati oleh manusia, kecuali memerintahkan kepada untuk bersyukur atas nikmat-nikmat itu. Tuhan hanya meminta pada manusia untuk bersyukur. Bersyukur bermakna menerima dengan baik apa yang dinikmati secara given, dan apa yang diperoleh dari usaha tangan-tangan manusia itu sendiri.

Pada saat rasa syukur tumbuh dalam diri manusia, dikala itu pula manusia sedang bersama Tuhan dalam dimensi yang lain. Sebab, syukur itu sendiri juga sifat Tuhan. Ketika manusia mengadopsi sifat tersebut dalam dirinya, otomatis ia sedang bersama Tuhan atas nikmat-nikmat yang telah didapatkan.

Alam semesta sebagai derivasi wujud mutlak ketuhanan, maka rasa syukur itu sendiri juga sebagai sifat-Nya. Orang yang mampu bersyukur sebenarnya ia sedang bersama dengan Tuhannya. Karena itulah, Tuhan memberi perghormatan kembali kepada hamba yang bersyukur dengan menambah kembali nikmat-nikmat itu.

Manusia hanya diminta bersyukur pada manusia. Bukan berarti Tuhan melupakan kerja-kerja manusia yang lain. Terkadang, nikmat yang diperoleh manusia tidak terlepas dari peran-peran orang lain.

Pada saat kita mendapatkan nikmat melalui tangan-tangan manusia, di samping harus bersyukur pada Tuhan juga harus berterima kasih pada manusia. Jika saja berterima kasih pada manusia tidak bisa, jangan berharap kita akan mampu bersyukur pada Tuhan. Peran-peran manusia pada dasarnya adalah ridha Tuhan yang bekerja melalui sistem kesemestaan. Konsepnya adalah bersyukurlah pada Tuhan dan berterimakasihlah pada manusia.

Kegelapan dan terang/cahaya adalah dua hal yang berlawanan. Jalan kegelapan dituntun oleh syaithan, sementara jalan terang/cahaya dituntun oleh Tuhan. Manusia setiap saat diminta untuk berusaha menuju jalan yang terang/cahaya. Dalam bahasa ketuhanan, jalan terang/cahaya itu adalah jalan yang lurus. 

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Q. S. Al-Baqarah/002: 257.

Maka, senantiasa Tuhan memerintahkan manusia untuk meminta petunjuk ke jalan yang lurus. Oleh sebab itulah Tuhan menyuruh hambanya membaca surat al-fatihah di dalam shalat. Di samping sebagai syarat sahnya shalat, surat al-Fatihah berisikan doa-doa terutama sekali terkait dengan jalan yang lurus itu sendiri.

Jalan yang lurus menuju finish yang baik; yakni mati dalam husnul khaimah. Untuk mendapatkan husnul khatimah mesti menempuh jalan menghindari kegelapan. Kegelapan dalam berbagai hal di antaranya; kegelapan dalam bermuamalah transaksi keduniaan, seperti kedhaliman, kemunafikan, ketidak jujuran, dan berbagai bentuk kedhaliman lainnya terkait dengan transaksi keduniaan.

Ihdinash-shirath al-mustaqiim, tunjukilah kami jalan yang lurus. Ini adalah permohonan penting untuk dibaca di dalam shalat. Sebab, jalan yang lurus di sini juga bagian dari sistem kerja semesta dalam menuntun manusia menuju finish kehidupan. Dan juga bagian dari tanda-tanda keesaan Tuhan.

Manusia diperintahkan untuk membaca, sesuai dengan perintah pertama dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalu malaikat Jibril. Bacalah, terutama sekali membaca diri sendiri. Setelahnya, bacalah alam semesta dengan baik, sebab alam ini menyimpan berbagai macam rahasia. Baik rahasia yang nampak maupun yang masih tersembunyi. Semakin kemampuan membaca diasah semakin mudah manusia bersyukur atas nikmat-nikmat itu.

Fitrah manusia yang mengadopsi sifat-sifat binatang hanya meributkan soal makanan dan syahwat. Maka di sini fungsi akal sangatlah penting. Ada perbedaan yang mencolok antara akal dan petunjuk. Bicara akal adalah bicara Ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan hanya membangun pikiran. Semakin banyak pengetahuan maka semakin banyak pikiran-pikiran yang muncul. Berbeda dengan hidayah; ia bukanlah persoalan akal tetapi persoalan hati. Manusia tidak diberi kuasa untuk memberi hidayah atau petunjuk, sebab ini urusan Tuhan. Sebaik apa pun pengajaran yang diberikan kepada manusia tetap saja yang dibentuk adalah pikiran atau akal.

Berbeda dengan hidayah, ini pemberian Tuhan kepada manusia yang didudukkan di dalam qalbu. Maka, memohon jalah hidayah atau jalan petunjuk dalam berbagai wilayah sebagaimana tercantum dalam surat al-Fatihah adalah keharusan.

Bacaan al-Fatihah juga sinkron dengan doa yang dibaca saat duduk di antara dua sujud dalam shalat; “warzukni-wahdini”, dalam pengertian setelah diberi karunia berupa rizqi maka perlu juga diberi petunjuk atas rizqi-rizqi yang diperoleh, agar tidak salah mempergunakan rizqi-rizqi yang diperoleh. Rizqi yang dimaksud di sini bisa berupa harta benda, kesehatan, kekayaan, kelapangan, jabatan, kekuasaan, dan lain sebagainya.

Manusia yang memperturutkan hawa nafsunya, tidak melindasi akal berdasarkan landasan agama. Akal yang didasari agama akan menghilangkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, sehingga peran-peran kesemestaan akan terhindar dari tindakan-tindakan kedhaliman atas makhluk-makhluk yang ada di bumi.

Semoga saja, melalui pesan-pesan ini kita dapat melaksanakannya dengan baik. Allah Swt memberikan jalan petunjuk; yakni jalan-jalan yang lurus, yang dipikirkan, dan diteliti dari tanda-tanda kebesaran alam yang Allah Swt berikan. Serta ayat-aya Alquran dan hadis yang diterima dari Rasulullah, sehingga akal memberikan jalan petunjuk bagi kita; yaitu sebagai petunjuk yang lurus dari Allah Swt.

Jakarta, 9 Juni 2023






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama