TOKE RIZAL ABDYA: PROYEK MULTI-YEARS HARAPAN MASYARAKAT BARSELA DIGANJAL DPRA


Aceh sebagaimana diungkapkan oleh pelaku dunia usaha muda Barat Selatan (BARSELA), Toke Rizal Abdya, merupakan provinsi yang terbagi atas tiga wilayah yang meliputi wilayah Pantai Timur, wilayah Tengah dan Tenggara, serta wilayah Pantai Barat Selatan. Ketiga wilayah ini terpaut oleh bentangan sepanjang perairan laut, hutan, dan pegunungan. Setiap wilayah memiliki akses yang berbeda, tentunya berbeda pula fasilitas dan aksesnya. Dengan rentang jarak geografis ini, mempelambat akses ekonomi bagi masyarakat setempat jika jalan utama lintas Tengah tidak dihubungkan dengan baik. 

Berdasarkan fenomena tersebut, maka dengan ini, Toke Rizal  berharap kepada Bapak Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, untuk tidak mengikuti alur berfikir Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dalam melihat sepihak mengenai persolan ini. Menyangkut dengan percepatan pembangunan wilayah Aceh, tidak seharusnya Dewan Aceh membatalkan sepihak program multi-years yang telah terkonsepsi berdasarkan qanun.

Menurut Rizal, sebagai provinsi yang memiliki tingkat ketertinggalan paling terbelakang dari berbagai sektor, sehingga Aceh menurut informasi yang telah tersuguhkan merupakan provinsi yang memiliki indeks perkembangan paling rendah di Sumatra. Ini menjadi pertanyaan besar bagi kita semua, kenapa bisa menjadi wilayah tertinggal, bahkan termiskin di Sumatra. Menjawab permasalahan ini, tentunya para pemangku kekuasaan di Aceh harus melakukan terobosan besar dalam memetakan masa depan ekonomi masyarakat, dengan membuat jalur penghubung antar kabupaten di Aceh.

Mengingat Aceh sebagai provinsi yang mendapatkan Dana Otsus mencapai puluhan triliun yang dialokasikan sejak tahun 2006, dikucurkan pertahunnya untuk jangka waktu 20 tahun setelah undang-undang No. 11 tahun 2006 tentang pemerintah Aceh disahkan. Besaran dana otsus untuk tahun pertama sampai tahun ke-lima belas sebesar 2% dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) nasional. Dan kemudian pada sisa waktu berikutnya anggaran dikucurkan sebesar 1% dari DAU nasional.

Karena demikian, Ungkap Toke Rizal, kami berharap kepada Bapak Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, agar supaya meneruskan program muli-years yang sudah digagas. Rizal Abdya, penuh harap untuk tidak mempolitisir keranah politik gagasan proyek multi-years ini. Sebab, jika ini dipolitisir pada persoalan yang tidak begitu penting untuk dipertahankan. Dan asa ini, sepertinya tidak mungkin lagi kami berharap kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, yang sepertinya sudah menutup mata terhadap pembangunan Pantai Barat Selatan Aceh.

Berdasarkan perjalanan masa dimulainya pengalokasian dana otsus yang sudah memasuki penghujung tahun periode pertama. Tentunya asa masyarakat yang berharap proyek multi-years menjadi solusi pembangunan daerahnya,  menyesalkan adanya upaya dari Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, melalui paripurna, atas pembatalan sepihak proyek Multi-years yang sudah digagas oleh eksekutif. Pembatalan sepihak ini melukai asa masyarakat bagian Tengah, Tenggara, dan Selatan Aceh yang sangat berdampak dengan adanya program multi-years ini, dalam rangka membangun ruas jalan lintas yang akan menghubungkan gerak ekonomi antar kabupaten.

Menapaki jejak pembangunan Aceh dari masa ke masa, hal ini bisa dilihat wilayah Barat Selatan Aceh masih saja tertinggal dan terisolir. Seolah-olah wilayah Aceh Barat Selatan dianak tirikan oleh pemangku kekuasaan Provinsi Aceh. Setelah era Gubernur Bapak Ibrahim Hasan yang menggagas pembangunan bebas rakit pantai Barat Selatan, baru kini, semasa gubernur Nova Iriansyah gagasan pembangunan jalur lintas yang menghubungkan antar kabupaten kembali diprogramkan. Tentunya usaha ini menjadi harapan dan kabar baik bagi masyarakat BARSELA, Namun proyek multi-years yang digagas oleh gubernur terpilih tahun 2017 masih saja diganjal oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.

Harapan yang kembali digagas dalam merancang pembangunan Aceh wilayah BARESELA, tentunya harus dipahami sebagai bentuk kepedulian dan gerak cepat yang dilakukan oleh Gubernur Aceh membangun infrastruktur jalan penghubung untuk meningkatkan roda perekonomian Aceh, kususnya masyarakat Barat Selatan.

Selama ini telah terjalin hubungan transaksi ekonomi antar kabupaten Aceh bagianTengah dengan masyarakat Barat Selatan,  terkait dengan komoditas pertanian, bagaimana upaya masyarakat mengantarkan hasil pertaniannya untuk dipasok sebagai bahan kebutuhan dasar masyarakat. Transaksi ini tentunya jalan menjadi faktor penghambatnya. Dengan adanya program multi-years yang digagas oleh Pemerintah Aceh menjadi jalan keluarnya. Masyarakat Barat Selatan sangat menginginkan jalan lintas Tengah segera dibangun dengan proyek multi-years ini. Dengan demikian, sebuah tanda tanya besar kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang telah membatalkan sepihak.

Dewan Perwakilan Rakyat Aceh kok tega ??????????

Pertanyaannya, sampai kapankah wilayah Barat Selatan Aceh terisolasi? Menurut Toke Rizal Abdya, jawabannya sangat tergantung atas kebijakan Bapak Nova Iriansyah menerobos pengganjalan yang dilakukan oleh DPR Aceh. Tutup sosok pengusaha muda ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama