KESADARAN AKAL MEMENEJ KELUARGA SAKINAH

 


Keistimewaan manusia diciptakan akal. Dan keistimewaan berikutnya posisi akal berada di atas, di dalam kepala. Di sini, adanya perbedaan antara otak/kepala dengan akal. Kepala atau otak harus dijaga dengan baik bentuknya fisiknya, dan akal harus diisi dengan ilmu. Akal dibentuk melalui lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal serta dari pengalaman hidup.

Menikah harus dimaknai sebagai anugerah Tuhan atas manusia. Tuhan menempatkan pikiran pada posisi paling tinggi, di atas kepala. Artinya, manusia harus berpikir dengan baik, berpikir bagaimana memahami tanggung jawab atas dirinya dan orang lain, lebih-lebih lagi pada istri yang telah dinikahi. Upaya tanggung jawab ini direalisasikan pada pemenuhan kebutuhan hidup.

Kebutuhan utama yang harus dipenuhi adalah makan dan minum. Sarananya terletak lebih rendah dari  letaknya akal yakni perut. Hikmah posisi akal terletak lebih tinggi dari yang lainnya bertujuan agar akal mudah mengurus dan mengatur sisi-sisi yang lebih rendah. Sesuatu yang sifatnya mengatur harus diletakkan pada tempat yang tinggi. 

Posisi akal dalam diri manusia sebagai pusat kesadaran dalam memenej sesuatu yang lain. Manusia jika hanya mengandalkan perasaannya ia akan lemah, jika hanya mengandalkan keinginannya ia akan brutal, jika hanya mengandalkan nafsunya ia akan seperti binatang, dan bahkan lebih rendah dari itu. Dan di situ akal penting, manusia mampu memenej diri dengan memanfaatkan akal sebagai pusat kesadarannya.

Menikah salah satu kesadaran akal dalam memenej nafsu. Manusia sebagai pemilik akal harus menjalaninya dengan baik, sebab menikah bukan hanya memenuhi kebutuhan batiniah melainkan juga memenuhi kebutuhan lahiriah. Kesadaran akal dalam pernikahan mesti mencapai pada kedua kebutuhan tersebut. Terntunya kebutuhan yang sesuai kadar serta kemampuan.

Kewajiban akal dibebankan pada suami untuk memenej keluarganya dengan baik, namun juga harus didukung oleh kesadaran akal wanita yang sudah dinikahi. Suami melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin dalam rumah tangga, sementara istri melaksanakan apa yang diperintah. Suami sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam keluarga wajib memperhatikan perintahnya agar tidak menyalahi kemampuan seorang istri untuk melaksanakannya.

Dari sini harus dimaknai bahwa kesadaran akal harus berfungsi pada segala hal yang menyangkut dengan sisi-sisi kehidupan. Sebagai pemimpin rumah tangga tidak semua harus dikuasai (mengontrolnya dengan baik) atas istrinya, kecuali menyangkut dengan hak-hak hidup atasnya; seperti memberi istri makan, menyediakan tempat tinggal, membeli pakaian, memberi ketenangan jiwa seperti heeling, berwisata, dan lain sebagainya.

Menyangkut dengan sisi-sisi kehidupan yang lain mesti diperhatikan sifat dan kondisinya. Sebab, sebagai manusia baik suami maupun istri memiliki budaya dan tradisi hidup yang berbeda-beda, hidup yang telah dijalani bersama keluarganya masing-masing. 

Memahami budaya masing-masing bagian menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Bahkan, tradisi hidup yang telah membudaya dalam diri dan keluarga seseorang seperti undang-undang yang baku dalam masyarakat, bukan berusaha untuk mengubahnya, apalagi berusaha untuk menghilangkannya.

Tradisi dan budaya hidup ini mesti dipahami berdasarkan kesadaran akal dari keduanya. Bukan hanya untuk keduanya saja, melainkan kesadaran akal ini harus dibangun untuk memahami keluarga besar antara istri dan suami.

Kesadaran akal dalam memahami hidup langkah awal membangun keharmonisan. Kerharmonisan sebuah bangsa diawali dari kebahagiaan yang dibangun dari keluarga. Membangun bangsa dipahami seperti membangun keluarga besar. Begitu juga sebaliknya, membina keluarga seperti membangun bangsa kecil. Di sinilah kita butuh kesadaran akal dalam memahami antara satu dengan yang lainnya untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Dengan membangkitkan kesadaran akal sebaik mungkin,  dengan harapan kebahagiaan akan dicapai. Selamat membangun keharmonisan dalam rumah tangga  untuk keduanya, Didin Wahidin, S.Sos dengan Nia Kurnia, SE. di Purnawarman Timur Purwakarta. Berbahagialah dengan sepenuh akal yang ada.

Purwakarta, 14 Agustus 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama

MEMBANGUN PERSAHABATAN ADALAH SUNNAH TERBAIK