MENTOR YANG BERSAHABAT ITU BERNAMA Mr. FADHLI ALI


وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ
وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًا

Artinya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. Q. S. Al-Isra/111:


Bukti sejarah. Berkata Ikhwanul Muslimin. Mr. Fadhli Ali namanya. Kami memanggilnya dengan Abang fadhli, teman Sejawat antar generasi ini adalah politisi salah satu partai politik nasional, dan juga pengurusnya. Beliau dibesarkan sebagai aktivis, yang sa’at ini sangat gencar-gencarnya mengampanyekan terbentukanya provinsi baru di Aceh, provinsi ABAS (Aceh Barat Selatan), dan juga bergelut sebagai civitas politik, yang pernah mecalonkan diri menjadi orang nomor dua di Kabupaten Aceh Barat daya, berpasangan dengan Suryadi Razali. Namun dalam proses demokrasi gagal menuju kursi nomor satu, di Kabupaten Aceh Barat Daya.

Perjalanan politiknya tidak patah arang, pada pemilu tahun 2014 yang lalu beliau kembali mencalonkan diri menjadi calon legislatif Provinsi Aceh, Dapil Barat Selatan Aceh, dan langkah beliau juga terhenti menuju parlemen. Tidak berhenti di situ, pada pemilu tahun 2019 yang lalu, beliau juga mencalonkan kembali menjadi calon legislatif Provinsi Aceh melalui dapil Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang. Di sini langkah beliau juga terhenti. Begitulah perjalanan politik suami dari Dr. Iik Sumarni, (seorang istri yang sifat serta akhlaknya tidak kalah menarik dari suaminya. Sama seperti Mr. Fadhli Ali, welcome dengan kami adek-adek binaan suaminya). Mr. Fadh Ali yang sa’at ini sedang menyelesaikan Pendidikan Program Magister Ilmu Ekonomi di Pascasarjana Universitas Syiah Kuala. Dan juga mempunyai seorang menantu Kandidat Doktor dari salah satu warga negara Jerman.

Saksi sejarah. Ikhwanul Muslimin melanjutkan, Setelah menamatkan kuliah S1, saya pulang ke Abdya. Diantara kesibukan sebagai pengangguran, saya diajak oleh Kamaruzzaman kesalah satu kantor paskim BRR bagian perumahan saat itu. Kantor itu di kepalai oleh sosok yang sangat bersahabat, Bang Fadhli kami memanggilnya. Selain sebagai paskim, beliau juga mengomandani Aecost sebuah LSM lokal. Sebelumnya kami juga sudah pernah bertemu, beliau tidak asing dikalangan mahasiswa dengan ide, diskusi dan programnya. Saya merasa canggung kekantor tersebut karena belum kenal dekat. Namun Fadhli Ali sama sekali tidak menerima kami sebagai orang asing. Bahkan beliau langsung menawarkan program “sikula rakyat.” Sejurus saya tertegun dengan istilah yang beliau ajukan. Kemudian dia menjelaskan apa dan bagaimana program tersebut. Tanpa diskusi panjang saya dan Kamaruzzaman diperintahkan membuat rancangan biaya untuk acara dimaksud.

Melalui Aecost, saya didapuk sebagai project officer untuk menjalankan program yang dinamai “penguatan lembaga dan hukum adat.” Sebuah kepercayaan yang besar untuk orang yang baru dikenal. Namun itulah kelebihan bung Fadhli, dia bisa berbaur dengan generasi yang lebih muda. Bersama Ivandi Akmal, Irwansyah dan rekan-rekan aktivis lain kami terlibat diskusi bahkan sampai tengah malam. Beliau mengajarkan bagaimana merancang sebuah program, membuat TOR, bahkan bagaimana mengesekusi program yang telah dirancang. Beliau menampakkan teknik dalam menjadi fasilitator untuk FGD yang pesertanya tokoh adat. Bagaimana cara mengejar subtansi diskusi namun tanpa melupakan kearifan lokal yang penuh canda tawa dalam bertutur. Segala pernak pernik adat tuntas kami kejar dalam FGD tersebut. Mulai dari mukim,keujrun blang, seuneubok, aria peukan bahkan sampai dengan segala reusam digampong. Dua kali talk show radio yang disiarkan live dari Radio Fatali FM miliknya Helmi Sastra, kiranya menjawab kerinduan dan penasaran masyarakat tentang adat. Program tersebut diakhiri dengan loka karya yang menghadirkan lebih dari seratus orang tokoh adat dari seluruh Abdya.

Beberapa nama senior seperti Afdhal Jihad, Jufri Yusuf juga memberi warna dalam program tersebut. Kehadiran Teuku Daud Yuska dari Garda Madina Institute juga telah memberi nuansa dan genre yang berbeda dalam dunia pendampingan masyarakat. Seorang senior, Ilman Saputra pernah mengatakan kepada saya jika bekerja dengan bang Fadli kalian harus siap dengan manajemen emergency. Suatu istilah yang saya tidak mengerti saat itu. Namun saya segera paham, bahwa bekerja dengan Fadhli Ali kita harus siap dengan berbagai perubahan rencana sesuai dengan tuntunan lapangan. Spidol dan papan white bord akan selalu ada dalam setiap diskusi. Saya selalu mencoba memahami ide dan gagasan yang beliau bangun. Lulusan ekonomi pembangunan yang menerima berbagai teori untuk diuji, dia juga seorang lapangan yang kapan saja siap mengkonfrontir data. Rasanya terlalu sia-sia berjumpa beliau tanpa data dan berdebat. Sehat selalu Bang Fadhli Ali.

Sesuatu yang sangat berharga dari sikap yang diajarkan oleh beliau adalah bagaimana menjadi diri yang selalu welcome dengan orang lain. Tidak ada sifat mencurigai dan tidak ada ruang pemisah ketika beliau membangun komunikasi, walaupun dengan sahabat antar generasi. Membangun nilai persahabatan adalah peradaban yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., sejak berabad-abad yang lalu, ketika manusia masih dalam masa kegelapan. Tidak ada satu orangpun yang hidup bersama Nabi, tidak merasakan nilai-nilai persahabatan, termasuk orang yang menjadi pembantu di rumahnya seperti Abu Hurairah. Pembantu saja tercatat dalam sejarah, dan disebut sebagai sahabat dekatnya Nabi Muhammad saw.

Filosofi sahabat......sahabat tidak pernah mengkhianati sahabatnya dalam segala hal.

Mr. Fadhli Ali sudah mempraktekkan nilai-nilai persahabatan yang diajarkan oleh Nabi.........


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Masalah dengan Masalah

Meraih Gelar Doktor; Muchlinarwati Disabilitas yang Menginspirasi

Teuku Badruddin Syah: Membangun Politik Aceh Melalui Pikiran Ulama